HOME  ⁄  Nasional

PDIP Gelar Dialog Lintas Generasi Peringati 98 Tahun Sumpah Pemuda, Ahok dan Tom Lembong Soroti Masa Depan Gen Z

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

PDIP Gelar Dialog Lintas Generasi Peringati 98 Tahun Sumpah Pemuda, Ahok dan Tom Lembong Soroti Masa Depan Gen Z
Foto: (Sumber :DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga bersama Millennium Public Pulse 28 menggelar dialog antargenerasi dalam rangka memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. (ANTARA/HO-PDIP).)

Pantau - DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga bersama Millennium Public Pulse 28 menggelar dialog lintas generasi untuk memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda dengan membahas tantangan generasi muda, mulai dari pendidikan, kondisi ekonomi, hingga pentingnya kebijakan pemerintah yang berbasis data.

Dialog yang berlangsung pada Rabu (28/10/2026) tersebut menghadirkan Tom Lembong, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Saddam Permana, dan Gustika Jusuf Hatta sebagai narasumber.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (29/10/2026), diskusi tersebut dipandu oleh M. Syaeful Mujab dan menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam penyusunan kebijakan publik.

Keempat narasumber menekankan bahwa persoalan yang dihadapi Generasi Z tidak dapat diselesaikan melalui kebijakan yang mengabaikan data dan pengalaman kelompok muda.

Ahok Ingatkan Pejabat Pentingnya Mendengar Aspirasi Masyarakat

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menekankan pentingnya kepemimpinan yang bersedia mendengarkan aspirasi dan pengaduan masyarakat.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, setiap permintaan maupun keluhan warga perlu mendapatkan tanggapan dengan cara yang santun.

Ahok mengungkapkan bahwa pengalamannya memimpin Jakarta memberikan pelajaran mengenai pentingnya kajian dan dialog sebelum pemerintah mengambil keputusan.

Ia mencontohkan kebijakan relokasi warga ke rumah susun yang ternyata menimbulkan dampak terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pemindahan warga dari permukiman sebelumnya dapat mengganggu usaha kecil dan hubungan sosial yang telah terbentuk di lingkungan tempat tinggal.

"Dulu kami pindahkan orang, kami berpikir untuk kebaikan dia, ternyata orang yang tinggal di gang-gang sempit itu dia bisa dagang," kata Ahok tentang kepemimpinannya di DKI Jakarta ketika itu.

Pengalaman tersebut kemudian mendorong Ahok mengubah rancangan rumah susun agar menyediakan ruang bagi kegiatan usaha warga.

"Jadi kami harus jadi pejabat adalah administrator untuk mewujudkan keadilan sosial," ujarnya.

Gustika Jusuf Hatta Kritik Kebijakan yang Abaikan Data

Peneliti Gustika Jusuf Hatta menyoroti penggunaan data dalam proses penyusunan kebijakan pemerintah.

Menurutnya, berbagai data yang telah dikumpulkan melalui proses panjang sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal oleh pembuat kebijakan.

"Banyak data yang dikumpulkan dengan banyak tenaga yang selalu disodorkan ke pembuat kebijakan tapi selalu kayanya nggak pernah dilihat," katanya.

Gustika juga mengingatkan bahwa generasi muda tidak dapat dipandang sebagai satu kelompok dengan kebutuhan yang seragam.

Ia menjelaskan bahwa Generasi Z dan milenial menghadapi persoalan yang berbeda, termasuk dalam hal akses terhadap teknologi.

Menurutnya, ketimpangan akses teknologi menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan ketika pemerintah merancang kebijakan bagi kelompok muda.

Gustika turut menyoroti respons terhadap generasi muda yang menyampaikan kritik.

"Orang muda ketika kritis bukan hanya dibungkam tapi juga dikriminalisasi," tuturnya.

Ia menyebut tekanan terhadap kelompok muda juga terjadi di ruang digital, termasuk melalui serangan terhadap mereka yang menyampaikan pendapat.

Gustika menambahkan bahwa generasi muda berasal dari beragam latar belakang profesi, mulai dari peneliti, dokter, petugas pemadam kebakaran, seniman, hingga wirausaha.

Perbedaan latar belakang tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian dalam merumuskan kebijakan yang menyangkut kepentingan generasi muda.

Saddam Permana Soroti Ketimpangan Ekonomi dan Akses Pendidikan

Kreator konten Saddam Permana menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang dinilainya tidak dapat digambarkan hanya melalui pola konsumsi sebagian kelompok.

Ia mengingatkan bahwa kepemilikan barang mahal tidak dapat dijadikan ukuran untuk menggambarkan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

"Orang yang beli iPhone itu tidak merepresentasikan seluruh ekonomi masyarakat Indonesia," ujarnya.

Saddam menggunakan contoh kebutuhan primer untuk menjelaskan perbedaan antara kebutuhan mendasar dan konsumsi yang bukan prioritas.

Ia menyinggung kondisi ketika kebakaran hutan dan lahan menyebabkan seratus ribu orang terpapar infeksi saluran pernapasan akut.

Dalam situasi tersebut, Saddam menilai udara bersih merupakan kebutuhan primer yang lebih mendesak dibandingkan kegiatan seperti berlibur ke luar negeri.

Selain persoalan ekonomi, ia menempatkan pendidikan sebagai salah satu isu paling mendasar bagi generasi muda.

"Pendidikan itu adalah dasar yang merupakan hak asasi manusia kita bersama," tegasnya.

Saddam juga menyinggung persoalan anak-anak di Aceh dan Lombok yang mengalami hambatan dalam mengakses pendidikan.

Tom Lembong Ingatkan Dampak Krisis Ekonomi terhadap Generasi Muda

Sementara itu, Tom Lembong menilai generasi muda berpotensi menghadapi tekanan paling berat apabila kondisi perekonomian mengalami guncangan.

Menurutnya, ketidakstabilan ekonomi dapat membawa tantangan besar bagi kelompok muda dalam membangun masa depan.

Meski demikian, Tom mengingatkan bahwa krisis tidak selalu berakhir dengan kemunduran.

Ia menilai sejarah menunjukkan bahwa sejumlah krisis justru menjadi momentum lahirnya reformasi yang memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.

Tom mencontohkan pengalaman sejumlah negara Eropa serta perubahan yang terjadi di Indonesia setelah 1998.

Pandangan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai tantangan ekonomi dan peluang perubahan yang dapat dihadapi generasi muda.

PDIP Siapkan Forum Dialog hingga Peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda

Dialog lintas generasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan PDI Perjuangan dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Melalui Millennium Public Pulse 28, penyelenggara berupaya menyediakan ruang diskusi mengenai persoalan publik dan masa depan generasi muda.

Forum tersebut dirintis sebagai kegiatan dialog yang diselenggarakan setiap tanggal 28.

Penyelenggara merencanakan kegiatan tersebut terus berlangsung hingga peringatan satu abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028.

Pembahasan dalam forum itu menekankan pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan pandangan mereka dalam menentukan masa depan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026