
Pantau - Ekek Keling Sunda atau Ekek-Geling Jawa (Cissa thalassina), burung endemik Jawa Barat yang dijuluki "Si Paruh Gincu", berada di ambang kepunahan akibat hilangnya habitat dan maraknya perburuan untuk perdagangan.
Burung yang memiliki tubuh dominan hijau dengan paruh dan kaki merah terang tersebut bahkan disebut sudah tidak dapat ditemukan lagi di habitatnya di kawasan Gunung Pangrango, Jawa Barat.
Ekek Keling Sunda saat ini berstatus Kritis atau Critically Endangered dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Perburuan Mengancam Populasi Ekek Keling Sunda
Penebangan hutan secara liar menjadi salah satu penyebab hilangnya habitat Ekek Keling Sunda, tetapi perburuan untuk diperdagangkan menjadi ancaman utama terhadap populasinya dalam satu dekade terakhir.
Bas van Balen, James Eaton dan Frank E. Rheindt dalam "Biology, taxonomy and conservation status of the Short-tailed Green Magpie Cissa [t.] thalassina from Java" menjelaskan bahwa Ekek Keling Sunda hidup di kawasan hutan dataran tinggi.
Habitat burung tersebut terutama berada di hutan montane dan submontane pada ketinggian sekitar 500 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut.
Keberadaan Ekek Keling Sunda sebelumnya pernah tercatat di sejumlah kawasan Jawa Barat, termasuk Gunung Halimun, Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango.
Si Paruh Gincu Memiliki Ciri Khas Mencolok
Ekek Keling Sunda memiliki panjang tubuh sekitar 31 hingga 33 sentimeter dengan ekor pendek berbentuk lurus dan berujung tumpul.
Burung tersebut memiliki mata dan paruh berwarna merah, tungkai relatif panjang, jambul hijau yang pendek, serta sayap lebih lebar dan panjang dengan motif yang tidak terlalu mencolok.
Burung ini dapat hidup sendirian, berpasangan, maupun bersama burung lain dengan makanan berupa kecoa, belalang, kumbang kecil, ulat dari kelompok Lepidoptera, serta diperkirakan memangsa vertebrata kecil lainnya.
Data mengenai perkembangbiakan Ekek Keling Sunda masih terbatas, tetapi musim berbiaknya diperkirakan berlangsung pada bulan-bulan basah sekitar Oktober hingga April dengan masa pengeraman telur kurang lebih 23 hari.
Ekek Keling Sunda juga berpeluang menjadi salah satu maskot Jawa Barat bersama surili dan macan tutul karena merupakan satwa endemik yang hanya ditemukan di wilayah tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



