
Pantau - Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau mengajak masyarakat memahami pentingnya menjaga rantai makanan harimau karena berkurangnya satwa buruan dapat mengganggu kelestarian harimau dan mendorong satwa tersebut masuk ke permukiman.
Tony menyampaikan hal tersebut dalam acara Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) yang digagas Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (Foksi) di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/8/2026).
"Bagaimana mau selamatkan harimau kalau rantai makanannya tak ada," kata Tony.
Tony menjelaskan babi hutan menjadi salah satu buruan harimau, tetapi satwa tersebut juga diburu manusia sehingga rantai makanan harimau terganggu.
Kondisi itu dapat membuat harimau masuk ke permukiman penduduk untuk memangsa hewan ternak atau peliharaan warga seperti ayam dan anjing.
"Kemudian harimau itu tertular penyakit dari anjing dan ayam," katanya.
Tony juga menyoroti perburuan babirusa dan anoa yang merupakan satwa endemik dan harus dilindungi.
"Ini juga sebagai dampak dari pemahaman masyarakat terhadap spesies yang dilindungi masih kurang," katanya.
Selain harimau, Tony menyoroti kondisi burung ekek sunda atau ekek geling jawa (Cissa thalassina) asal Gunung Pangrango, Jawa Barat, yang disebut sudah sulit ditemukan.
"Bisa dikatakan keberadaan burung ini sudah nyaris punah karena tidak bisa ditemukan lagi di Gunung Pangrango," kata dia.
Menurut Tony, perburuan terhadap burung endemik tersebut antara lain dilakukan untuk menjadikannya sebagai burung master yang digunakan melatih suara burung kicau lain.
Ekek sunda memiliki tingkat stres tinggi sehingga pemeliharaan sebagai burung master dapat berakhir dengan kematian.
"Burung ini stresnya cepat hingga nyawanya tidak lama setelah menjadi burung master," katanya.
Tony menekankan pemahaman masyarakat terhadap keterkaitan antarspesies dan perlindungan satwa diperlukan untuk menjaga kelangsungan ekosistem serta keberadaan satwa liar.
- Penulis :
- Gerry Eka




