
Pantau - Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk mengalirkan cabai rawit dari daerah surplus menuju wilayah defisit guna menekan gejolak harga dan menjaga pasokan nasional.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemerintah akan mengoptimalkan mobilisasi stok sebagai salah satu langkah merespons kenaikan harga cabai rawit di sejumlah daerah.
"Fluktuasi harga cabai rawit segera diatasi pemerintah dengan mengupayakan mobilisasi stok dari daerah yang surplus ke daerah defisit," kata Ketut di Jakarta, Minggu (13/9/2026).
Program FDP akan dijalankan secara kolaboratif dengan melibatkan petani Champion Cabai yang selama ini dibina Kementan untuk membantu memasok komoditas tersebut ke daerah yang mengalami kenaikan harga.
Bapanas dan Kementan juga akan memetakan daerah yang memiliki pasokan berlebih agar distribusinya dapat diarahkan ke wilayah dengan harga cabai rawit relatif tinggi.
Ketut menyebut Kediri, Jawa Timur, sebagai salah satu wilayah yang saat ini mengalami dinamika harga dan pasokan sehingga memerlukan respons pemerintah.
"Karena itu, kami ingin berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP," kata Ketut.
Petani Champion Dilibatkan dalam Distribusi
Pelibatan petani Champion Cabai dinilai memiliki peran penting karena pasokan dari wilayah dengan harga relatif terjangkau dapat digerakkan menuju daerah yang sedang mengalami gejolak harga.
"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," ujar Ketut.
Berdasarkan catatan Bapanas, realisasi FDP cabai rawit selama triwulan pertama 2026 mencapai 5.590 kilogram.
Sebanyak 3.150 kilogram cabai rawit dimobilisasi dari Enrekang, Sulawesi Selatan, menuju Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.
Pemerintah juga menyalurkan masing-masing 1.140 kilogram cabai rawit menuju Lombok Tengah dan 1.300 kilogram menuju Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat.
Pelaksanaan FDP tersebut disebut memberikan implikasi positif terhadap pengendalian harga yang pada April 2026 turut diikuti penurunan inflasi, termasuk komponen harga bergejolak atau volatile food.
Produksi Cabai Rawit Diproyeksikan Tetap Mencukupi
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto memastikan produksi cabai rawit nasional masih mencukupi hingga akhir 2026 untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Produksi cabai rawit nasional pada September 2026 diperkirakan mencapai sekitar 119 ribu ton sehingga menjadi modal pemerintah menjaga ketersediaan pasokan dalam beberapa bulan mendatang.
Di Jawa Timur, tanaman cabai rawit yang siap dipanen di Banyuwangi tercatat mencapai sekitar 1.486 hektare.
Kabupaten Sampang juga memiliki tanaman cabai rawit sekitar 1.691 hektare dengan produksi yang mulai meningkat hingga sekitar lima ribu ton.
Sentra produksi cabai rawit di Pulau Jawa juga berada di Temanggung, Brebes, dan Magelang, meski sebagian besar tanaman di wilayah tersebut masih dalam fase awal pertumbuhan.
Peningkatan produksi dari berbagai sentra diharapkan mampu mengantisipasi potensi kenaikan harga cabai rawit menjelang Natal dan Tahun Baru 2026/2027.
Petani cabai rawit binaan Kementan juga telah menyatakan kesiapan mendukung FDP dengan mengirim pasokan dari daerah berproduksi tinggi menuju wilayah yang mengalami lonjakan harga.
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp90.050 per Kilogram
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga sejumlah jenis cabai masih berada pada tingkat relatif tinggi.
Harga cabai merah besar tercatat Rp54.200 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting mencapai Rp62.950 per kilogram.
Cabai rawit hijau tercatat dijual Rp64.700 per kilogram, sementara cabai rawit merah mencapai Rp90.050 per kilogram.
Mobilisasi pasokan melalui FDP diharapkan dapat memperkuat ketersediaan cabai di daerah yang mengalami kekurangan sekaligus menekan gejolak harga agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
- Penulis :
- Gerry Eka




