HOME  ⁄  Nasional

Kepala BNPB Minta Petugas Pemadam Karhutla Jalani Pemeriksaan Paru-Paru, Soroti Keselamatan dan Akurasi Data Personel

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kepala BNPB Minta Petugas Pemadam Karhutla Jalani Pemeriksaan Paru-Paru, Soroti Keselamatan dan Akurasi Data Personel
Foto: (Sumber :Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi saat diwawancarai di Palembang, Minggu (18/10/2026). ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri/am..)

Pantau - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi meminta kesehatan dan keselamatan petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendapat perhatian serius, termasuk melalui pemeriksaan paru-paru secara berkala akibat tingginya paparan asap saat bertugas.

Kristomei menyampaikan arahan tersebut dalam rapat koordinasi penanganan darurat karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, sebagaimana disampaikan melalui keterangan BNPB di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Ia menekankan pentingnya perlindungan kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan personel yang berada di garis depan pemadaman kebakaran.

"Kalau perlu, rontgen paru-parunya itu. Kasihan juga dia," kata Kristomei.

Selain pemeriksaan kesehatan, BNPB mendorong pembentukan posko operasi terpadu berdasarkan sebaran titik panas serta penerapan pelaporan jumlah personel secara transparan.

BNPB Usulkan Pemeriksaan Paru-Paru bagi Petugas Karhutla

Kristomei mengatakan petugas pemadam karhutla menghadapi risiko kesehatan karena harus bekerja di lingkungan dengan paparan asap yang tinggi.

Oleh karena itu, pemeriksaan medis secara menyeluruh dinilai perlu dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan personel selama dan setelah menjalankan tugas.

Salah satu pemeriksaan yang diusulkan adalah rontgen paru-paru untuk mengetahui kondisi organ pernapasan petugas.

BNPB juga meminta aspek kesejahteraan dan keselamatan petugas menjadi perhatian dalam setiap operasi penanganan kebakaran.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan perlindungan kepada personel yang terlibat langsung dalam pemadaman api di lapangan.

Posko Pemadaman Dibagi Berdasarkan Titik Panas

Untuk meningkatkan efektivitas penanganan karhutla, Kristomei mendorong pembentukan posko operasi kolaboratif berdasarkan kelompok wilayah titik panas atau hotspot.

Setiap posko harus memiliki penanggung jawab wilayah yang jelas agar koordinasi penanganan kebakaran berjalan terarah.

Selain itu, posko diwajibkan memiliki peta pembagian tugas, data jumlah personel, serta informasi peralatan dan alat utama sistem persenjataan yang dikerahkan.

Kristomei juga menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam pelaporan jumlah personel yang bertugas.

Menurutnya, jumlah petugas yang dilaporkan harus sesuai dengan kondisi sebenarnya agar dukungan operasional dan perlindungan dapat diberikan secara tepat.

"BNPB tetap mendukung, tapi juga kita akuntabilitas di lapangan. Kalau memang 100, dukung 100. Orang itu harus 100. Jangan dukung 100, orangnya 10. Nah, gitu ya. Jadi ada harus akuntabilitas di sini ya, bahwa yang kita kuatkan dengan estimasi syarat kinerjanya, sehingga kalau kurang, tambah lagi," kata Kristomei.

Ia menegaskan bahwa kesesuaian data personel menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan tambahan petugas dan dukungan operasional di lokasi kebakaran.

Kabut Asap Karhutla Picu Gangguan Kesehatan dan Korban Jiwa

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan BNPB hingga awal Oktober 2026, dampak karhutla dilaporkan menimbulkan gangguan kesehatan, termasuk keluhan pernapasan berat dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Data tersebut mencatat 324 orang mengalami luka berat, 23 orang luka ringan, dan empat orang dilaporkan meninggal dunia.

Sejumlah korban meninggal yang disebutkan antara lain Hardiansyah (41), pengemudi ojek daring di Palembang, Sumatera Selatan, serta Lisna, seorang guru sekolah dasar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Korban lainnya adalah Fikri alias Kelik (51), warga Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran lahan.

Laporan tersebut memperlihatkan adanya risiko kesehatan dan keselamatan yang dihadapi masyarakat maupun petugas selama kejadian karhutla.

Empat Orang Tewas dalam Kebakaran di Kawasan Gunung Bromo

Peristiwa karhutla juga dilaporkan menelan empat korban jiwa di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), pada Kamis (16/10/2026).

Kebakaran terjadi di Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Tiga korban yang meninggal di lokasi kejadian adalah Sefril dan Wisnu, relawan yang merupakan karyawan hotel setempat, serta Sukaris, petugas TNBTS.

Satu korban lainnya, Hendra Roni, yang juga merupakan petugas TNBTS, meninggal dunia di RSUD Tongas.

Sementara itu, dua korban yang mengalami luka bakar serius, yakni Munawi, petugas TNBTS, dan Suraji, relawan dari karyawan hotel setempat, dirujuk ke RSUD dr. Soetomo.

Rangkaian kejadian tersebut menjadi perhatian dalam upaya peningkatan keselamatan personel yang terlibat dalam operasi pemadaman karhutla.

BNPB menekankan perlunya pemeriksaan kesehatan, koordinasi posko, dan pendataan personel secara akurat untuk mendukung perlindungan petugas di lapangan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026