HOME  ⁄  Nasional

Muhammadiyah Usung Semangat Persatuan Bangsa dalam Tanwir dan Milad ke-114 di Palu

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Muhammadiyah Usung Semangat Persatuan Bangsa dalam Tanwir dan Milad ke-114 di Palu
Foto: (Sumber :Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (tengah) saat acara peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 di Kantor PP Muhammadiyah, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso.)

Pantau - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah akan menggelar Tanwir dan Milad ke-114 di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dengan mengusung tema "Bersama Satukan Bangsa" sebagai upaya menyikapi dinamika sosial dan politik dengan berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan tema tersebut berpijak pada semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal untuk menjaga persatuan di tengah keragaman masyarakat Indonesia.

"Secara normatif dan realitas kita memang punya modal besar untuk terus bersatu dalam keragaman dan Bhinneka Tunggal Ika," katanya di Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Haedar, prinsip tersebut menjadi modal dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial maupun politik yang berpotensi memunculkan perbedaan pendapat secara tajam.

"Perbedaan pendapat yang tajam mestinya kita bisa berdialog, kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi," ujarnya.

Tanwir Bahas Program Muhammadiyah hingga 25 Tahun

Haedar menjelaskan sidang Tanwir di Palu direncanakan berlangsung sekitar November 2026 dengan salah satu agenda utama membahas program Muhammadiyah untuk 25 tahun mendatang.

"Muhammadiyah ini sejak tahun 2000 itu punya program strategis lima tahun sampai 25 tahunan dan sekarang periodenya sudah habis, maka perlu dirumuskan," katanya.

Muhammadiyah juga resmi meluncurkan logo Tanwir dan Milad ke-114 dengan corak postmodern yang dipadukan dengan simbol daun kelor.

Logo tersebut dirancang bukan hanya sebagai identitas visual, tetapi juga memuat nilai, gagasan, dan filosofi yang merepresentasikan perjalanan serta karakter gerakan Muhammadiyah.

"Estetika dalam sebuah simbol tidak dapat dipisahkan dari nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Logo ini juga dipandang sebagai medium untuk memahami gagasan yang lebih luas," katanya.

Daun Kelor Jadi Simbol Kesederhanaan dan Ketangguhan

Haedar mengatakan dirinya turut terlibat dalam pembuatan logo dan memilih daun kelor sebagai salah satu simbol utama karena tanaman tersebut tumbuh subur di Indonesia.

"Daun kelor sebagai miracle tree atau pohon ajaib yang bermakna kesederhanaan dan ketangguhan sesuai dengan gerakan Muhammadiyah," ujarnya.

Menurut dia, pohon kelor dapat tumbuh dalam berbagai kondisi tanpa membutuhkan perawatan rumit sehingga merepresentasikan kesederhanaan dan kemampuan bertahan.

"Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme," katanya.

Haedar menambahkan daun kelor juga dimaknai sebagai simbol kemakmuran karena memiliki manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan.

"Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan," ujarnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026