HOME  ⁄  Nasional

Sosiolog Menilai Konser Kini Menjadi Ruang Anak Muda Menunjukkan Identitas Sosial

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Sosiolog Menilai Konser Kini Menjadi Ruang Anak Muda Menunjukkan Identitas Sosial
Foto: (Sumber :Para penonton menyaksikan pertunjukan musik dalam acara Pestapora 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (27/9/2026). (ANTARA/Pamela Sakina).)

Pantau - Konser musik kini berkembang menjadi sarana anak muda menunjukkan identitas sosial sekaligus menyuarakan kepedulian terhadap isu sosial, lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan hak asasi manusia.

Guru Besar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si. mengatakan fenomena tersebut terlihat dari cara anak muda menikmati musik hingga menentukan artis yang mereka idolakan.

"Konser tidak lagi hanya menjadi momentum fandom untuk hura-hura. Menonton konser juga menjadi sarana memperlihatkan identitas sosial," kata Prof. Bagong saat dihubungi pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Menurut Bagong, anak muda saat ini memiliki kepedulian dan sikap kritis terhadap berbagai persoalan yang kemudian turut diekspresikan melalui hiburan dan budaya populer.

Konser Menjadi Ruang Ekspresi Sikap Kritis

Bagong mengatakan sikap kritis generasi muda tidak hanya diwujudkan melalui aksi demonstrasi, tetapi juga dapat berjalan beriringan dengan kegiatan hiburan.

"Jadi, sikap kritisnya tidak selalu dimanifestasikan dalam aksi unjuk rasa. Mereka memadukan aktivitas pleasure dengan aktivitas sosial," kata Prof. Bagong.

Kecenderungan tersebut antara lain terlihat dari pertimbangan sebagian penggemar dalam memilih dan mengidolakan seorang artis.

"Artis yang dipuja tidak harus yang ganteng atau cantik, tetapi harus memiliki nilai plus kepedulian sosial," katanya.

Bagong mencontohkan penggemar Iwan Fals yang menyukai karya-karya bermuatan kritik sosial, termasuk lagu "Bongkar" dan "Bento."

Namun, ia menegaskan tidak seluruh penggemar Iwan Fals maupun artis lain yang dikenal peduli terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan memiliki tingkat kepedulian sosial yang sama.

Pilihan dalam menikmati karya musik dan menentukan musisi idola, menurut Bagong, lebih menggambarkan harapan penggemar terhadap sosok artis tersebut.

"Lebih pada harapan," kata Prof. Bagong.

Kelompok penggemar yang mempertimbangkan nilai, sikap kritis, dan kepedulian sosial seorang artis disebut belum dominan, tetapi pertumbuhannya dinilai terus meningkat.

Isu Sosial Mewarnai Panggung Musik

Hubungan antara penggemar dan musisi serta penggunaan konser sebagai ruang ekspresi semakin berkembang hingga membuat pertunjukan musik tidak hanya menjadi tempat menikmati karya seni.

Fenomena tersebut antara lain terlihat dalam Pestapora 2025 ketika keterlibatan PT Freeport Indonesia sebagai sponsor memicu penolakan sejumlah musisi hingga penyelenggara memutuskan kerja sama dengan perusahaan tambang tersebut.

Peristiwa lain terjadi saat rapper Macklemore dikeluarkan dari daftar penampil pendukung rangkaian tur konser Ed Sheeran di Amerika Serikat setelah menyuarakan dukungan terhadap pembebasan Palestina dalam konser Ed Sheeran di New Jersey pada September 2026.

Keputusan tersebut kemudian mendorong sejumlah penampil pendukung lain ikut mundur serta memicu protes dan polemik.

Rangkaian peristiwa itu menunjukkan konser musik berkembang bukan sekadar sebagai ruang seni dan hiburan, tetapi juga menjadi tempat musisi dan anak muda mengekspresikan sikap kritis serta nilai sosial yang mereka anggap penting.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026