
Pantau - Krisis kesehatan jiwa di Indonesia semakin terpetakan setelah Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) memeriksa kondisi mental 33 juta penduduk hingga Juli 2026 dan menemukan gejala depresi serta kecemasan pada anak usia sekolah dan remaja sekitar 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.
Data Kementerian Kesehatan yang dipaparkan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mencatat prevalensi gangguan jiwa berada pada kisaran 10 hingga 17 persen di seluruh kelompok usia.
Gangguan jiwa juga tercatat sebagai penyebab kedua menurunnya kualitas hidup produktif masyarakat Indonesia, lebih tinggi dibandingkan diabetes maupun penyakit kardiovaskular.
Kelompok usia 15 hingga 24 tahun tercatat memiliki prevalensi depresi tertinggi secara nasional dibandingkan kelompok usia lainnya.
Integrasi skrining kesehatan jiwa dengan layanan kesehatan primer membuat berbagai gejala yang sebelumnya tersembunyi dalam aktivitas sehari-hari dapat dikenali lebih dini.
Risiko Kesehatan Jiwa Pelajar Meningkat
Survei berbasis sekolah menunjukkan persentase siswa yang berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.
Pada periode yang sama, persentase siswa yang mencoba mengakhiri hidup meningkat dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen.
Kelompok usia 11 hingga 17 tahun tercatat memiliki temuan kasus tertinggi berdasarkan laporan yang diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Peningkatan temuan tersebut juga berkaitan dengan berkembangnya literasi kesehatan jiwa yang membuat generasi muda semakin terbuka dalam mengenali dan melaporkan gejala yang dialami.
Ribuan Puskesmas Layani Kesehatan Jiwa
Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 6.549 puskesmas kini mampu memberikan layanan kesehatan jiwa kepada masyarakat.
Sebanyak 1.450 rumah sakit juga telah menyediakan layanan kesehatan jiwa dengan dukungan 1.484 dokter spesialis jiwa yang tersebar di 324 kabupaten dan kota.
Pelayanan tersebut turut diperkuat 2.612 psikolog klinis yang tersebar di 311 kabupaten dan kota.
Meski kapasitas pelayanan bertambah, rasio psikiater nasional masih sekitar satu dokter untuk 200 ribu penduduk, sedangkan standar ideal Organisasi Kesehatan Dunia berada pada angka satu dokter untuk 30 ribu penduduk.
Kesenjangan tersebut mendorong penerapan pelayanan kesehatan jiwa secara berjenjang mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif agar penanganan tidak hanya bergantung pada tenaga spesialis.
- Penulis :
- Gerry Eka




