
Pantau - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat standardisasi Tim Medis Darurat atau Emergency Medical Team (EMT) dan tata kelola Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit untuk meningkatkan respons terhadap krisis kesehatan akibat tingginya frekuensi bencana di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan penguatan EMT berstandar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperlukan agar tenaga medis siap memberikan pelayanan ketika bencana terjadi di berbagai wilayah.
“Indonesia menempati peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan jumlah bencana terbanyak. Merespons hal ini, kita harus memiliki EMT berstandar WHO, mulai dari Level 1 hingga Level 2, yang tersebar secara geografis dan terintegrasi dengan kriteria akreditasi RSUD di tiap pulau,” kata Budi di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Hingga September 2026, Kemenkes mencatat sebanyak 52 krisis kesehatan akibat bencana alam telah terjadi di Indonesia.
Kemenkes menyiagakan 38.418 Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) secara nasional untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai kondisi darurat.
Kementerian juga terus memfasilitasi sertifikasi EMT berstandar WHO, termasuk standar yang telah dicapai tim MDMC Muhammadiyah.
Kemenkes Reformasi Tata Kelola IGD
Selain memperkuat layanan medis di lokasi bencana, Kemenkes melakukan reformasi tata kelola IGD dengan mempercepat alur pelayanan bagi pasien dalam kondisi kritis.
Pemerintah mendorong pasien kritis dapat segera masuk ke ruang perawatan atau ICU tanpa terhambat birokrasi internal rumah sakit.
Penyederhanaan layanan mencakup penataan sistem pendidikan residen atau PPDS di IGD, pengelolaan ranjang kritis secara terpusat melalui sistem one gate, serta pemenuhan fasilitas dasar seperti monitor pasien.
Kemenkes juga mengkaji ulang tarif INA-CBGs agar lebih adil bagi tenaga medis gawat darurat yang bekerja di lini terdepan.
“Targetnya, waktu tunggu pasien gawat darurat dapat ditekan seoptimal mungkin,” kata Menkes Budi.
Indonesia Masih Kekurangan Dokter Spesialis Gawat Darurat
Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) Wishnu Pramudito menilai IGD menjadi salah satu bagian penting yang mencerminkan kualitas pelayanan kesehatan Indonesia.
“Para tenaga medis darurat (emergenciers) dituntut memiliki mentalitas seperti pasukan khusus (special force). Mereka harus mampu mengantisipasi lebih cepat dan mengambil keputusan presisi. Kami menargetkan dalam 10 tahun ke depan, standar pelayanan IGD kita bisa setara dengan kota-kota besar dunia seperti New York atau London,” kata Wishnu.
Transformasi layanan tersebut masih menghadapi tantangan keterbatasan dokter spesialis gawat darurat karena Indonesia saat ini baru memiliki 66 dokter dari kebutuhan ideal sebanyak 1.034 orang.
Melalui Symposium On Emergency (SOE) 2026, peningkatan kapasitas tenaga medis dilakukan melalui pelatihan teknis, antara lain resusitasi jantung paru atau CPR lanjutan dan asesmen stroke cepat.
PDEI juga mendorong edukasi pertolongan pertama dasar bagi masyarakat awam masuk ke kurikulum sekolah karena rantai keselamatan atau chain of survival kerap ditentukan pada menit-menit pertama setelah kondisi darurat terjadi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




