HOME  ⁄  Nasional

Catatan Lama Mengungkap Ekek Keling Sunda sebagai Burung Bersuara Khas di Hutan Cibodas

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Catatan Lama Mengungkap Ekek Keling Sunda sebagai Burung Bersuara Khas di Hutan Cibodas
Foto: (Sumber :Burung Ekek Keling Sunda (Cissa Thalassina) dalam penangkaran di Taman Safari Indonesia. ANTARA/HO-Adi Marsiela.)

Pantau - Catatan ornitologi sejak 1886 hingga 1950 mengungkap kehidupan Ekek Keling Sunda (Cissa thalassina), burung khas pegunungan Jawa yang dikenal melalui suara keras “ekkek-keuling”, warna bulu mencolok, dan kebiasaannya hidup berkelompok di hutan lebat kawasan Cibodas, Cianjur, Jawa Barat.

Jurnal Ornitologi Kolonial Limosa pada 1950 mencatat keberadaan burung tersebut lebih mudah diketahui melalui suaranya dibandingkan penampakan tubuhnya yang kerap tersembunyi di antara pepohonan.

Burung yang juga dikenal sebagai Ekek Geling Jawa itu tercatat dapat diamati secara berkala di hutan primer dekat dan di atas kawasan yang saat itu disebut “Tjibodas”.

“Biasanya dalam kelompok yang terdiri dari beberapa individu serta menyertai kawanan burung campuran. Burung ini umumnya terlihat di tengah hutan lebat dan tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah, sering kali menarik perhatian melalui suara keras yang khas, yang mengungkap keberadaan mereka dari kejauhan,” demikian catatan jurnal tersebut.

Suara Ekek Keling Sunda digambarkan kasar dan parau berupa bunyi “ekkek” yang berulang serta “ekkek-keuling” yang kemudian menjadi dasar penyebutan nama lokal burung tersebut.

Catatan lama juga merekam variasi suara lain berupa “hie-tie-tjiet” yang diulang beberapa kali dengan nada sangat keras serta bunyi “truut-truut-truut” atau “ruut-uut”.

Selain karakter suaranya, jurnal tersebut mencatat Ekek Keling Sunda memangsa belalang, serangga, ulat berukuran besar, tonggeret besar, hingga kumbang.

Sarang burung itu biasanya ditemukan di hutan primer atau vegetasi lebat pada ketinggian sekitar tiga hingga enam meter dari permukaan tanah dengan bentuk menyerupai cawan berdiameter sekitar 15-17 sentimeter.

Dalam sekali bertelur, Ekek Keling Sunda tercatat hanya menghasilkan dua butir telur.

“Musim kawin dari burung ini pada Januari, April, dan Desember,” tulis catatan tersebut.

Arsip Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indie pada 1886 telah menyebut Ekek Keling Sunda sebagai salah satu burung paling indah di antara avifauna Jawa.

Burung tersebut memiliki bulu tubuh berwarna hijau-biru muda cerah dengan pita hijau mencolok pada kepala, perut, dan sisi tubuh serta perpaduan warna biru-hijau dan cokelat kemerahan pada bagian sayap.

Bulu ekornya berwarna biru kusam dengan tangkai hitam, sedangkan bagian wajah memiliki garis hitam lebar yang bermula di dekat sudut mulut, melingkari mata dan telinga, lalu memanjang hingga bagian belakang leher.

Catatan sejarah tersebut menunjukkan Ekek Keling Sunda telah lama menjadi bagian dari ekosistem hutan pegunungan Jawa dengan karakter utama berupa suara keras, warna bulu mencolok, dan habitat di tengah vegetasi lebat.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026