
Pantau - Film Merah Sebelum Fajar (Red Before Dawn) karya sutradara Garin Nugroho berhasil menembus kompetisi utama Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-39 tahun 2026 dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam kategori tersebut.
Film tersebut menjalani penayangan perdana dunia di Hulic Hall Tokyo, Jepang, pada Selasa (27/10/2026), dengan momen emosional ketika Garin Nugroho menangis setelah pemutaran berakhir.
Garin mengaku tangisnya dipicu perasaan getir, marah, dan geram yang telah lama dipendam ketika menyaksikan berbagai peristiwa kekerasan di Indonesia maupun negara lain.
“Aku nggak pernah nangis di panggung,” kata Garin saat berbincang dengan ANTARA di Tokyo setelah penayangan perdana film tersebut.
Keikutsertaan Merah Sebelum Fajar menjadi pencapaian penting bagi perfilman Indonesia karena film tersebut berhasil masuk dalam daftar 15 karya yang bersaing pada kategori kompetisi utama TIFF 2026.
Pada penyelenggaraan tahun ini, festival menerima 1.892 film dari 112 negara dan wilayah sebelum menetapkan karya-karya yang lolos seleksi.
Garin Nugroho Menangis Usai Penayangan Perdana Merah Sebelum Fajar
Penayangan perdana Merah Sebelum Fajar di Hulic Hall Tokyo menjadi momen emosional bagi Garin Nugroho.
Sutradara tersebut mengaku tidak dapat menahan tangis setelah menyaksikan filmnya diputar untuk pertama kalinya di hadapan penonton festival.
Menurut Garin, emosi tersebut berkaitan dengan pengalaman panjangnya menyaksikan berbagai bentuk kekerasan dan penderitaan manusia.
Ia menyoroti kondisi masyarakat yang menjadi korban kekerasan, bencana, serta kerusakan lingkungan tanpa mendapatkan perhatian yang memadai.
“Terlalu banyak kekerasan dalam kehidupan ini, jadi katarsis. Dan banyak orang-orang yang terkena bencana dan kekerasan, tapi tidak diperhatikan. Jadi banyak ketidakberdayaan, korban kekerasan, korban kerusakan alam yang bukan jadi dosa mereka,” papar Garin.
Garin menyebut pengalaman emosional tersebut berbeda dari sejumlah momen penting yang pernah dialaminya selama mengikuti festival film internasional.
Bahkan, ketika menerima penghargaan bergengsi di Tokyo pada masa lalu, ia mengaku tidak pernah menangis di atas panggung.
Merah Sebelum Fajar Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Kompetisi Utama TIFF 2026
Film Merah Sebelum Fajar berhasil masuk dalam kompetisi utama Tokyo International Film Festival ke-39 yang diikuti berbagai negara.
Festival tersebut menerima 1.892 pendaftaran film dari 112 negara dan wilayah pada penyelenggaraan 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 film terpilih untuk bersaing dalam kategori kompetisi utama.
Karya Garin Nugroho menjadi satu-satunya film Indonesia yang masuk dalam persaingan kategori tersebut.
Kelima belas film terpilih memperebutkan sejumlah penghargaan utama yang diberikan oleh penyelenggara festival.
Penghargaan tersebut mencakup Tokyo Grand Prix, Penghargaan Khusus Juri, Sutradara Terbaik, Aktris Terbaik, Aktor Terbaik, dan Kontribusi Artistik Terbaik.
Keikutsertaan film Indonesia dalam kompetisi tersebut membuka kesempatan bagi karya sineas nasional untuk dinilai bersama film-film dari berbagai negara.
Namun, masuknya Merah Sebelum Fajar dalam daftar kompetisi belum berarti film tersebut telah memenangkan salah satu penghargaan.
Garin Nugroho Pernah Raih Penghargaan di Festival Film Tokyo pada 1994 dan 1998
Keikutsertaan Merah Sebelum Fajar menambah perjalanan panjang Garin Nugroho bersama Tokyo International Film Festival.
Hubungan Garin dengan festival yang pertama kali diselenggarakan pada 1985 tersebut telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.
Pada 1994, Garin meraih penghargaan Gold Prize melalui film Surat untuk Bidadari.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan internasionalnya sebagai sutradara.
Empat tahun kemudian, film Daun di Atas Bantal juga mendapatkan penghargaan Special Jury Prize pada TIFF 1998.
Garin mengenang kedua pencapaian tersebut ketika membicarakan pengalamannya kembali ke Tokyo melalui Merah Sebelum Fajar.
“Dapat penghargaan 20 juta yen, film terbaik (Surat untuk Bidadari). Daun di Atas Bantal dapat Special Jury Prize (tahun 1998). Tapi ya nggak nangis!” kenang Garin.
Menurutnya, pengalaman emosional pada penayangan film terbaru kali ini tidak sama dengan ketika menerima penghargaan pada masa sebelumnya.
Tangis tersebut lebih berkaitan dengan persoalan kemanusiaan yang selama ini menjadi perhatian dan kegelisahannya.
Judul Merah Sebelum Fajar Mengandung Makna Keberanian dan Harapan
Garin Nugroho juga mengaitkan judul Merah Sebelum Fajar dengan berbagai makna yang saling bertentangan.
Warna merah dapat menjadi simbol keberanian dan semangat, tetapi juga berkaitan dengan darah.
Sementara itu, fajar menggambarkan keadaan peralihan antara kegelapan dan terang yang dapat dimaknai sebagai harapan.
“Merah adalah penanda umum keberanian, semangat tapi juga darah dan sebagainya. Fajar antara harapan gelap dan terang. Jadi banyak paradoks dalam kata Merah Sebelum Fajar,” ungkap Garin.
Makna tersebut berkaitan dengan perhatian Garin terhadap kekerasan, penderitaan, dan ketidakberdayaan manusia yang menjadi latar emosional pembuatan film.
Dalam wawancara di Tokyo pada 27 Oktober 2026, Garin hadir bersama aktor sekaligus produser Nicholas Saputra dan aktor Nagra Pakusadewo.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari rangkaian kegiatan promosi dan pengenalan film Merah Sebelum Fajar di festival internasional tersebut.
Menteri Ekonomi Kreatif Apresiasi Prestasi Film Indonesia di Tokyo
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan Merah Sebelum Fajar menembus kompetisi utama TIFF 2026.
Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan kemampuan karya sineas Indonesia untuk bersaing dalam seleksi festival film internasional.
Riefky juga menilai film Indonesia memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar produk industri kreatif dengan potensi komersial.
Film dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pengalaman, pengetahuan, dan keberagaman budaya kepada masyarakat internasional.
"Film-film Indonesia telah terbukti tidak sekadar kekayaan intelektual (IP) yang memiliki potensi bisnis, tetapi menjadi cermin dari aneka pengalaman dan pengetahuan manusia lintas negara dan lintas budaya sehingga membuka peluang bisnis strategi yang berkelanjutan," kata Riefky.
Ia menyatakan kebanggaannya atas pencapaian sineas Indonesia yang berhasil melewati proses seleksi dan masuk dalam kompetisi festival tersebut.
Keberhasilan Merah Sebelum Fajar juga menambah daftar karya Garin Nugroho yang memperoleh pengakuan melalui ajang perfilman internasional.
Dengan terpilihnya film tersebut sebagai salah satu dari 15 peserta kompetisi utama TIFF 2026, karya Indonesia kembali mendapatkan kesempatan tampil di hadapan penonton dan pelaku industri perfilman dunia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




