HOME  ⁄  Nasional

Dispertan Garut Prediksi Panen Padi Oktober Capai 7.869 Hektare, Produksi Gabah Meningkat Meski Kemarau

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Dispertan Garut Prediksi Panen Padi Oktober Capai 7.869 Hektare, Produksi Gabah Meningkat Meski Kemarau
Foto: Sejumlah petani melakukan panen padi di Desa Mangkurakyat, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).

Pantau - Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, memperkirakan luas panen padi sepanjang Oktober 2026 mencapai 7.869,07 hektare yang tersebar di 42 kecamatan, meskipun musim kemarau menyebabkan sebagian lahan pertanian mengalami kekeringan hingga gagal panen.

Kepala Dispertan Kabupaten Garut Ardhy Firdian mengatakan potensi panen tersebut mencakup kawasan pertanian di wilayah utara maupun selatan Garut.

"Estimasi panen di bulan Oktober ada 7.869,07 hektare di 42 kecamatan di Garut," kata Ardhy di Garut, Minggu (25/10/2026).

Menurutnya, ketersediaan air irigasi menjadi salah satu faktor yang memungkinkan petani tetap memanen padi selama musim kemarau.

Bungbulang dan Talegong Jadi Wilayah dengan Potensi Panen Terluas

Dispertan Garut mencatat Kecamatan Bungbulang memiliki potensi panen padi terluas pada Oktober 2026, yakni mencapai 447 hektare.

Kecamatan Talegong menyusul dengan perkiraan luas panen mencapai 439,5 hektare.

Sementara itu, Kecamatan Limbangan diperkirakan memiliki luas panen 345 hektare.

Potensi panen di Kecamatan Samarang mencapai 318,75 hektare, sedangkan Kecamatan Kadungora diperkirakan seluas 316,11 hektare.

Ardhy menjelaskan bahwa sejumlah wilayah tersebut masih dapat melakukan panen karena memiliki pasokan air yang mencukupi.

"Bisa panen di musim kemarau karena kan ada sawah-sawah kita yang masih punya cukup air dari irigasi," katanya.

Secara keseluruhan, Kabupaten Garut memiliki lahan sawah seluas 46.824,40 hektare dengan rata-rata produktivitas gabah kering panen (GKP) sebesar 69 kuintal per hektare.

Kemarau Sebabkan 221,40 Hektare Sawah Gagal Panen

Meski potensi panen masih cukup luas, musim kemarau tahun ini turut berdampak terhadap lahan pertanian di Kabupaten Garut.

Dispertan mencatat sebanyak 221,40 hektare sawah mengalami puso atau gagal panen akibat kekurangan air.

Luas lahan yang mengalami puso tersebut setara sekitar 0,47 persen dari total lahan sawah di Kabupaten Garut.

Ardhy mengatakan kondisi gagal panen terjadi pada lahan yang sama sekali tidak memperoleh pasokan air irigasi ketika tanaman masih membutuhkan air untuk pertumbuhan.

Sebagian lahan mengalami gangguan pengairan saat tanaman padi berusia sekitar dua bulan.

"Ada juga sawah-sawah yang memang sempat ditanam, sempat pada waktu perjalanannya itu tidak terairi akhirnya terancam, dan yang puso itu yang enggak sama sekali ada air," katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan dampak kemarau antara lahan yang memiliki akses irigasi dan lahan yang kekurangan pasokan air.

Produksi Gabah Garut Naik Menjadi 730.769 Ton

Di tengah dampak musim kemarau, produksi gabah kering panen Kabupaten Garut selama Januari hingga September 2026 justru mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Dispertan, produksi GKP pada sembilan bulan pertama 2026 mencapai 730.769 ton.

Sementara itu, produksi pada Januari hingga September 2025 tercatat sebanyak 701.422 ton.

Dengan demikian, produksi gabah Garut meningkat 29.347 ton atau sekitar 4,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ardhy menjelaskan peningkatan produksi tersebut berkaitan dengan percepatan masa tanam yang dilakukan pada awal tahun.

Saat itu, ketersediaan air dan intensitas hujan masih mencukupi untuk mendukung kegiatan pertanian.

Percepatan Tanam dan Irigasi Dukung Produksi Padi

Dispertan Garut menyebut percepatan tanam pada awal 2026 menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan produksi gabah.

Petani memanfaatkan kondisi curah hujan dan pasokan air yang masih memadai untuk memulai masa tanam lebih awal.

Langkah tersebut membantu menjaga produksi padi sebelum dampak musim kemarau semakin terasa.

Sementara itu, keberadaan jaringan irigasi memungkinkan sebagian lahan tetap menghasilkan panen pada Oktober.

Namun, lahan yang tidak mendapatkan pasokan air menghadapi risiko kekeringan hingga gagal panen.

Dengan estimasi panen mencapai 7.869,07 hektare pada Oktober 2026, Dispertan Garut mencatat kegiatan panen masih berlangsung di seluruh 42 kecamatan meskipun sebagian wilayah terdampak kemarau.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026