HOME  ⁄  Nasional

Kodaeral X Butuh Tambahan Kapal Patroli Cepat di Perbatasan RI-Papua Nugini untuk Cegah Penyelundupan Ganja

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kodaeral X Butuh Tambahan Kapal Patroli Cepat di Perbatasan RI-Papua Nugini untuk Cegah Penyelundupan Ganja
Foto: Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) X Jayapura Mayjen TNI (Mar) Sugianto (sumber: ANTARA/Evarukdijati)

Pantau - Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) X Jayapura membutuhkan tambahan kapal patroli berkecepatan tinggi untuk memperkuat pengamanan perairan perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini (PNG) yang rawan menjadi jalur penyelundupan barang ilegal, terutama narkotika jenis ganja.

Komandan Kodaeral X Mayjen TNI (Mar) Sugianto mengatakan, penambahan armada patroli diperlukan untuk meningkatkan kemampuan personel TNI Angkatan Laut dalam mengawasi pergerakan kapal serta mengejar pelaku penyelundupan di kawasan perbatasan kedua negara.

Hal tersebut disampaikan Sugianto di Jayapura, Papua, pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Menurutnya, kapal patroli yang paling dibutuhkan adalah kapal berukuran kecil dengan mesin bertenaga besar agar mampu bergerak cepat dan bermanuver di wilayah perairan dangkal.

Karakteristik perairan perbatasan Indonesia-Papua Nugini menjadi pertimbangan utama karena sejumlah wilayah sulit dijangkau menggunakan kapal patroli berukuran besar.

"Perairan sekitar perbatasan RI-PNG memang rawan penyelundupan karena membawa berbagai barang ilegal dari Papua Nugini, terutama narkotika jenis ganja," ungkap Sugianto.

TNI AL Rutin Patroli untuk Cegah Penyelundupan Ganja dari Papua Nugini

Mayjen TNI (Mar) Sugianto menjelaskan bahwa Kodaeral X selama ini secara rutin melaksanakan patroli keamanan laut untuk mengantisipasi aktivitas penyelundupan melalui jalur perairan perbatasan.

Patroli tersebut dilakukan untuk mengawasi pergerakan kapal motor yang diduga membawa barang ilegal dari Papua Nugini menuju Jayapura maupun sebaliknya.

Selain mengandalkan operasi patroli, Kodaeral X juga meningkatkan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat pesisir agar turut berperan dalam menjaga keamanan wilayah perairan.

Masyarakat diharapkan dapat membantu aparat dengan memberikan informasi apabila menemukan aktivitas mencurigakan, khususnya pergerakan kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkotika.

Partisipasi masyarakat dinilai penting karena peredaran narkotika dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan sosial, terutama bagi generasi muda.

"Kami berharap masyarakat tidak ragu-ragu untuk menginformasikan bila ada hal-hal yang mencurigakan mengingat dampaknya bagi generasi muda," ujar Sugianto.

Kodaeral X berharap kerja sama antara aparat keamanan dan masyarakat pesisir dapat memperkuat pengawasan terhadap jalur-jalur perlintasan laut yang berpotensi dimanfaatkan jaringan penyelundupan.

Tujuh Warga Papua Nugini Lolos Saat TNI AL Gagalkan Penyelundupan 14 Kilogram Ganja

Kebutuhan tambahan kapal patroli berkecepatan tinggi tidak terlepas dari pengalaman personel TNI Angkatan Laut ketika menggagalkan penyelundupan ganja di perairan Skouw Sae pada Agustus 2026.

Dalam operasi tersebut, personel Kodaeral X berhasil mengamankan sebanyak 14 kilogram ganja yang diduga diselundupkan dari Papua Nugini menuju Kota Jayapura.

Penyelundupan dilakukan oleh tujuh warga negara Papua Nugini yang menggunakan perahu motor dengan mesin berkekuatan 40 tenaga kuda (PK).

Ketika aktivitas mereka terungkap, ketujuh pelaku melarikan diri menuju perairan Papua Nugini setelah membuang karung berisi ganja ke laut.

Personel TNI AL berhasil menemukan dan mengamankan karung berisi ganja seberat 14 kilogram tersebut sebagai barang bukti.

Namun, ketujuh pelaku berhasil lolos karena perahu patroli yang digunakan aparat tidak mampu mengimbangi kecepatan perahu motor penyelundup.

Saat kejadian, perahu patroli TNI AL hanya dilengkapi mesin berkekuatan 15 PK, sedangkan perahu yang digunakan pelaku memiliki mesin berkekuatan 40 PK.

Perbedaan kemampuan mesin tersebut menjadi kendala bagi petugas dalam melakukan pengejaran terhadap para penyelundup yang melarikan diri ke wilayah perairan negaranya.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu alasan Kodaeral X menilai perlunya penambahan armada patroli dengan kemampuan mesin lebih besar.

Kodaeral X Tempatkan Kapal Patroli Bermesin Ganda 300 PK di Skouw Sae

Setelah kejadian penyelundupan pada Agustus 2026, Kodaeral X mengambil langkah penguatan pengamanan dengan menambah sarana patroli di Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Skouw Sae.

Penguatan tersebut dilakukan melalui penempatan satu unit kapal patroli jenis Rigid Buoyancy Boat (RBB) yang dilengkapi dua mesin dengan kekuatan masing-masing 300 PK.

Kapal patroli tersebut disiapkan untuk mendukung pengawasan wilayah perairan perbatasan sekaligus meningkatkan kemampuan personel dalam merespons aktivitas kapal yang mencurigakan.

Keberadaan kapal bermesin ganda tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan patroli TNI AL, khususnya di kawasan perairan yang rawan dimanfaatkan untuk penyelundupan narkotika.

Meski demikian, kebutuhan tambahan kapal patroli berukuran kecil dengan kemampuan manuver tinggi masih menjadi perhatian Kodaeral X.

Armada dengan karakteristik tersebut dinilai lebih sesuai untuk menjangkau perairan dangkal dan mendukung pengejaran terhadap kapal motor yang diduga membawa barang ilegal.

Polisi Sita 26,7 Kilogram Ganja dan Tangkap 46 Tersangka di Jayapura

Selain pengungkapan kasus oleh TNI Angkatan Laut, aparat kepolisian di Kota Jayapura juga mencatat sejumlah kasus peredaran narkotika jenis ganja yang berkaitan dengan kawasan perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Berdasarkan data Polresta Jayapura Kota, sepanjang Januari hingga September 2026, aparat kepolisian berhasil menyita sebanyak 26,7 kilogram ganja.

Dalam periode yang sama, polisi juga menangkap 46 tersangka yang terlibat dalam kasus narkotika jenis ganja.

Dari total tersangka tersebut, sebanyak enam orang merupakan warga negara asing asal Papua Nugini.

Kepolisian menyebutkan bahwa ganja dari Papua Nugini diselundupkan menuju Jayapura melalui sejumlah jalur perlintasan di kawasan perbatasan kedua negara.

Jalur yang digunakan mencakup perlintasan darat, termasuk jalan setapak di kawasan perbatasan, serta jalur laut yang menghubungkan wilayah Papua Nugini dengan Jayapura.

Pengungkapan tersebut memperlihatkan adanya aktivitas penyelundupan melalui berbagai jalur sehingga pengawasan dilakukan oleh aparat keamanan baik di wilayah darat maupun perairan.

Kodaeral X Perkuat Pengamanan Wilayah Papua dan Papua Tengah

Mayjen TNI (Mar) Sugianto menjelaskan bahwa wilayah kerja Kodaeral X mencakup Provinsi Papua dan sebagian wilayah Provinsi Papua Tengah.

Dalam menjalankan tugas pengamanan wilayah perairan, Kodaeral X membawahi sejumlah pangkalan TNI Angkatan Laut yang tersebar di wilayah kerjanya.

Pangkalan tersebut meliputi Lanal Sarmi, Lanal Biak, dan Lanal Nabire yang mendukung pelaksanaan tugas pengawasan serta pengamanan laut di wilayah masing-masing.

Selain itu, Kodaeral X juga membawahi Posal Skouw Sae yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Keberadaan Posal Skouw Sae menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung kegiatan patroli dan pengawasan terhadap pergerakan kapal di kawasan perbatasan.

Melalui penambahan armada patroli, peningkatan kemampuan personel, serta penguatan koordinasi dengan masyarakat pesisir, Kodaeral X berupaya meningkatkan efektivitas pengamanan wilayah perairan yang menjadi tanggung jawabnya.

Kebutuhan kapal patroli berukuran kecil dengan mesin bertenaga besar diharapkan dapat mendukung operasi pengawasan dan pengejaran terhadap kapal yang diduga terlibat penyelundupan barang ilegal.

Penguatan pengamanan tersebut menjadi bagian dari upaya TNI Angkatan Laut mencegah masuknya narkotika, khususnya ganja dari Papua Nugini, sekaligus menjaga keamanan wilayah perairan perbatasan Indonesia.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026