HOME  ⁄  Nasional

Museum NTB Konservasi 50 Keris Berusia Lebih dari 150 Tahun untuk Cegah Korosi

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Museum NTB Konservasi 50 Keris Berusia Lebih dari 150 Tahun untuk Cegah Korosi
Foto: Petugas konservasi merawat berbagai artefak senjata dari mulai keris hingga tombak di ruang laboratorium Museum NTB, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin 3/8/2026 (sumber: ANTARA/Sugiharto Purnama)

Pantau - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan konservasi terhadap sekitar 50 artefak senjata berupa keris pada bulan ini untuk mencegah kerusakan akibat korosi yang dapat mengancam keberlangsungan benda bernilai sejarah dan budaya tersebut.

Kasi Pengkajian dan Perawatan Koleksi Museum NTB Ardi Aulia Rahman mengatakan pihak museum terlebih dahulu melakukan pemeriksaan secara preventif terhadap kondisi koleksi sebelum memulai proses konservasi.

“Kami sudah memilah sekitar 50 senjata dalam bentuk keris yang menjadi bahan konservasi untuk target bulan ini,” ungkap Ardi.

Keris yang menjalani perawatan tersebut rata-rata telah berusia lebih dari 150 tahun sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan khusus dalam proses konservasi.

Konservasi Dilakukan Secara Preventif dan Kuratif

Perawatan koleksi artefak Museum NTB dilakukan melalui dua tahapan utama, yakni tindakan preventif dan kuratif.

Tindakan preventif dilakukan dengan memeriksa kondisi setiap koleksi untuk mengetahui potensi kerusakan sekaligus membersihkan berbagai kotoran yang menempel pada keris.

Sementara itu, tindakan kuratif dilakukan terhadap artefak yang telah mengalami korosi atau karat sehingga membutuhkan penanganan lebih serius.

Mayoritas artefak senjata berbahan besi memiliki kerentanan terhadap karat, sehingga kemunculan korosi menjadi salah satu indikator utama bagi tim laboratorium Museum NTB dalam menentukan koleksi yang membutuhkan konservasi.

Kondisi tempat penyimpanan dan tingkat kelembapan juga turut memengaruhi ketahanan artefak sehingga pemeriksaan koleksi dilakukan secara berkala.

“Tempat penyimpanan dan kelembapan turut mempengaruhi kondisi koleksi artefak. Kami lakukan pengecekan minimal dua tahun sekali,” kata Ardi.

Musim turut memengaruhi pelaksanaan konservasi karena artefak harus dipindahkan dari ruang penyimpanan yang terpisah dari museum menuju laboratorium untuk menjalani perawatan.

Proses pemindahan relatif lebih mudah dilakukan saat musim kemarau karena mobilitas membawa koleksi menuju laboratorium lebih memungkinkan.

Sebaliknya, hujan dan tingkat kelembapan yang tinggi membuat proses pemindahan maupun konservasi artefak menjadi lebih sulit.

Museum NTB Gandeng Komunitas Profesional

Museum NTB menggandeng komunitas profesional yang memiliki keahlian khusus untuk membantu konservasi koleksi senjata karena masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di bidang tersebut.

“Saat ini karena kondisi SDM kami kurang, kami bermitra dengan para komunitas profesional yang memiliki keahlian untuk melakukan perawatan khusus terhadap keris-keris tersebut,” ungkap Ardi.

Keterlibatan komunitas profesional tersebut diarahkan untuk membantu perawatan khusus terhadap keris yang masuk dalam kategori koleksi etnografi Museum NTB.

Secara keseluruhan, Museum NTB memiliki hampir 8.000 koleksi artefak, dengan sekitar 900 unit di antaranya berupa senjata berbagai jenis mulai dari keris, badik, hingga tombak.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026