HOME  ⁄  Nasional

Hetifah Sjaifudian Dorong Keselamatan Petugas dan Relawan Jadi Prioritas Utama Penanganan Karhutla

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Hetifah Sjaifudian Dorong Keselamatan Petugas dan Relawan Jadi Prioritas Utama Penanganan Karhutla
Foto: (Sumber :Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian. Foto: Sari/Karisma.)

Pantau - Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian mendorong pemerintah memperkuat standar keselamatan petugas dan relawan yang berada di garis depan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dorongan tersebut disampaikan Hetifah menyusul wafatnya Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Palangka, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Akhmad Rijani, setelah menjalani perawatan di rumah sakit usai bertugas menangani karhutla.

“Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak Akhmad Rijani. Beliau telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun untuk membantu masyarakat dan lingkungan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Pengabdian beliau patut kita hormati dan kenang,” ujar Hetifah melalui keterangan tertulis yang diterima pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Akhmad diketahui telah memimpin TSAK Palangka selama lebih dari 10 tahun dan masih menjalankan tugas di lapangan untuk mengecek kondisi setelah proses pemadaman sebelum kesehatannya menurun.

Keselamatan Personel Harus Masuk SOP Karhutla

Hetifah menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada upaya memadamkan api, tetapi juga harus menjamin keselamatan petugas dan relawan.

“Karhutla adalah bencana yang penanganannya membutuhkan keberanian dan ketangguhan para petugas serta relawan. Tetapi keberanian tidak boleh berarti mengabaikan keselamatan. Mereka juga harus mendapatkan perlindungan yang layak,” tegas legislator Daerah Pemilihan Kalimantan Timur tersebut.

Hetifah meminta pemerintah dan seluruh unsur penanggulangan bencana menerapkan standar keselamatan bagi setiap personel yang diterjunkan dalam penanganan karhutla.

Standar tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan sebelum bertugas, ketersediaan alat pelindung diri, kecukupan air minum dan kebutuhan dasar, waktu istirahat, dukungan tenaga medis, serta prosedur evakuasi apabila kondisi personel memburuk.

“Jangan sampai karena fokus mengejar api, kita lupa bahwa para petugas dan relawan juga manusia yang memiliki batas kemampuan fisik. Kalau ada yang sudah kelelahan atau kondisi kesehatannya menurun, harus ada mekanisme untuk menarik dan menggantinya. Keselamatan personel harus menjadi bagian dari SOP penanganan karhutla,” kata Hetifah.

Politisi Fraksi Partai Golkar itu juga meminta perlindungan terhadap relawan di tingkat kelurahan dan desa mendapat perhatian lebih serius karena mereka kerap menjadi unsur pertama yang bergerak ketika kebakaran terjadi.

“Mereka adalah bagian penting dari sistem penanggulangan bencana di tingkat masyarakat. Karena itu, jangan hanya meminta mereka turun ketika api muncul. Kita juga harus memastikan mereka mendapatkan pembekalan, perlengkapan, perlindungan kesehatan, dan dukungan yang memadai,” ujarnya.

Pencegahan Karhutla Diminta Diperkuat

Selain perlindungan personel, Hetifah mendorong penanganan karhutla lebih mengedepankan pencegahan dan kesiapsiagaan sehingga tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar.

“Semakin efektif kita mencegah karhutla, semakin kecil pula risiko yang harus dihadapi para petugas dan relawan. Pencegahan harus diperkuat, termasuk edukasi masyarakat, deteksi dini, kesiapsiagaan di tingkat desa dan kelurahan, serta respons cepat ketika titik api mulai muncul,” jelasnya.

Hetifah juga mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama ketika kondisi cuaca dan lahan rawan terbakar.

“Pengabdian almarhum harus menjadi pengingat bagi kita semua. Jangan biarkan para relawan terus mempertaruhkan keselamatannya karena kebakaran yang sebenarnya bisa dicegah,” pungkas Hetifah.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026