HOME  ⁄  Nasional

Unhas dan Climateworks Centre Petakan Potensi Karbon Biru Sulsel, Dorong Investasi Berkelanjutan dan Perlindungan Masyarakat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Unhas dan Climateworks Centre Petakan Potensi Karbon Biru Sulsel, Dorong Investasi Berkelanjutan dan Perlindungan Masyarakat
Foto: (Sumber :Suasana kegiatan lokakarya yang dilaksanakan Sesreg Universitas Hasanuddin bersama Climateworks Centre di Makassar. ANTARA/HO-Unhas.)

Pantau - Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Climateworks Centre menggelar lokakarya untuk menggali potensi pengembangan karbon biru (blue carbon) di Sulawesi Selatan melalui pemetaan ekosistem lamun, penguatan regulasi, dan peluang investasi berkelanjutan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Seagrass Restoration and Ecosystem Services Research Group (Sesreg) Unhas sebagai upaya mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Ketua Sesreg Unhas, Prof Rohani Ambo Rappe, mengatakan ekosistem lamun memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon yang berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Selain menyimpan karbon, padang lamun juga menjadi habitat berbagai biota laut, mendukung kegiatan perikanan, dan membantu melindungi kawasan pesisir.

"Potensi ini membuka peluang pengembangan karbon biru yang menghubungkan mitigasi perubahan iklim dengan kesejahteraan masyarakat pesisir," ujar Rohani dalam keterangannya di Makassar, Jumat (30/10/2026).

Unhas Petakan Wilayah Potensial untuk Pengembangan Karbon Biru

Lokakarya yang diselenggarakan bersama Climateworks Centre diarahkan untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki potensi pengembangan proyek karbon biru di Sulawesi Selatan.

Rohani menjelaskan bahwa pengembangan karbon biru tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan ekosistem dalam menyerap karbon.

Menurutnya, proyek tersebut membutuhkan dukungan bukti ilmiah, tata kelola transparan, regulasi yang memadai, serta mekanisme pembiayaan yang bertanggung jawab.

“Pendekatan tersebut diharapkan membantu menjembatani kebijakan iklim, dasar ilmiah valuasi ekosistem, dan mekanisme pembiayaan yang dapat diterapkan secara bertanggung jawab,” kata Prof Rohani.

Pemetaan wilayah potensial harus mempertimbangkan kondisi ekosistem, jumlah cadangan karbon, risiko kerusakan lingkungan, serta pemanfaatan ruang oleh masyarakat setempat.

Rohani mengingatkan bahwa kawasan dengan cadangan karbon besar belum tentu layak dikembangkan sebagai proyek karbon biru.

Kelayakan pengembangan juga bergantung pada kejelasan pengelolaan wilayah dan potensi konflik pemanfaatan ruang.

Ekosistem Lamun Berperan dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Ekosistem lamun menjadi salah satu fokus pengembangan karbon biru karena kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon.

Keberadaan padang lamun juga mendukung keseimbangan ekosistem laut dan menyediakan tempat hidup bagi berbagai organisme perairan.

Bagi masyarakat pesisir, ekosistem tersebut memiliki manfaat dalam mendukung aktivitas perikanan dan menjaga kondisi lingkungan pantai.

Karena itu, pengembangan karbon biru diarahkan agar memberikan manfaat lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Namun, pengembangan proyek tetap membutuhkan kajian ilmiah untuk memastikan manfaat yang dihasilkan dapat diukur dan dipertanggungjawabkan.

Hak Masyarakat Pesisir Harus Dilindungi dalam Investasi Karbon Biru

Selain aspek lingkungan, Sesreg Unhas menekankan pentingnya perlindungan hak masyarakat pesisir dalam pelaksanaan proyek karbon biru.

Rohani menyebut penerapan prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC) atau Persetujuan di Awal Tanpa Paksaan sebagai bagian penting dari pengembangan proyek.

Prinsip tersebut bertujuan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang memadai sebelum memberikan persetujuan terhadap kegiatan yang memengaruhi wilayah dan sumber penghidupan mereka.

Keterlibatan masyarakat juga diperlukan dalam proses pengambilan keputusan agar pelaksanaan proyek tidak mengabaikan kepentingan warga setempat.

"Mekanisme pembagian manfaat harus transparan agar peluang ekonomi tidak hanya dinikmati investor, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut," kata Prof Rohani.

Menurutnya, transparansi pembagian manfaat menjadi salah satu syarat penting untuk menjaga integritas proyek karbon biru.

Kolaborasi Unhas dan Climateworks Centre Dorong Kebijakan Karbon Biru

Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Prof Mahatma Lanuru, menyambut kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan karbon biru di Sulawesi Selatan.

Ia berharap kerja sama tersebut dapat memperkuat pemahaman bersama mengenai potensi ekosistem pesisir dan kebutuhan pengelolaannya.

Lokakarya juga diharapkan membantu menentukan wilayah prioritas serta merumuskan langkah kebijakan yang diperlukan untuk pengembangan proyek.

Melalui kolaborasi tersebut, Unhas dan Climateworks Centre berupaya menghubungkan hasil penelitian ilmiah dengan kebijakan iklim serta peluang pembiayaan lingkungan.

Pengembangan karbon biru di Sulawesi Selatan diharapkan dapat berjalan dengan memperhatikan kelestarian ekosistem, kepastian tata kelola, dan kepentingan masyarakat pesisir.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026