
Pantau - Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar menilai Indonesia berpeluang menjadi kekuatan pangan dunia dengan dukungan iklim tropis serta penguatan riset, inovasi, dan pembangunan sektor pertanian.
Asep mengatakan kondisi geografis Indonesia sebagai negara tropis menjadi modal untuk mengembangkan berbagai komoditas pertanian secara berkelanjutan.
"Indonesia adalah daerah tropis sehingga cocok untuk pengembangan (sejumlah komoditas pertanian) ini. Sehingga kita bukan hanya untuk kebutuhan kita, tetapi juga untuk ekspor, untuk kemandirian pangan," kata Asep di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan dalam Seminar Nasional Gebyar Ajang Tani Inspiratif (Gantari) 2026 bertajuk “Regenerasi Pemuda sebagai Penggerak Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia” yang digelar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Produksi Beras 2025 Capai 34,69 Juta Ton
Asep menyoroti sejumlah capaian sektor pertanian nasional yang dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton.
Jumlah tersebut meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan produksi pada 2024.
Asep mengatakan keberhasilan pembangunan pertanian juga perlu dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan petani, salah satunya melalui Nilai Tukar Petani (NTP).
BPS mencatat NTP nasional pada Agustus 2026 mencapai 129,19 atau naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 yang berada pada 127,84.
Pemerintah juga melaporkan Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis pada 2026, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Penguatan sektor pertanian dilakukan melalui sejumlah program, antara lain optimalisasi lahan, penguatan irigasi, pompanisasi, penyediaan benih unggul dan pupuk bersubsidi, serta modernisasi menggunakan alat dan mesin pertanian.
Pada Agustus 2026, Indonesia juga melakukan pengiriman perdana 1.000 ton beras ke Malaysia setelah sebelumnya memperkuat pemenuhan kebutuhan di dalam negeri.
"Capaian tersebut menunjukkan pentingnya kesinambungan antara pemerintah, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun sektor pertanian," ucap Asep.
Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Riset Pertanian
Asep mengapresiasi kiprah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam mendorong penguatan sektor pertanian dan kemandirian pangan nasional.
"Saya harap Pak Amran terus berkontribusi, terus berdedikasi, dan juga menjadi inspirator bagi seluruh masyarakat. Semoga Amran-Amran lainnya akan hadir di Indonesia," tuturnya.
Ia mengingatkan pembangunan pertanian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Perguruan tinggi dinilai dapat mengambil peran lebih besar melalui pendidikan, riset, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia di sektor pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan dengan menyiapkan stok beras dan komoditas lain untuk menghadapi dinamika iklim, termasuk potensi kekeringan akibat fenomena El Nino.
Pemerintah juga mendorong peningkatan ekspor produk pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Amran menekankan kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, petani, dan generasi muda diperlukan untuk membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan.
"Tidak ada sukses tanpa kolaborasi," kata Amran.
- Penulis :
- Aditya Yohan




