HOME  ⁄  Nasional

Krisis Air Mengancam Indonesia, Kemarau Panjang Tekan Sumur hingga Sungai

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Krisis Air Mengancam Indonesia, Kemarau Panjang Tekan Sumur hingga Sungai
Foto: (Sumber :Sejumlah warga mengambil air dari belik yang dibuat di dasar sungai yang mengering di Dusun Ngedat, Desa Ketro, Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (13/8/2026). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/kye.)

Pantau - Krisis air semakin nyata di berbagai wilayah Indonesia seiring kemarau panjang yang menyebabkan sumur mengering, debit mata air dan sungai menyusut, serta meningkatkan tekanan terhadap cadangan air tanah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi 451 zona musim atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan musim kemarau di bawah normal pada 2026.

Durasi musim kemarau juga diperkirakan lebih panjang dibandingkan kondisi normal di 400 zona musim, dengan puncak kemarau terutama berlangsung pada Juli hingga September.

Dampak kekeringan telah muncul di sejumlah daerah seperti Sragen, Bolaang Mongondow Utara, Jember, Seram Bagian Timur, Bogor, dan Klaten dengan jumlah warga terdampak mencapai ribuan hingga puluhan ribu jiwa.

Penggunaan Air Tanah Perlu Dikendalikan

Sumur bor menjadi salah satu alternatif ketika sumur timba dan sumber air permukaan mengering, tetapi pemanfaatannya perlu memperhitungkan kemampuan akuifer untuk mengisi kembali cadangan air.

Pengambilan air tanah yang berlangsung lebih cepat dibandingkan proses pengisian alami berpotensi menyebabkan penurunan muka air tanah.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan pemanfaatan air tanah perlu mempertimbangkan keseimbangan lingkungan dan tidak melampaui kemampuan pengisian kembali.

Pengambilan air tanah secara berlebihan dalam jangka panjang juga berpotensi berkontribusi terhadap penurunan muka tanah dan masuknya air asin di kawasan pesisir.

Pembangunan sumur bor berkapasitas besar karena itu perlu didahului kajian hidrogeologi, penghitungan debit aman, pemetaan kondisi akuifer, serta pendataan jumlah sumur yang telah beroperasi.

Upaya tersebut juga perlu dibarengi konservasi melalui perlindungan kawasan resapan, penanaman pohon, pembangunan sumur resapan dan embung, serta pemanenan air hujan.

"Prinsipnya sederhana, semakin besar air yang diambil, semakin serius pula upaya menjaga air agar kembali tersimpan di dalam tanah," tulis Misbakhul Munir dalam telaahnya.

Kekeringan Berdampak hingga Ekonomi dan Karhutla

Tekanan terhadap sumber air juga terjadi di wilayah pegunungan karena perubahan tutupan lahan, berkurangnya daerah resapan, kemarau panjang, dan meningkatnya konsumsi dapat memengaruhi kemampuan kawasan mempertahankan debit mata air.

Di wilayah hilir, penyusutan debit sungai tidak hanya mengurangi ketersediaan air, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan transportasi.

Rendahnya permukaan sejumlah sungai di Kalimantan, misalnya, menghambat pergerakan tongkang pengangkut batu bara serta mengganggu pengiriman bahan bakar minyak melalui jalur sungai.

Kondisi lahan yang semakin kering turut meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan dengan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat menjadi enam provinsi prioritas penanganan menurut BNPB.

Krisis air membuat penanganan kebakaran semakin berat karena proses pemadaman membutuhkan air dalam jumlah besar ketika sumber air di sekitar lokasi justru menyusut.

Penyimpanan Air Jadi Kunci Ketahanan Jangka Panjang

Menghadapi kondisi tersebut, pengelolaan air dinilai tidak cukup dilakukan dengan terus menambah sumber pengambilan baru.

Perlindungan hutan dan daerah tangkapan air, pemeliharaan kawasan resapan, pembangunan embung dan sumur resapan, pemanenan air hujan, serta pengendalian penggunaan air tanah menjadi bagian penting untuk menjaga ketahanan air.

"Pertanyaannya bukan semata-mata seberapa dalam manusia harus mengebor tanah untuk mendapatkan air, tetapi seberapa serius kita menjaga agar air hujan tetap tersimpan di dalam tanah," tulis Misbakhul Munir.

"Menghadapi kemarau panjang tidak cukup hanya dengan mencari air lebih dalam. Indonesia juga harus belajar menyimpan air lebih lama."

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026