
Pantau - Petani di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengembangkan kakao dari pekarangan rumah hingga menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah di tengah karakter wilayah yang lebih dari separuhnya berupa Kawasan Bentang Alam Karst Gunungsewu.
Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat kawasan karst di Gunungkidul membentang sekitar 807 kilometer persegi atau 53 persen dari keseluruhan wilayah kabupaten tersebut.
Keterbatasan lahan dan air mendorong sebagian petani mencari komoditas yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi.
Salah satu pengembangan kakao berlangsung di Dusun Gambiran, Kalurahan Bunder, tempat tanaman tersebut tumbuh di sela rumah dan pekarangan warga.
Petani Targetkan Ratusan Pohon Kakao
Petani kakao Paryanto mulai menanam komoditas tersebut pada 2004 sebelum memutuskan lebih serius mengembangkannya pada 2009.
"Kakao termasuk cocok tumbuh di Gunungkidul yang sebagian besar lahan merupakan kawasan hutan, karena pohon kakao itu kan tanaman hutan," ujarnya.
Kakao membutuhkan naungan sehingga petani dapat menanamnya berdampingan dengan tanaman produktif lainnya untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan.
"Jadi lebih efektif, karena di dalam satu lahan bisa menanam lebih dari satu komoditas tanaman," katanya.
Paryanto saat ini mengembangkan sekitar 150 pohon kakao dan menargetkan jumlahnya bertambah menjadi sekitar 500 pohon.
"Kalau yang saya miliki, ada sekitar 150 pohon. Ini yang saya kembangkan, target saya pengembangan selanjutnya adalah 500-an pohon," katanya.
Paryanto tergabung dalam Industri Kecil Menengah (IKM) Cokelat Sari Mulyo Gunungkidul yang memiliki sekitar 35 petani dengan total sekitar 2.000 pohon kakao.
Setiap pohon rata-rata mampu menghasilkan sekitar dua kilogram biji kakao fermentasi berkualitas baik dalam setahun.
"Dua kilo per pohon, per tahun. Itu yang kualitas mutunya bagus," kata Paryanto.
Biji kakao fermentasi tersebut dapat mencapai harga sekitar Rp100 ribu per kilogram.
Hilirisasi Tingkatkan Nilai Kakao
IKM Cokelat Sari Mulyo sejak 2014 mulai mengolah biji kakao menjadi tiga bahan baku utama berupa kakao massa atau cocoa liquor, minyak kakao atau cocoa butter, dan bubuk kakao atau cocoa powder.
Kakao massa memiliki kisaran harga Rp150 ribu per kilogram, sedangkan minyak kakao mencapai sekitar Rp300 ribu per kilogram dan dapat digunakan dalam industri kosmetik maupun produk cokelat.
Bubuk kakao yang dibuat dari sisa pemerasan minyak kakao memiliki harga sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per kilogram.
Kelompok Sari Mulyo juga bekerja sama dengan BUMDes Barokah Handayani untuk mengolah dan memasarkan produk kakao.
"Kami memang bekerja sama dengan BUMDes dalam mengolah dan memasarkan produk olahan kakao," kata Paryanto.
Direktur BUMDes Barokah Handayani Bunder Bambang Sugiyanto mengatakan fasilitas pengolahan telah dilengkapi berbagai peralatan produksi.
"Kami sudah ada fasilitas lengkap berbagai alat produksi yang memadai, seperti mesin sangrai, alat pemisah kulit dan biji kakao, hingga cetakan cokelat," katanya.
Produk yang dihasilkan antara lain cokelat batangan, minuman cokelat, ampyang, hingga brownies yang dipasarkan melalui merek Rumah Cokelat Gunungkidul.
Pemerintah Dorong Produksi hingga Pemasaran
Dukungan pemerintah terhadap petani mencakup pupuk, peralatan teknis, bibit kakao unggul, pelatihan, fasilitas fermentasi, hingga akses pemasaran.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Anita Windrati Syarifuddin mengatakan pemerintah daerah berupaya mengembalikan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan.
Program Peremajaan Kebun Kakao Rakyat menargetkan luasan 50 hektare, khususnya di wilayah sentra seperti Kapanewon Patuk.
"Produktivitas (kakao) kami targetkan rata-rata 0,7 ton per hektare," katanya.
Sentra kakao Gunungkidul tersebar antara lain di Patuk, Ponjong, dan Karangmojo dengan sejumlah kelompok tani yang telah mengolah hasil panen menjadi produk siap konsumsi.
Hilirisasi kakao juga mulai terhubung dengan sektor pariwisata, terutama di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, melalui kegiatan wisata edukasi mengenai proses pengolahan kakao dari kebun hingga menjadi cokelat.
Pengembangan tersebut turut membuka peluang aktivitas ekonomi pada sektor kuliner, perdagangan, penginapan, dan jasa di sekitar kawasan wisata.
- Penulis :
- Aditya Yohan




