
Pantau - Pakar Komunikasi dan Terorisme Universitas Tadulako (Untad) Palu Prof Muhammad Khairil menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan terhadap anak yang terpapar radikalisme menyusul temuan 18 anak yang terindikasi terpapar paham tersebut di Sulawesi Tengah.
"Membina orang terjerumus paham radikal tidak cukup hanya dengan dialog, perlu pendekatan dengan paradigma untuk mengubah pola pikir mereka yang sudah telanjur radikal," kata Muhammad Khairil di Palu, Rabu (9/9/2026).
Khairil mengatakan pendekatan persuasif melalui proses pembinaan berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk mengembalikan pola pikir anak yang telah terpapar paham radikal.
Menurut dia, apabila doktrin radikalisme telah memengaruhi perilaku, normalisasi cara pandang dan tindakan perlu dilakukan melalui program yang terencana, terpadu, sistematis, dan berkesinambungan.
"Banyak faktor memengaruhi orang berubah haluan ke arah yang negatif, karena ideologi radikal dapat mengarah pada tindakan terorisme bila tidak dilakukan pencegahan secara dini," ujarnya.
Media Sosial Dinilai Menjadi Ruang yang Perlu Diwaspadai
Khairil menilai adanya belasan anak yang terindikasi terpapar paham radikal tidak terjadi secara kebetulan karena terdapat pihak tertentu yang secara sistematis menjalankan misi memengaruhi maupun merekrut orang dengan memanfaatkan berbagai peluang.
Ruang media sosial dan keterbukaan informasi menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mencegah penyebaran paham ekstrem kepada anak.
"Di sini lah peran pemerintah, lembaga pendidikan, pemangku kepentingan maupun orang tua memberikan perhatian. Paling penting adalah menunjukkan dan memberikan keteladanan kepada anak bahwa ujaran kebencian itu sesuatu yang negatif," tutur Khairil.
Ia menyebut moderasi beragama sebagai salah satu cara menangkal masuknya paham ekstrem di tengah kehidupan sosial masyarakat seiring masifnya arus informasi di ruang publik.
Sekolah dan Orang Tua Diminta Aktif Melakukan Pencegahan
Khairil mengatakan pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan di lingkungan pendidikan, termasuk mendorong kepala sekolah dan guru agar mampu mengidentifikasi perubahan pola perilaku anak.
Pencegahan di perguruan tinggi juga dinilai perlu diperkuat dengan menyisipkan pesan moderasi beragama dalam kegiatan pembelajaran dan perkuliahan.
"Perlu muatan pluralisme maupun cara beragama dengan sejuk dan damai disisipkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Dari sisi orang tua juga perlu mengontrol aktivitas maupun pergaulan anak, cara-cara seperti ini salah satu metode menghindarkan anak terpapar paham yang ekstrem," ucap Khairil.
Sebelumnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menemukan 18 anak yang terindikasi terpapar radikalisme di Sulawesi Tengah.
DP3A bersama Densus 88 Antiteror Polri hingga kini melakukan pembinaan terhadap belasan anak tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




