HOME  ⁄  Nasional

Titik Panas di Kalimantan Selatan Tinggal 17, Menhut Raja Juli Antoni Ingatkan Bahaya Api di Lahan Gambut

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Titik Panas di Kalimantan Selatan Tinggal 17, Menhut Raja Juli Antoni Ingatkan Bahaya Api di Lahan Gambut
Foto: Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau penanggulangan karhutla di Hutan Lindung Liang Anggang Banjarbaru, Senin 12/10/2026 (sumber: ANTARA/Firman)

Pantau - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan jumlah titik panas atau hotspot di Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi yang terendah di Pulau Kalimantan, dengan 17 titik terdeteksi pada Senin (12/10/2026), tetapi mengingatkan bahwa lahan gambut yang pernah terbakar masih berpotensi kembali menyala.

Pernyataan tersebut disampaikan Raja Juli Antoni saat meninjau langsung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan melalui Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), jumlah titik panas di Kalimantan Selatan tercatat jauh lebih rendah dibandingkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

"Per hari ini hotspot di Kalsel terbaik dibanding wilayah lain di Kalimantan," kata Raja Juli Antoni saat melakukan peninjauan di Banjarbaru, Senin (12/10/2026).

Meski jumlah titik panas relatif rendah, Menteri Kehutanan meminta seluruh pihak tetap waspada dan melanjutkan pembasahan lahan gambut yang masih mengeluarkan asap.

SiPongi Catat 17 Titik Panas di Kalsel, Kalimantan Tengah Lebih dari 200 Titik

Kementerian Kehutanan mencatat sebanyak 17 titik panas di Kalimantan Selatan berdasarkan pemantauan satelit NASA-TERRA/AQUA pada Senin (12/10/2026).

Data tersebut dihimpun melalui SiPongi yang digunakan untuk memantau perkembangan titik panas dan kondisi kebakaran hutan serta lahan di berbagai wilayah Indonesia.

Hasil pemantauan menunjukkan jumlah titik panas di Kalimantan Selatan lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi lain di Pulau Kalimantan.

Sebagai perbandingan, Kalimantan Tengah mencatat lebih dari 200 titik panas berdasarkan hasil pemantauan satelit pada periode yang sama.

Sementara itu, Kalimantan Barat masih mencatat sekitar 100 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi.

Perbedaan jumlah titik panas tersebut menjadi salah satu dasar penilaian Menteri Kehutanan bahwa kondisi pemantauan karhutla di Kalimantan Selatan relatif lebih terkendali.

Berikut perbandingan jumlah titik panas di tiga provinsi berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Kehutanan.

Kalimantan Selatan

Jumlah titik panas: 17 titik.

Kalimantan Tengah

Jumlah titik panas: Lebih dari 200 titik.

Kalimantan Barat

Jumlah titik panas: Sekitar 100 titik.

Data tersebut menunjukkan Kalimantan Selatan memiliki jumlah titik panas yang jauh lebih rendah dibandingkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Namun, jumlah titik panas yang rendah tidak berarti seluruh potensi kebakaran hutan dan lahan telah hilang.

Menhut Ingatkan Lahan Gambut Bisa Kembali Terbakar Meski Api Padam

Raja Juli Antoni mengingatkan pemerintah daerah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanggulangan karhutla agar tidak lengah menghadapi penurunan jumlah titik panas.

Menurutnya, karakteristik lahan gambut menjadi salah satu alasan kewaspadaan harus tetap dipertahankan.

Lahan gambut yang sebelumnya terbakar dapat menyimpan panas di bawah permukaan tanah sehingga api berpotensi kembali muncul meskipun tidak terlihat di permukaan.

Kondisi tersebut menyebabkan penanganan kebakaran pada lahan gambut tidak dapat hanya mengandalkan pengamatan terhadap api yang terlihat.

Menteri Kehutanan menekankan bahwa lokasi bekas kebakaran tetap membutuhkan perhatian dan pemantauan meskipun api di permukaan telah padam.

Terutama pada kawasan yang masih mengeluarkan asap, petugas diminta terus melakukan pembasahan untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

"Maka dari itu penting dilakukan pembasahan terus pada titik-titik yang cenderung masih mengeluarkan asap meski api sudah tidak muncul di permukaan," tambahnya.

Pembasahan berkelanjutan menjadi salah satu langkah penting dalam penanganan lahan gambut yang masih berpotensi menyimpan panas.

Pembasahan Lahan Gambut Harus Dilanjutkan untuk Cegah Api Kembali Menyala

Menteri Kehutanan menegaskan bahwa upaya penanggulangan karhutla tidak boleh langsung dihentikan hanya karena jumlah titik panas menurun.

Pemantauan terhadap kawasan yang sebelumnya terbakar perlu terus dilakukan, terutama pada lokasi yang masih menunjukkan tanda-tanda panas atau mengeluarkan asap.

Kondisi tersebut dapat mengindikasikan masih berlangsungnya pembakaran di bagian bawah permukaan lahan gambut.

Karena itu, kegiatan pembasahan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mengurangi risiko munculnya kembali api.

Raja Juli juga meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penanggulangan karhutla tetap menjaga kesiapsiagaan di lapangan.

Menurutnya, penurunan jumlah titik panas harus diikuti dengan langkah pencegahan agar kondisi kebakaran tidak kembali meningkat.

Pemantauan melalui SiPongi dan pengawasan langsung di lokasi menjadi bagian dari upaya mengidentifikasi perkembangan kondisi karhutla.

Khusus pada lahan gambut, pengawasan terhadap titik yang masih mengeluarkan asap menjadi perhatian karena potensi kebakaran dapat bertahan meskipun api tidak lagi tampak.

Kalsel Catat Kondisi Karhutla Lebih Terkendali, Kewaspadaan Tetap Diperlukan

Jumlah 17 titik panas yang tercatat di Kalimantan Selatan pada 12 Oktober 2026 menunjukkan kondisi pemantauan karhutla yang lebih baik dibandingkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Kalimantan Tengah masih mencatat lebih dari 200 titik panas, sedangkan Kalimantan Barat terpantau memiliki sekitar 100 titik panas.

Meski demikian, Menteri Kehutanan mengingatkan bahwa data titik panas tidak dapat dijadikan satu-satunya alasan untuk menghentikan upaya penanggulangan kebakaran.

Keberadaan lahan gambut yang berpotensi menyimpan panas tetap memerlukan perhatian, terutama pada kawasan yang sebelumnya mengalami kebakaran.

Raja Juli Antoni menekankan pentingnya melanjutkan pembasahan pada titik-titik yang masih mengeluarkan asap agar potensi kebakaran berulang dapat ditekan.

Melalui pemantauan dan pembasahan berkelanjutan, Kementerian Kehutanan berupaya mempertahankan kondisi pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan sekaligus mencegah munculnya kembali api pada lahan gambut.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026