HOME  ⁄  Nasional

Kunjungan Putri Mahkota Swedia Victoria Membuka Peluang UMKM NTB Menembus Pasar Eropa

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kunjungan Putri Mahkota Swedia Victoria Membuka Peluang UMKM NTB Menembus Pasar Eropa
Foto: Putri Mahkota Swedia Victoria didampingi Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal, Wagub Indah Dhamayanti Putri dan Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal melihat kain tenun wastra NTB di Bale Kita Komplek Masjid Hubbul Wathan Islamic Center Mataram, Sabtu 5/9/2026 (sumber: ANTARA/Nur Imansyah)

Pantau - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai kunjungan Putri Mahkota Swedia Victoria ke Bale Kita NTB di Mataram, Sabtu, menjadi momentum penting untuk mempercepat perkembangan industri kreatif dan membuka peluang produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal menembus pasar Eropa serta pasar internasional lainnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Lalu Wiranata mengatakan Putri Victoria mengunjungi Bale Kita sekaligus dalam kapasitasnya sebagai Duta United Nations Development Programme (UNDP).

UNDP selama ini menjalankan sejumlah program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di NTB, termasuk pembangunan fasilitas irigasi dan air minum serta pembinaan UMKM di Lombok Utara.

Salah satu kelompok yang mendapat pembinaan tersebut adalah petani mete di Lombok Utara yang kini mampu mengembangkan berbagai produk makanan berbahan dasar biji mete.

"Selain program fisik seperti irigasi dan air minum, UNDP juga membina UMKM, salah satunya petani mete di Lombok Utara. Sekarang petani di sana sudah bisa memproduksi banyak produk makanan dari biji mete," ujarnya usai mendampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dalam menerima kunjungan Putri Victoria di Bale Kita di Mataram, Sabtu.

Bale Kita Perluas Akses Pemasaran UMKM

Bale Kita berfungsi sebagai rumah besar untuk menampung sekaligus memperkenalkan berbagai produk UMKM dari seluruh wilayah NTB, termasuk produk pelaku usaha Lombok Utara yang mendapatkan dukungan UNDP.

Wiranata menyebut keterbatasan akses pemasaran menjadi salah satu persoalan yang selama ini banyak dikeluhkan pelaku UMKM, termasuk mereka yang menjadi binaan UNDP.

Pemprov NTB berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan membuka akses pemasaran melalui Bale Kita serta menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak untuk memasarkan produk di bandara dan kawasan Mandalika ketika penyelenggaraan MotoGP.

"Selama ini keluhan dari para UMKM termasuk binaan UNDP adalah pemasaran. Sekarang kita bukakan pintu pemasaran di Bale Kita. Selain ini kita juga kerja sama dengan sejumlah pihak untuk pemasaran seperti di bandara dan Mandalika saat MotoGP, sehingga lebih banyak pasarnya," terang Wiranata.

Menurut dia, cukup banyak UMKM di Lombok Utara yang memperoleh pembinaan dan pelatihan melalui program UNDP, dengan sejumlah produk dinilai berhasil meningkatkan kualitas dan naik kelas.

Mete menjadi salah satu komoditas unggulan NTB yang dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

Wiranata mengatakan Putri Victoria menyampaikan kebahagiaannya karena program UNDP memberikan dampak yang dapat dirasakan masyarakat hingga saat ini.

Pemprov NTB juga merasa terbantu dengan keberadaan program UNDP, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun pembinaan masyarakat.

"Mete ini salah satu produk dari NTB yang cukup besar, bahkan Putri Victoria mengaku bahagia program dari UNDP berdampak dan dinikmati oleh masyarakat sampai saat ini. Kami pun merasa terbantu dengan program UNDP ini (infrastruktur dan pembinaan) mereka, kita tinggal bantu naikkan kelasnya saja, kemasan dan jualan kita bantu sehingga ada nilai lebih," terangnya.

NTB Siapkan 100 hingga 200 Perajin Baru

Untuk mempercepat industri kreatif dan UMKM lokal memasuki pasar internasional, khususnya Eropa dan Swedia, Pemprov NTB tengah menyusun sejumlah langkah strategis yang akan diselaraskan dengan rencana program UNDP tahun depan.

Salah satunya berupa proposal pembinaan lanjutan yang berfokus pada pelatihan perajin, dukungan ketersediaan bahan baku, dan peningkatan kapasitas produksi.

Pemprov NTB berencana merangkul sekitar 100 hingga 200 perajin baru, terutama untuk memenuhi peningkatan permintaan terhadap kerajinan Ketak.

Menurut Wiranata, perajin Ketak yang tersedia saat ini mulai kewalahan memenuhi besarnya permintaan sehingga penambahan tenaga terampil diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

"Sekarang ini kita butuh tambahan perajin Ketak, karena permintaan tambah besar kewalahan perajin kita saat ini. Jadi, kita butuh tambahan 100 sampai 200 perajin kita usulkan ke UNDP untuk dibina," terang Wiranata.

Bale Kita saat ini menampung produk dari lebih dari 300 pelaku UMKM, tetapi keterbatasan ruang membuat produk mereka harus ditempatkan secara bergiliran.

Bagi UMKM yang telah memiliki sistem produksi berjalan, Bale Kita dapat memajang contoh produk sebagai sarana promosi sebelum meneruskan pesanan yang masuk kepada pelaku usaha untuk dipenuhi langsung dari tempat produksi.

"Yang sudah jalan tinggal ditaruh saja contoh produknya, bila ada pemesanan tinggal kita sampaikan untuk langsung ke tempat produksi UMKM," ujarnya.

Produk Lokal Disiapkan untuk Pasar Global

Pemprov NTB akan menonjolkan sejumlah komoditas unggulan untuk menarik pasar Eropa, antara lain mete olahan, kerajinan bambu, mutiara, dan wastra tenun.

Produk-produk tersebut juga akan disesuaikan dengan standar dan preferensi pasar global, antara lain melalui penggunaan pewarna alami dan material berbasis serat alam seperti serat nanas.

Pemprov NTB turut berkoordinasi dengan Balai Kemasan NTB untuk meningkatkan mutu kemasan produk melalui dukungan peralatan yang lebih mutakhir serta tim desainer.

Pembenahan kemasan diarahkan bukan hanya untuk memperbaiki tampilan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk UMKM di pasar yang lebih luas.

Pemerintah daerah juga mulai menyusun mekanisme pemesanan yang lebih responsif dan memanfaatkan pemajangan sampel produk sebagai bagian dari strategi pemasaran.

"Melalui peningkatan kualitas kemasan, serta perluasan akses pasar ini diharapkan mampu membawa produk lokal NTB naik kelas secara berkelanjutan," katanya.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026