
Pantau - Indonesia menurunkan 63 siswa sekolah dasar untuk mengikuti International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 yang akan digelar di Depok, Jawa Barat, pada 2–7 Oktober 2026.
Ketua Umum IMSO ke-23 sekaligus Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Raden Ridwan Hasan Saputra mengatakan peserta Indonesia terbagi dalam dua bidang kompetisi, yakni matematika dan sains.
“Di Indonesia itu terpilih dari seluruh anak Indonesia SD sebanyak 63 peserta. Jadi 32 peserta bidang matematika, 31 peserta bidang sains,” kata Ridwan.
Para siswa tersebut terpilih melalui dua jalur seleksi, yakni prestasi Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan seleksi mandiri yang diselenggarakan KPM.
Peserta dari jalur OSN telah melewati rangkaian kompetisi mulai tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
Seleksi melalui jalur KPM dilaksanakan dalam tiga tahapan yang terdiri atas dua tahap secara daring dan satu tahap secara langsung.
Seleksi Tak Hanya Ukur Kemampuan Akademik
Proses seleksi peserta Indonesia tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga penalaran dan pemecahan masalah.
Kemampuan eksplorasi matematika, eksperimen sains, hingga perilaku peserta turut menjadi aspek penilaian dalam proses seleksi.
“Kita ingin ini mewakili negara, jadi tidak hanya kepintaran, tetapi perilaku juga kita perhatikan,” ungkap Ridwan.
IMSO ke-23 akan diikuti sebanyak 404 siswa dari 23 negara, termasuk China, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Amerika Serikat, India, Filipina, dan Indonesia.
Para siswa akan menguji kemampuan matematika dan sains melalui sejumlah tahapan kompetisi yang dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan materi yang tetap disesuaikan dengan jenjang pendidikan dasar.
Pada bidang matematika, peserta akan menjalani tiga sesi berupa isian singkat, esai, dan eksplorasi.
Peserta bidang sains akan mengikuti tiga sesi yang terdiri atas dua sesi teori dan satu sesi eksperimen.
“Soalnya ini usulan tiap-tiap negara, kemudian dikumpulkan dan dipilih oleh dewan juri. Kalau ada soal yang pernah keluar, tidak dipakai lagi,” kata Ridwan.
Indonesia Hadapi Persaingan Internasional
Ridwan menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam persaingan olimpiade matematika dan sains tingkat internasional, terutama dari China dan Singapura.
Menurut Ridwan, kedua negara tersebut telah menerapkan pembelajaran dengan tingkat kesulitan serupa dalam kegiatan belajar sehari-hari siswa.
Penyelenggaraan IMSO di Indonesia diharapkan dapat mendorong peningkatan kemampuan matematika dan sains sekaligus memperkuat pembibitan serta pengembangan talenta sejak jenjang pendidikan dasar.
Siswa yang berhasil meraih prestasi dalam IMSO juga berpeluang mendapatkan beasiswa pendidikan, termasuk yang ditawarkan sejumlah lembaga pendidikan di luar negeri.
Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal PP Muhammadiyah sekaligus Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan Didik Suhardi berharap Indonesia berhasil sebagai tuan rumah sekaligus mencatatkan prestasi.
“Kita berharap di ajang ini nanti tidak hanya sukses menjadi tuan rumah, tetapi juga sukses meraih prestasi,” kata Didik.
Menurut Didik, IMSO dapat menjadi salah satu tolok ukur kualitas pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam di Indonesia, terutama dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa.
Kompetisi Digelar di Depok
IMSO ke-23 diselenggarakan Klinik Pendidikan MIPA bersama Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal PP Muhammadiyah dengan dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Rangkaian kompetisi akan berlangsung di BBPPMPV Sektor Bisnis dan Pariwisata, Depok.
Kegiatan pembukaan, pertukaran budaya, dan penutupan IMSO ke-23 akan diselenggarakan di PPSDM Kemendikdasmen, Depok.
- Penulis :
- Leon Weldrick




