HOME  ⁄  Nasional

Qodari Nilai Buku Juru Bicara Relevan dengan Tugas Bakom Mengorkestrasi Komunikasi Pemerintah

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Qodari Nilai Buku Juru Bicara Relevan dengan Tugas Bakom Mengorkestrasi Komunikasi Pemerintah
Foto: Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari memberikan sambutan pada acara peluncuran buku "Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi" di Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat 11/9/2026 (sumber: ANTARA/Livia Kristianti)

Pantau - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menilai buku Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi relevan dengan tugas Bakom dalam mengorkestrasi komunikasi kebijakan dan program strategis pemerintah.

Qodari mengatakan buku karya praktisi komunikasi sekaligus Direktur Utama LKBN ANTARA Benny Siga Butar Butar bersama Marlinda Irwanti Poernomo tersebut tidak secara langsung menyebut Bakom, tetapi substansinya menggambarkan pekerjaan lembaga itu.

"Buku ini ditulis tanpa menyebut Bakom sama sekali, tetapi sangat menggambarkan apa yang sedang dikerjakan oleh Bakom," kata Qodari saat peluncuran buku tersebut di Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat.

Menurut Qodari, buku tersebut memberikan kerangka mengenai peran juru bicara pemerintah yang sejalan dengan tugas Bakom sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2025.

Juru Bicara Diibaratkan sebagai Dirigen

Qodari menjelaskan Bakom memiliki tugas mengorkestrasi komunikasi kebijakan dan program strategis pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah dengan turut membangun kerja sama erat bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Ia menilai analogi pemerintah sebagai sebuah orkestra yang digunakan dalam buku tersebut sesuai dengan kebutuhan komunikasi pemerintah.

Dalam analogi tersebut, kepala pemerintahan diibaratkan sebagai komposer yang menyusun visi dan kebijakan, sedangkan para menteri serta kepala lembaga memainkan instrumen masing-masing sesuai tugasnya.

Sementara itu, juru bicara diibaratkan sebagai dirigen yang menyatukan komunikasi agar berbagai pesan pemerintah dapat disampaikan secara harmonis kepada masyarakat.

"Buku ini membantu menjelaskan kenapa istilah orkestrasi itu memang tepat," kata Qodari.

Qodari juga menyoroti pembahasan mengenai tata kelola kelembagaan kantor juru bicara, termasuk pentingnya kemitraan antara juru bicara pemerintah pusat dan bagian hubungan masyarakat di kementerian.

"Hubungan antara juru bicara pusat dan humas kementerian harus dibangun sebagai kemitraan, bukan dalam hubungan birokratis yang kaku," ujarnya.

Menurut Qodari, prinsip kemitraan tersebut tengah dibangun dalam pelaksanaan tugas Bakom, termasuk ketika pemerintah menangani komunikasi mengenai isu lintas sektor.

Erupsi Anak Krakatau Jadi Contoh Koordinasi Lintas Sektor

Qodari mencontohkan komunikasi pemerintah terkait erupsi Gunung Anak Krakatau yang melibatkan sejumlah kementerian karena dampaknya mencakup berbagai sektor.

Bakom menggelar tiga konferensi pers untuk menyampaikan informasi mengenai penanganan dan dampak erupsi tersebut kepada masyarakat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dihadirkan untuk menjelaskan antisipasi dampak kesehatan akibat abu vulkanik, sedangkan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memberikan keterangan mengenai dampaknya terhadap sektor transportasi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto juga memberikan penjelasan mengenai proses pembelajaran.

Pelibatan sejumlah menteri tersebut menjadi contoh koordinasi komunikasi lintas sektor agar masyarakat memperoleh informasi sesuai bidang yang terdampak.

Pemerintah Harus Aktif di Ruang Informasi

Qodari mengatakan salah satu tesis utama buku tersebut menempatkan juru bicara bukan hanya sebagai penyampai pesan, tetapi juga aktor strategis yang berperan membentuk persepsi dan menjaga kepercayaan publik.

Menurut dia, fungsi tersebut semakin penting seiring perubahan lanskap komunikasi karena masyarakat kini memperoleh informasi melalui berbagai kanal, mulai dari media konvensional, media sosial, hingga platform video.

Karena itu, pemerintah dinilai harus aktif hadir di ruang informasi dengan menyampaikan data dan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

"Ketika negara tidak menjelaskan, tidak tampil dengan data, tidak tampil dengan informasi, maka akan selalu ada pihak lain yang akan menjelaskan versi mereka," ujarnya.

Qodari menegaskan komunikasi pemerintah bukan semata-mata bertujuan memperoleh pujian, melainkan memastikan kebijakan dan program pemerintah dapat dipahami masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan publik.

"Negara berbicara bukan supaya dipuji, negara berbicara supaya dimengerti dan sesuatu yang dimengerti jauh lebih mungkin untuk dipercaya," katanya.

Pengalaman Penulis Dinilai Lengkapi Perspektif Buku

Dalam kesempatan tersebut, Qodari turut mengapresiasi Marlinda Irwanti Poernomo dan Benny Siga Butar Butar yang dinilainya memiliki pengalaman dari dua sisi dalam dunia komunikasi.

Marlinda memiliki latar belakang di bidang akademik, politik, dan penyiaran, sedangkan Benny mempunyai pengalaman lebih dari 20 tahun dalam jurnalistik, komunikasi korporasi, dan pemerintahan.

Menurut Qodari, kombinasi pengalaman tersebut membuat buku itu menghadirkan perspektif yang lengkap mengenai pekerjaan juru bicara pemerintah karena kedua penulis pernah berada dalam posisi memberikan jawaban sekaligus mengajukan pertanyaan.

"Artinya bapak ibu sekalian, buku ini ditulis oleh dua orang yang pernah berada di dua sisi meja, saya ulangi, pernah berada di dua sisi meja. Di satu sisi ditanya, di sisi lain bertanya. Jadi ini perspektif yang sangat lengkap, yang sangat berharga, apalagi temanya adalah juru bicara pemerintah," ucapnya.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026