
Pantau - Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Lucia Rizka Andalucia menegaskan penguatan ekosistem uji klinis di Indonesia diperlukan untuk mempercepat akses masyarakat dan pasien terhadap obat-obatan serta vaksin inovatif.
Lucia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Annual Meeting IASMED 2026 di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Lucia, uji klinis tidak semata-mata menjadi kegiatan penelitian untuk menghasilkan produk yang kemudian dikomersialkan, tetapi juga berperan dalam membuka akses lebih cepat terhadap inovasi pengobatan.
“Uji klinis itu bukan hanya sekedar riset yang nantinya akan menjadi suatu produk komersial, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita mempercepat akses masyarakat kita, pasien kita terhadap obat-obatan inovatif maupun vaksin,” ujar Lucia.
Cegah Indonesia Hanya Menjadi Pasar Obat
Lucia menjelaskan kemampuan menjalankan uji klinis dengan baik menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk obat-obatan dan vaksin.
Dengan kemampuan uji klinis yang kuat, Indonesia diharapkan dapat mengambil peran lebih besar sebagai inovator maupun pengembang obat dan vaksin.
Sebaliknya, Indonesia berisiko terus tertinggal apabila tidak mempunyai kemampuan yang memadai untuk menyelenggarakan uji klinis.
“Kalau kita tidak mampu melakukan uji klinis dengan baik, kita akan ketinggalan terus. Kita hanya akan menjadi pasar buat obat-obatan. Kita tidak bisa menjadi inovator atau pengembang obat-obatan dan vaksin,” ujarnya.
Lucia mengatakan peningkatan kapasitas pelaksanaan uji klinis perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan rumah sakit, peneliti, dan masyarakat.
“Dengan kegiatan-kegiatan seperti ini (Annual Meeting IASMED), kita akan meningkatkan kemampuan uji klinis di rumah sakit, kemudian juga peneliti, dan yang paling penting adalah juga keterlibatan masyarakat,” katanya.
Annual Meeting IASMED 2026 menjadi forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem uji klinis Indonesia, mulai dari regulator, akademisi, rumah sakit, industri farmasi, Contract Research Organization (CRO), hingga profesional di bidang uji klinis.
Forum tersebut diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan sekaligus mendorong pengembangan teknologi kesehatan dan ekosistem uji klinis di Indonesia.
Uji Klinis Buka Jalan bagi Pengobatan Baru
Lucia mengatakan uji klinis juga dapat menjadi jalan untuk menemukan alternatif pengobatan baru bagi pasien, terutama ketika pilihan terapi atau obat yang tersedia sudah tidak memadai.
Dalam kondisi tersebut, pengembangan obat inovatif melalui uji klinis diperlukan untuk menghadirkan pilihan terapi baru.
“Kadang-kadang kita dihadapkan pada kondisi suatu penyakit yang tidak ada lagi obatnya. Sehingga kita perlu obat baru yang inovatif tadi. Nah, dari mana obat baru itu ditemukan? Ya, melalui uji klinis,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar juga mendorong penguatan ekosistem uji klinis dengan mengajak industri farmasi dalam dan luar negeri terlibat dalam pengembangannya di Indonesia.
Keterlibatan industri farmasi dinilai penting untuk mendukung kemandirian Indonesia di bidang obat-obatan dan alat kesehatan, terlebih penyelenggaraan uji klinis membutuhkan biaya besar.
“Uji klinis itu tidak murah, mahal. Oleh karena itu, kita juga memfasilitasi industri-industri farmasi, baik yang dari dalam negeri maupun yang dari luar negeri, untuk bergabung mengembangkan diri di Indonesia,” ujar Taruna.
Taruna menambahkan Indonesia memiliki berbagai sumber daya untuk menunjang penyelenggaraan uji klinis, termasuk fasilitas penelitian dan beragam kasus yang dapat menjadi objek penelitian klinis.
- Penulis :
- Shila Glorya




