
Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menggunakan 14,3 ton bahan semai dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memperbesar potensi hujan dan mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Sebanyak 14.300 kilogram bahan semai tersebut digunakan melalui 15 penerbangan berdasarkan data pelaksanaan operasi hingga 23 Oktober 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan perkembangan tersebut dalam keterangan yang diterima di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (27/10/2026).
"Penyemaian tersebut dilakukan dalam 15 kali penerbangan atau sortie berdasarkan pemantauan data pelaksanaan pada 23 Oktober 2026," kata Berton.
Selain operasi modifikasi cuaca, pemerintah mengerahkan 57.050 personel dan 61 armada udara untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi.
Kalimantan Tengah Gunakan 7,2 Ton Bahan Semai
BNPB mencatat operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah menggunakan 7.200 kilogram bahan semai melalui delapan penerbangan.
Jumlah tersebut terdiri atas 5.200 kilogram es kering atau dry ice untuk membantu mengurai kabut asap dan 2.000 kilogram natrium klorida (NaCl) untuk penyemaian awan.
Operasi dilakukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Namun, berdasarkan laporan pelaksanaan hingga 23 Oktober 2026, belum terdapat laporan hujan turun di wilayah sasaran operasi di Kalimantan Tengah.
BNPB terus menyesuaikan pelaksanaan modifikasi cuaca dengan kondisi atmosfer di wilayah penanganan.
Operasi di Sumatera Selatan Perbaiki Jarak Pandang
Sementara itu, operasi modifikasi cuaca di Sumatera Selatan dilaksanakan melalui tujuh penerbangan dengan penggunaan 7.100 kilogram bahan semai.
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, operasi tersebut dilaporkan berhasil memperbaiki jarak pandang menjelang siang hari.
Perbaikan jarak pandang menjadi salah satu hasil yang dicatat dalam pelaksanaan penanganan kabut asap akibat karhutla.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB juga melaporkan hasil positif dari pelaksanaan modifikasi cuaca di wilayah Kalimantan lainnya.
Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di tujuh kabupaten di Kalimantan Barat, termasuk wilayah sasaran Sekadau, Ketapang, dan Sintang.
Hujan juga dilaporkan turun di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Ribuan Hektare Lahan di Kalimantan dan Sumatera Masih Ditangani
Berdasarkan pemutakhiran data BNPB pada Minggu (25/10/2026), luas lahan terdampak karhutla yang masih dalam penanganan di Pulau Kalimantan dilaporkan mencapai 3.392 hektare.
Di Kalimantan Tengah, luas lahan yang masih ditangani tercatat 2.458 hektare.
Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat 884 hektare dan Kalimantan Selatan 52 hektare.
Di Pulau Sumatera, luas lahan yang masih dalam penanganan dilaporkan mencapai sekitar 990 hektare.
Wilayah tersebut meliputi Sumatera Selatan seluas 889 hektare, Jambi 89 hektare, dan Lampung 12 hektare.
Kawasan yang terdampak di Lampung berada di Taman Nasional Way Kambas.
Pemerintah Kerahkan 57.050 Personel dan 61 Armada Udara
Untuk mempercepat penanganan kebakaran, pemerintah menyiagakan 57.050 personel satuan tugas pemadaman darat di enam provinsi.
Berdasarkan pemutakhiran data pada 26 Oktober 2026, operasi tersebut juga didukung 61 unit armada udara.
Armada tersebut terdiri atas 24 unit pesawat untuk patroli, pengangkutan, dan operasi modifikasi cuaca, serta 37 helikopter pengeboman air atau water bombing.
Pengerahan armada udara dilakukan untuk mendukung pemadaman di wilayah kebakaran sekaligus membantu penanganan kabut asap.
Selain dukungan udara, petugas di lapangan menggunakan berbagai perlengkapan pemadaman untuk menjangkau titik kebakaran.
"Pemadaman ini didukung berbagai peralatan, antara lain selang pemadam, selang hisap, nozel, sepatu bot, pompa portabel, pompa punggung, pemukul api, dan radio komunikasi," pungkas Berton.
Pemerintah melanjutkan penanganan karhutla melalui pemadaman darat, pengerahan armada udara, dan operasi modifikasi cuaca yang disesuaikan dengan kondisi atmosfer.
- Penulis :
- Aditya Yohan




