
Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengandalkan kombinasi operasi modifikasi cuaca (OMC), operasi darat, operasi udara, dan penegakan hukum sebagai strategi utama menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada puncak musim kemarau El Nino 2026.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara masif dan terpadu, terutama di enam provinsi prioritas yang memiliki kawasan lahan gambut.
Enam provinsi tersebut adalah Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
"Tahun 2026 ini prediksi BMKG El Niño kuat dan memang betul-betul terbukti. Luas lahan terbakar di provinsi-provinsi prioritas lahan gambut meningkat," kata Suharyanto.
OMC Dinilai Paling Efektif
Berdasarkan pengukuran BNPB terhadap efektivitas tiga metode pemadaman, Suharyanto menyebut OMC menempati peringkat pertama karena hujan yang dihasilkan dapat membantu memadamkan kebakaran pada area luas.
Operasi darat berada di peringkat kedua dan dinilai sangat penting untuk menangani kebakaran lahan gambut karena api dapat berada di bawah permukaan tanah sehingga sulit dipadamkan.
Sementara itu, operasi udara berupa water bombing berada di urutan ketiga dengan salah satu keterbatasannya berupa kapasitas angkut air sekitar 4 ton dalam setiap sorti penerbangan.
Meski memiliki tingkat efektivitas berbeda, BNPB menegaskan ketiga metode pemadaman tersebut harus tetap dijalankan secara terpadu.
"Namun ketiganya tidak bisa dipisahkan. Water bombing memadamkan kepala api, lalu pasukan darat masuk membasahi lahan. Tanpa water bombing, pasukan darat juga berisiko," ungkap Suharyanto.
Dalam penerapannya, water bombing digunakan terlebih dahulu untuk memadamkan bagian utama atau kepala api sekaligus mengurangi risiko bagi personel darat yang akan mendekati lokasi kebakaran.
Setelah kondisi memungkinkan, pasukan darat masuk untuk melakukan pembasahan lahan secara lebih menyeluruh.
Kebakaran Gambut Butuh Penanganan Khusus
BNPB memberikan perhatian khusus terhadap kebakaran lahan gambut karena api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar mati.
Bara api masih dapat menyala dan membara di bagian dalam lapisan gambut sehingga pembasahan harus dilakukan hingga kedalaman tertentu.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BNPB menggunakan alat suntik gambut yang dapat memasukkan air hingga kedalaman sekitar 1–2 meter.
"Lahan gambut tidak cukup disiram sekali dua kali. Butuh pembasahan sampai kedalaman, sampai tanahnya berubah seperti bubur. Kami punya alat suntik gambut," kata Suharyanto.
Pembasahan dilakukan secara mendalam dan berulang hingga lapisan tanah benar-benar basah guna mencegah bara api kembali berkembang.
Kalimantan Selatan Relatif Lebih Ringan
Dari tiga provinsi terdampak karhutla di Kalimantan, Suharyanto menyebut kondisi Kalimantan Selatan relatif lebih ringan dengan sekitar 36 hektare lahan sedang dalam proses pemadaman saat pernyataan tersebut disampaikan.
Namun, luas lahan yang harus ditangani dapat berubah karena patroli terus dilakukan untuk menemukan titik api baru sekaligus memastikan titik lama tidak kembali menyala.
"Hari ini hanya memadamkan lahan kurang lebih 36 hektare. Tapi besok belum tentu segitu karena besok ada patroli lagi, siapa tahu ada titik api baru atau titik lama hidup lagi," kata Suharyanto.
OMC Tetap Digelar di Daerah Tanpa Kebakaran
Suharyanto mengatakan Presiden dan Wakil Presiden mengarahkan agar OMC dimaksimalkan dengan memanfaatkan sekecil apa pun potensi keberadaan awan hujan.
Arahan tersebut tidak hanya diterapkan di wilayah yang sedang dilanda kebakaran, tetapi juga daerah lain di Kalimantan dan Sumatera yang tidak mengalami kebakaran.
Salah satu penerapannya dilakukan di Banjarmasin yang tidak mengalami kebakaran, tetapi memiliki potensi hujan berdasarkan deteksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
OMC di kawasan tersebut dilakukan untuk membantu mengamankan Banjarmasin dari potensi paparan asap akibat kebakaran di kabupaten lain.
Berdasarkan data BNPB per 8 September 2026, total indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 76.922,3 hektare.
Sementara berdasarkan data hingga 6 September 2026, luas lahan gambut yang terbakar mencapai 72.009,10 hektare dengan 939,45 hektare di antaranya masih dalam proses pemadaman intensif.
- Penulis :
- Shila Glorya




