HOME  ⁄  Nasional

BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG di Sumbawa Usai 34 Siswa Alami Gangguan Kesehatan

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG di Sumbawa Usai 34 Siswa Alami Gangguan Kesehatan
Foto: Ilustrasi - Petugas menyiapkan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) (sumber: ANTARA FOTO/Akramul Muslim)

Pantau - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumbawa Tarano Labuhan Bontong, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah 34 siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami gangguan kesehatan pada Selasa (27/10/2026).

Penghentian sementara tersebut dilakukan dengan status suspend kategori sedang sambil menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan oleh instansi terkait untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan para siswa.

Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, menyampaikan perkembangan penanganan kejadian tersebut di Jakarta, Rabu (28/10/2026), sekaligus memastikan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan dan penyajian makanan di SPPG terkait.

"SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong saat ini sudah diberikan surat pemberhentian sementara atau suspend dengan kategori sedang. Berkaitan dengan tindak lanjutnya, kami akan menunggu hasil pemeriksaan makanan oleh instansi terkait," kata Tysa.

Sebanyak 34 Siswa Jalani Observasi Medis di Dua Puskesmas

Berdasarkan laporan penanganan hingga Selasa (27/10/2026) pukul 22.35 WITA, sebanyak 34 siswa penerima manfaat Program MBG telah menjalani observasi medis di dua fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 32 siswa menjalani pemeriksaan dan penanganan medis di Puskesmas Tarano.

Sementara itu, dua siswa lainnya mendapatkan pemeriksaan dan pemantauan kondisi kesehatan di Puskesmas Empang.

BGN melaporkan kondisi kesehatan para siswa yang terdampak berangsur membaik setelah mendapatkan pelayanan medis dari fasilitas kesehatan setempat.

Sebanyak dua siswa juga telah diperbolehkan kembali ke rumah setelah kondisi kesehatannya dinilai memungkinkan.

Selain melakukan evaluasi terhadap SPPG, BGN menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa yang mengalami gangguan kesehatan, orang tua, serta pihak sekolah yang terdampak.

BGN menyatakan memahami kekhawatiran keluarga siswa dan memastikan koordinasi dengan berbagai pihak terkait terus dilakukan untuk mendukung penanganan serta proses investigasi kejadian tersebut.

Menu Telur Saus Woku Diduga Jadi Sumber Gangguan Kesehatan

Berdasarkan hasil investigasi awal, dugaan sementara sumber gangguan kesehatan para siswa mengarah pada menu telur saus woku yang disajikan melalui Program MBG.

Dugaan tersebut muncul setelah dilakukan penelusuran terhadap tahapan pengolahan makanan, termasuk waktu perebusan telur yang digunakan dalam menu tersebut.

Berdasarkan keterangan awal Kepala SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong, proses perebusan telur dilakukan sekitar pukul 00.00 WITA.

Padahal, berdasarkan prosedur pengolahan makanan yang seharusnya diterapkan di SPPG tersebut, perebusan telur baru dijadwalkan dimulai pada pukul 02.00 WITA.

Dengan demikian, terdapat selisih waktu sekitar dua jam antara pelaksanaan perebusan telur yang dilaporkan dan jadwal yang telah ditetapkan dalam prosedur pengolahan makanan.

Perbedaan waktu tersebut menjadi salah satu temuan awal yang sedang ditelusuri dalam proses investigasi.

Meski demikian, BGN menegaskan bahwa temuan mengenai waktu perebusan telur maupun dugaan terhadap menu telur saus woku belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan siswa.

Penyebab pasti kejadian tersebut masih harus menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan oleh instansi terkait.

BGN Evaluasi Proses Pengolahan hingga Penyajian Makanan

Tysa menjelaskan, evaluasi terhadap SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong dilakukan untuk memastikan seluruh proses pelayanan makanan telah berjalan sesuai standar operasional dan ketentuan keamanan pangan.

Pemeriksaan mencakup berbagai tahapan, mulai dari penyiapan bahan pangan, proses pengolahan, hingga penyajian makanan kepada siswa penerima manfaat.

Penelusuran tersebut bertujuan mengidentifikasi kemungkinan adanya prosedur yang belum dilaksanakan sesuai ketentuan.

"Kami menelusuri setiap tahapan, mulai dari pengolahan hingga penyajian makanan, untuk mengetahui apakah terdapat prosedur yang belum dijalankan sesuai ketentuan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi langkah perbaikan agar standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten," jelas Tysa.

Menurut BGN, setiap temuan yang diperoleh selama pemeriksaan akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah perbaikan terhadap operasional SPPG.

Hasil evaluasi juga akan digunakan untuk memperkuat sistem pengawasan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam pelaksanaan Program MBG.

Pengawasan Keamanan Pangan Program MBG Diperketat

BGN menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, khususnya dalam penerapan standar keamanan pangan di seluruh tahapan pelayanan.

Pengawasan tersebut mencakup proses penyiapan bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian kepada penerima manfaat.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap makanan yang disalurkan melalui Program MBG memenuhi ketentuan keamanan pangan yang berlaku.

"Setiap temuan akan ditindaklanjuti melalui evaluasi sesuai ketentuan. Kami juga terus memperkuat pengawasan agar seluruh tahapan pelayanan, mulai dari penyiapan bahan, pengolahan, hingga penyajian makanan, memperhatikan standar keamanan pangan," tegas Tysa.

BGN memastikan keputusan penghentian sementara operasional SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong akan ditindaklanjuti berdasarkan hasil pemeriksaan dan evaluasi yang dilakukan.

Hingga Rabu (28/10/2026), penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami 34 siswa di Kabupaten Sumbawa belum ditetapkan karena proses investigasi dan pemeriksaan sampel makanan masih berlangsung.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026