HOME  ⁄  News

Mabuk Perjalanan Bisa Picu Mual dan Muntah, Kenali Penyebab serta Cara Mengatasinya

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Mabuk Perjalanan Bisa Picu Mual dan Muntah, Kenali Penyebab serta Cara Mengatasinya
Foto: Ilustrasi - Mabuk perjalanan

Pantau - Mabuk perjalanan dapat dialami saat menggunakan mobil, kereta api, pesawat terbang, kapal, hingga melakukan perjalanan ke luar angkasa dengan gejala seperti pusing, berkeringat, mual, dan muntah.

Gejala mabuk perjalanan dapat muncul hanya dalam beberapa menit setelah seseorang merasakan gerakan dan bisa bertahan selama beberapa jam setelah gerakan berhenti.

Kondisi tersebut biasanya diawali dengan tubuh terasa hangat, berkeringat, pusing, sakit kepala, atau kelelahan sebelum berkembang menjadi mual hingga muntah.

Konflik Indra Diduga Memicu Mabuk Perjalanan

Para ilmuwan belum mengetahui secara pasti penyebab mabuk perjalanan, tetapi salah satu teori menyebut kondisi itu muncul akibat konflik informasi yang diterima oleh sejumlah indra tubuh.

Ahli neurosains kognitif Universitas Brandeis Paul DiZio mencontohkan seseorang yang membaca di dalam mobil akan melihat halaman dalam kondisi diam, sedangkan telinga bagian dalam mendeteksi tubuh sedang bergerak.

Teori lain menyebut mabuk perjalanan terjadi karena ketidaksesuaian antara gerakan yang diperkirakan otak akan dideteksi oleh indra dengan kondisi yang sebenarnya dirasakan.

"Anda membangun model kecil di otak anda tentang bagaimana rasanya dan anda akan sakit jika apa yang dirasakan tidak sesuai dengan prediksi tersebut," kata DiZio.

Anak-anak umumnya lebih rentan mengalami mabuk perjalanan dibandingkan orang dewasa, sementara sejumlah penelitian menunjukkan perempuan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Sebuah studi memperkirakan faktor genetik menyumbang sekitar 57 persen hingga 70 persen terhadap kerentanan seseorang mengalami mabuk perjalanan.

Ahli neurologi vestibular Fakultas Kedokteran Universitas Stanford Dr. Kristen Steenerson menyebut mabuk perjalanan juga dapat terjadi pada orang yang mengalami migrain, terutama migrain vestibular.

Obat hingga Posisi Duduk Bisa Membantu Mencegah Gejala

Steenerson menyampaikan obat yang dijual bebas, termasuk antihistamin seperti Dramamine dan Bonine, dapat membantu tetapi perlu diminum sebelum perjalanan dimulai serta berpotensi menimbulkan efek samping berupa kantuk.

Skopolamin dalam bentuk plester yang digunakan di belakang telinga juga dapat membantu sebagian orang, tetapi berpotensi menyebabkan mulut kering dan tidak direkomendasikan untuk anak-anak maupun orang lanjut usia.

Pengendara dapat mengurangi risiko mabuk perjalanan dengan menyetir sendiri atau duduk di bagian tengah mobil sambil tetap memperhatikan kondisi jalan.

Ahli THT di NYU Langone Health Dr. Erich Voigt merekomendasikan penumpang berada di bagian tengah pesawat atau di atas dek kapal sehingga dapat melihat cakrawala.

Pernapasan terkontrol, menghirup udara segar, mendengarkan musik yang menyenangkan, serta mencium aroma seperti mawar atau lemon juga disebut dapat membantu mengurangi gejala.

Bukti mengenai efektivitas jahe dan sejumlah suplemen masih beragam, sedangkan sebagian besar penelitian menunjukkan gelang akupresur serta kacamata antimabuk perjalanan tidak memberikan manfaat lebih besar dibandingkan plasebo.

Orang yang terus mengalami mabuk perjalanan hingga mengganggu aktivitas dapat berkonsultasi dengan terapis fisik yang memiliki spesialisasi neurologi atau rehabilitasi vestibular untuk mengidentifikasi pemicu serta meningkatkan toleransi terhadap gerakan.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026