HOME  ⁄  Nasional

BRIN Mendorong Kedaulatan Riset Masyarakat Adat melalui Ekspedisi dan Skema Degree by Research

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

BRIN Mendorong Kedaulatan Riset Masyarakat Adat melalui Ekspedisi dan Skema Degree by Research
Foto: Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Najib Azca dalam Kick-Off Program Riset Inovasi Strategis (PRIS) Ekspedisi Masyarakat Adat di Jakarta, Kamis 1/10/2026 (sumber: BRIN)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan kedaulatan riset masyarakat adat melalui Program Riset Inovasi Strategis (PRIS) Ekspedisi Masyarakat Adat dengan menempatkan komunitas sebagai subjek yang terlibat dalam produksi pengetahuan.

Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN Muhammad Najib Azca menilai penelitian mengenai masyarakat adat perlu memperkuat agensi komunitas sekaligus menjunjung tinggi integritas etis.

"Riset tentang masyarakat adat menguji integritas etis kita sebagai lembaga riset negara. Apakah kita memperkuat agensi komunitas atau tanpa sadar justru menjadi bagian dari rantai ekstraksi," kata Najib.

Ekspedisi tersebut digagas bersama oleh BRIN, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP Unpad).

Najib menegaskan ekspedisi tidak dimaknai sebagai kegiatan yang sekadar menjadikan masyarakat adat sebagai objek penelitian, tetapi sebagai proses belajar bersama antara peneliti dan komunitas.

Proses tersebut digunakan untuk memahami identitas, hubungan sosial, serta berbagai perubahan yang dihadapi masyarakat adat.

Riset Diintegrasikan dengan Degree by Research

Program PRIS Ekspedisi Masyarakat Adat mengintegrasikan kegiatan penelitian dengan pengembangan talenta melalui skema Degree by Research (DbR).

Menurut Najib, model tersebut dapat memperkuat kapasitas peneliti muda sekaligus membangun budaya kolaboratif dalam penelitian sosial dan humaniora.

"Ini bukan sekadar program riset. Ini juga program penguatan sumber daya manusia yang menghubungkan kegiatan penelitian dengan pengembangan talenta peneliti. Program seperti ini perlu terus dikembangkan dan diperluas," ungkap Najib.

Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN Aulia Hadi menjelaskan PRIS Ekspedisi Masyarakat Adat telah dirancang sejak 2025.

Program tersebut dirancang sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan peneliti BRIN, perguruan tinggi, serta asisten periset yang menjalani pendidikan melalui skema DbR.

Sebanyak 29 peserta DbR dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia terlibat dalam program tersebut dengan rincian 13 mahasiswa doktoral dan 16 mahasiswa magister.

Para peserta akan melaksanakan penelitian secara langsung di berbagai lokasi masyarakat adat di Indonesia.

Peneliti Tinggal di Lapangan hingga Empat Bulan

Menurut Aulia, penelitian tersebut berangkat dari besarnya keragaman budaya Indonesia sekaligus adanya kesenjangan antara narasi umum mengenai masyarakat adat dan realitas yang dihadapi komunitas pada tingkat lokal.

Penelitian diarahkan untuk memahami dinamika kebudayaan berdasarkan perspektif masyarakat adat sekaligus menghasilkan konsep pengetahuan yang berakar pada pengalaman Nusantara.

"Kami tidak ingin masyarakat adat hanya menjadi objek kajian. Mereka juga harus terlibat dalam membentuk dan memproduksi pengetahuan," kata Aulia.

Penelitian dalam PRIS Ekspedisi Masyarakat Adat menggunakan pendekatan etnografi dengan menempatkan tim peneliti secara langsung di lapangan selama tiga hingga empat bulan.

Ekspedisi mengangkat tujuh tema utama, yakni budaya dan kohesi sosial, budaya dan praktik pemerintahan, etos budaya dan ekonomi lokal, adaptasi terhadap perubahan sosial-ekologis, respons masyarakat adat terhadap globalisasi, model budaya dan soft power lokal, serta produksi pengetahuan dan kebijakan publik.

Program tersebut ditargetkan menghasilkan publikasi ilmiah dan berkontribusi terhadap pengembangan teori sosial-budaya.

Selain keluaran akademik, hasil penelitian diharapkan memperkuat jejaring pengetahuan lokal sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat adat.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026