
Pantau - Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Kabupaten Kepulauan Seribu mencatat sebanyak 38 kasus stunting atau gangguan pertumbuhan anak hingga Oktober 2026, dengan kekurangan asupan gizi menjadi penyebab utama yang mencapai 76,74 persen.
Kepala Sudinkes Kabupaten Kepulauan Seribu, dr. Ghamal Ahmad Permana, mengatakan selain kekurangan gizi, infeksi juga menjadi faktor penyebab stunting dengan persentase sebesar 13,9 persen.
Data tersebut disampaikan Ghamal di Jakarta, Selasa (27/10/2026), saat menjelaskan kondisi stunting dan upaya penanganannya di wilayah Kepulauan Seribu.
“Kami mencatat dua hal ini menjadi penyebab utama kasus stunting di Kepulauan Seribu. Asupan gizi kurang, yakni 76,74 persen dan infeksi 13,9 persen,” kata Ghamal.
Sebanyak 38 Kasus Stunting Tercatat hingga Oktober 2026
Berdasarkan data Sudinkes Kepulauan Seribu, jumlah kasus stunting yang tercatat hingga Oktober 2026 mencapai 38 anak.
Jumlah tersebut setara dengan prevalensi stunting sebesar 2,24 persen di wilayah Kepulauan Seribu.
Ghamal menyebut angka tersebut masih berada di bawah batas maksimal nasional sebesar 15 persen yang menjadi acuan dalam keterangannya.
"Angka di bawah nilai maksimal nasional yaitu, 15 persen,” kata Ghamal.
Meski prevalensinya berada di bawah angka tersebut, pemerintah daerah tetap menjalankan berbagai langkah penanganan untuk mencegah bertambahnya kasus.
Balita Stunting Dirujuk ke RSUD dan Ditangani Dokter Spesialis
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menangani balita yang terdiagnosis stunting.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah merujuk balita ke rumah sakit umum daerah (RSUD) agar memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Selain rujukan, puskesmas juga dapat melakukan konsultasi secara daring dengan dokter spesialis anak di RSUD.
Layanan tersebut ditujukan untuk membantu tenaga kesehatan di wilayah kepulauan dalam menangani kasus gangguan pertumbuhan anak.
Ghamal mengatakan dokter spesialis anak turut melakukan kunjungan langsung ke sejumlah pulau untuk mendukung pelayanan kesehatan di puskesmas dan puskesmas pembantu.
“Dokter spesialis anak juga melakukan kunjungan ke pulau-pulau tempat puskesmas dan puskesmas pembantu dalam mengintervensi penyakit tersebut,” kata dia.
Balita Stunting Mendapat Pangan Olahan Medis Khusus
Selain pemeriksaan kesehatan, balita yang telah terdiagnosis stunting juga mendapatkan intervensi gizi sesuai kebutuhan medis.
Salah satu bentuk penanganannya adalah pemberian pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK).
Pemberian PKMK dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Nomor 252 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus bagi Balita Bermasalah Gizi.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menangani masalah gizi pada anak yang telah teridentifikasi mengalami gangguan pertumbuhan.
Penanganan dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Posyandu Lakukan Pemantauan Berat Badan Setiap Bulan
Sudinkes Kepulauan Seribu juga menjalankan pemantauan rutin terhadap pertumbuhan balita melalui kegiatan posyandu.
Pemantauan tersebut mencakup penimbangan berat badan anak setiap bulan untuk mengetahui perkembangan kondisi gizinya.
Selain pelayanan di posyandu, petugas kesehatan melakukan kunjungan rumah sebagai bagian dari penanganan balita yang mengalami stunting.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pemantauan dan tindak lanjut penanganan dapat menjangkau anak-anak di wilayah kepulauan.
Pemerintah Perkuat Kerja Sama Lintas Sektor Cegah Stunting
Ghamal mengatakan pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan berbagai instansi pemerintah.
Sudinkes dan puskesmas menjalin kerja sama dengan sejumlah organisasi perangkat daerah untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan.
Instansi yang terlibat antara lain Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP), Suku Dinas Pendidikan, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA), serta Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP).
“ Kami dan puskesmas juga menjalin kerjasama dengan lintas sektor terkait seperti Sudin PPAPP, Sudin Pendidikan, Sudin SDA, Sudin KPKP, dan pemangku kebijakan lainnya untuk mengintervensi dan mencegah terjadinya stunting di Kepulauan Seribu,” ujar Ghamal.
- Penulis :
- Aditya Yohan




