
Pantau - Kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif pada Sabtu (5/9/2026) pagi dengan indeks kualitas udara atau AQI mencapai 113 berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.30 WIB.
Kondisi tersebut menempatkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk ke-13 di dunia pada waktu pemantauan.
Masyarakat dianjurkan menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara.
Kuching di Malaysia tercatat memiliki kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI 286, disusul Kinshasa di Kongo dengan 205 dan Kampala di Uganda dengan 159.
Pemprov DKI Siapkan Tiga Strategi Tekan Polusi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan tiga strategi utama untuk memperbaiki kualitas udara, salah satunya memperluas jangkauan layanan bus Transjabodetabek guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Perluasan tersebut mencakup layanan Blok M-Alam Sutera dan Blok M-PIK 2 serta rencana pembukaan rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi publik yang telah disediakan pemerintah daerah.
Pemprov DKI telah menerbitkan aturan mengenai layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.
Konektivitas transportasi Jakarta disebut telah mencapai 92 persen sehingga menempatkan ibu kota di peringkat ke-17 dunia dan kedua di ASEAN setelah Singapura.
Bus Listrik dan Pengolahan Sampah Jadi Andalan
Sektor transportasi saat ini disebut menyumbang 50 persen emisi gas buang di Jakarta sehingga Pemprov DKI menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030.
"Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu," kata Pramono.
Selain sektor transportasi, Pemprov DKI mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
Proyek fasilitas pengolahan sampah tersebut ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan 2026.
"Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta," tandasnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan




