HOME  ⁄  Nasional

Pakar Minta Warga Pantau Indikator Kualitas Udara saat Karhutla, Zona Merah Sebaiknya Tetap di Rumah

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pakar Minta Warga Pantau Indikator Kualitas Udara saat Karhutla, Zona Merah Sebaiknya Tetap di Rumah
Foto: Pengendara melintas di jalan lingkar selatan Palembang-Banyuasin yang tertutup kabut asap di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel), Rabu (2/9/2026).

Pantau - Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama meminta masyarakat menjadikan indikator kualitas udara sebagai acuan beraktivitas di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Informasi mengenai kualitas udara diperlukan agar masyarakat mengetahui kondisi udara berdasarkan kategori merah, kuning, atau hijau yang diperbarui secara berkala.

“Ada penjelasan dari pemerintah ke masyarakat di lokasi itu kadarnya berapa saat ini, sesuai dengan indikator yang ada,” ujar Tjandra, Sabtu (5/9/2026).

Menurut dia, kategori kualitas udara dapat menjadi pertimbangan masyarakat, sekolah, hingga pemerintah daerah dalam menentukan kegiatan di luar rumah.

“Kalau sudah merah ya jangan keluar rumah, itu pantes untuk sekolah dari rumah, kerja dari rumah. Tapi kalau yang masih kuning ya itu mungkin masih bisa dipertimbangkan tergantung juga apakah sekolahnya punya fasilitas yang cukup baik untuk membuat udara di dalam kelas itu cukup bersih,” kata dia lagi.

Warga Disarankan Gunakan Masker Berkualitas

Tjandra mengatakan indikator kualitas udara merupakan salah satu anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan informasi mengenai kadar polutan dari waktu ke waktu.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyarankan warga di daerah terdampak karhutla yang terpaksa beraktivitas di luar rumah menggunakan masker sesuai tingkat kepekatan asap.

Petugas pemadam kebakaran hutan disarankan menggunakan respirator dan bukan masker kain, sedangkan masyarakat yang harus pergi bekerja atau sekolah diminta memakai masker dengan kualitas sebaik mungkin.

“Jadi anjurannya ya pakai masker sebagus mungkin, kalau bisa N95 lebih bagus,” ujar dia lagi.

Tjandra juga mengimbau masyarakat mengurangi masuknya asap ke dalam ruangan dengan menutup akses yang memungkinkan udara dari luar masuk.

Penggunaan air purifier dapat dilakukan apabila perangkat tersebut sudah tersedia di rumah, tetapi masyarakat tidak harus membelinya karena efektivitas alat bergantung pada tingkat kepekatan asap.

“Kalau punya air purifier silakan gunakan, tapi bukan artinya semua orang di dalam ruangan mesti beli air purifier sekarang. Karena sekali lagi tergantung dari berapa pekatnya asap. Kita kan enggak tahu kemampuan air purifier itu bisa mengencangkan sedalam apa,” kata dia pula.

Kemenkes Catat Lebih dari 50 Ribu Kasus ISPA

Tjandra meminta masyarakat di wilayah darurat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk dan pilek.

Perhatian khusus diperlukan bagi kelompok rentan, antara lain lansia, anak-anak, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.

“Jadi jangan tunggu dua tiga hari karena di sekitar kita menit demi menit kan terisap asap itu. Hari ini ada keluhan hari ini berobat ke fasilitas kesehatan supaya apa yang mau dilakukan. Mereka yang sudah punya penyakit misalnya asma mesti sesuaikan obatnya,” ujar dia.

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 5,4 juta orang di tujuh provinsi terdampak karhutla pada 2026.

Tujuh provinsi yang menetapkan status siaga darurat karhutla adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan karhutla telah menimbulkan dampak kesehatan serius di sejumlah wilayah Indonesia.

"Data Kemenkes mencatat lebih dari 50 ribu kasus ISPA hingga akhir Agustus, dengan hampir 40 ribu di antaranya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, termasuk lansia," kata Imran.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026