
Pantau - Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau), Marsekal Pertama TNI Feri Yunaldi, memastikan sebanyak 11 pesawat angkut TNI AU yang dikerahkan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada dalam kondisi siap digunakan.
Feri menyampaikan bahwa TNI AU terus melakukan pemeliharaan dan pemeriksaan untuk memastikan kesiapan pesawat angkut dalam menjalankan misi penanganan karhutla secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Feri saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Kamis (29/10/2026), terkait upaya menjaga kondisi mesin pesawat di tengah tingginya intensitas penerbangan untuk mendukung operasi penanganan karhutla.
Menurutnya, kesiapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan peralatan pendukung misi menjadi perhatian penting agar seluruh kegiatan operasi berjalan lancar tanpa terganggu persoalan teknis.
TNI AU Kerahkan Koharmatau untuk Periksa dan Rawat Pesawat
Untuk menjaga kesiapan operasional, TNI AU melalui Komando Pemeliharaan Materiel TNI AU (Koharmatau) bekerja sama dengan satuan pemeliharaan terkait dalam melaksanakan pemeriksaan dan perawatan pesawat.
Kegiatan tersebut meliputi penyiapan peralatan, pemeriksaan kondisi teknis, perbaikan apabila ditemukan kendala, serta pengujian untuk memastikan seluruh sistem berfungsi sebagaimana mestinya.
“Untuk memastikan alutsista dan peralatan misi siap digunakan secara berkelanjutan, TNI AU melalui Komando Pemeliharaan Materiel TNI AU (Koharmatau) bersama satuan pemeliharaan terkait melaksanakan penyiapan, pemeriksaan, perbaikan, dan pengujian,” kata Feri saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Feri menjelaskan bahwa pemeriksaan tidak hanya difokuskan pada kondisi mesin pesawat, tetapi juga mencakup berbagai peralatan khusus yang digunakan dalam pelaksanaan misi penanganan karhutla.
Salah satu perangkat yang mendapatkan perhatian adalah mesin semai, yakni peralatan yang digunakan untuk mendukung kegiatan penyemaian bahan dalam operasi modifikasi cuaca (OMC).
TNI AU melakukan pemeriksaan mesin semai secara rutin untuk memastikan perangkat tersebut tetap berfungsi dengan baik ketika digunakan dalam operasi di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Feri, pemeriksaan menyeluruh diperlukan karena aktivitas penerbangan dalam misi penanganan karhutla berlangsung dengan intensitas tinggi.
TNI AU Libatkan BRIN dan Teknisi Depohar dalam Pemeliharaan
Selain mengandalkan satuan pemeliharaan internal, TNI AU melibatkan instansi di luar lingkungan militer untuk mendukung pemeriksaan dan pemeliharaan mesin pesawat serta peralatan operasi.
Salah satu lembaga yang terlibat adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang bekerja sama dengan teknisi dari sejumlah Depo Pemeliharaan (Depohar) TNI AU.
Pelibatan pihak eksternal tersebut dilakukan untuk memperkuat dukungan teknis sekaligus memastikan proses pemeriksaan dapat dilaksanakan secara maksimal sesuai kebutuhan operasional.
Feri menjelaskan bahwa teknisi dari berbagai Depohar dilibatkan berdasarkan bidang kompetensi masing-masing agar pemeriksaan dan pemeliharaan dapat dilakukan sesuai kebutuhan teknis peralatan.
“Kegiatan pemeriksaan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta teknisi dari sejumlah Depohar (Depo Pemeliharaan) sesuai kompetensinya. Kesiapan peralatan dan dukungan teknis menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran serta kesinambungan pelaksanaan operasi,” ucap Feri.
Menurutnya, kesiapan peralatan dan ketersediaan dukungan teknis merupakan faktor penting untuk memastikan operasi penanganan karhutla dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
Ia menekankan bahwa kondisi pesawat dan perangkat pendukung harus terus dijaga agar mampu menjalankan tugas di tengah tingginya kebutuhan penerbangan operasional.
Sebanyak 11 Pesawat Angkut TNI AU Dukung Operasi Modifikasi Cuaca
Feri mengungkapkan bahwa saat ini sebanyak 11 pesawat angkut TNI AU masih beroperasi untuk mendukung berbagai kegiatan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Seluruh pesawat yang dikerahkan tersebut dipastikan masih berfungsi dengan baik dan dapat menjalankan tugas sesuai kebutuhan operasi di lapangan.
Pesawat-pesawat tersebut memiliki sejumlah tugas penting, salah satunya mengangkut dan mengantarkan logistik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Selain mendukung distribusi logistik, pesawat angkut TNI AU juga digunakan dalam kegiatan penyemaian garam di wilayah terdampak karhutla sebagai bagian dari upaya menciptakan hujan melalui operasi modifikasi cuaca.
Penyemaian garam tersebut ditujukan untuk mendukung pembentukan hujan sehingga dapat membantu upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan yang menjadi sasaran operasi.
TNI AU terus memastikan kesiapan pesawat, mesin semai, serta berbagai peralatan pendukung agar pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dan distribusi logistik berjalan sesuai kebutuhan penanganan karhutla.
Pemeriksaan Rutin Dilakukan untuk Jaga Kelancaran Operasi Karhutla
Feri menegaskan bahwa pemeriksaan, pemeliharaan, dan pengujian akan terus menjadi bagian penting dalam menjaga kemampuan operasional pesawat angkut yang dikerahkan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kendala teknis yang berpotensi mengganggu kelancaran penerbangan dan pelaksanaan misi penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Dukungan Koharmatau, keterlibatan BRIN, serta tenaga teknis dari berbagai Depohar menjadi bagian dari upaya TNI AU menjaga kesiapan alutsista dan peralatan pendukung operasi.
Dengan kesiapan 11 pesawat angkut tersebut, TNI AU berupaya memastikan kegiatan distribusi logistik dan operasi modifikasi cuaca dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Feri memastikan seluruh pesawat yang dikerahkan akan terus dijaga kondisinya agar dapat berfungsi dengan baik dan mendukung keberhasilan penanganan karhutla.
- Penulis :
- Arian Mesa




