HOME  ⁄  Nasional

Pascagempa NTT, Pemerintah Perbaiki Sanitasi dan Air Bersih untuk Cegah Stunting

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pascagempa NTT, Pemerintah Perbaiki Sanitasi dan Air Bersih untuk Cegah Stunting
Foto: (Sumber :Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam kegiatan "Kolaborasi Bersama untuk Indonesia Tangguh" lintas sektor dalam mendukung Program Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting) di Jakarta, Kamis (17/9/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari..)

Pantau - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk memperbaiki sanitasi dan memenuhi kebutuhan air bersih sebagai bagian dari upaya mengatasi stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang prevalensinya disebut masih mencapai 37 persen.

Upaya tersebut diperkuat setelah gempa pada 15 Agustus 2026 yang berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebabkan 94 korban meninggal dunia di pengungsian hingga Kamis (17/9/2026).

Kemendukbangga/BKKBN bersama Kitabisa berupaya memastikan ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak, perempuan, dan korban gempa mendapatkan kecukupan gizi serta fasilitas sanitasi.

"Salah satunya (bantuan) ada rumah, air bersih, kemudian juga ada mandi, cuci, kakus (MCK). Jadi, penyebab (stunting) itu nanti yang akan kita kerjakan di sana dan memang menjadi prioritas kita," kata Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji di Jakarta, Kamis.

Air Bersih dan Gizi Jadi Prioritas di NTT

Wihaji mengatakan Kemendukbangga/BKKBN telah menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak di NTT untuk menekan prevalensi stunting sejak sebelum gempa terjadi.

"Sebelum ada gempa pun, kita sudah bekerja sama dengan kampus-kampus juga dan lebih konkretnya tentu tambah baik, dan semoga nanti semakin cepat untuk bisa kita bantu di sana," ujar dia.

Menurut Wihaji, penyebab utama atau faktor yang memengaruhi risiko stunting perlu diketahui sebelum intervensi dilakukan kepada keluarga.

"Yang paling penting adalah sebabnya apa. Untuk menyelesaikan masalah, itu sebabnya kita selesaikan dulu. Kalau sebabnya air bersih, kita bantu air bersih, kalau sebabnya edukasi, kita edukasi, kalau sebabnya asupan gizi, kita asupan gizi, tentu dari sebab itu kita pilih dan kerjakan yang bisa kita kerjakan," paparnya.

Khusus untuk NTT, Wihaji menyebut pemenuhan asupan gizi dan kebutuhan air bersih menjadi sejumlah prioritas penanganan.

Pemerintah Juga Soroti Pernikahan Dini

"Tentu prioritasnya asupan gizi, kemudian (mencegah) pernikahan dini, juga beberapa kebutuhan air bersih. Kalau di NTT, kebutuhan air bersih, doakan saja nanti teman-teman dari Yayasan Kitabisa untuk prioritas di NTT," tuturnya.

Berdasarkan pendataan keluarga 2025, terdapat 8,1 juta keluarga berisiko stunting secara nasional.

Survei Status Gizi Indonesia mencatat prevalensi stunting nasional pada 2024 sebesar 19,8 persen dengan target mencapai 14,2 persen pada 2029.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026