
Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali bersama tim gabungan melakukan pencarian terhadap dua korban yang hilang akibat tanah longsor di kawasan wisata Pelaga EcoPark, Banjar Bukit Buluk Tiying, Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Bali.
Dua korban yang masih dalam pencarian tersebut terdiri atas seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Bangkit Mubarok dan seorang warga negara asing (WNA) yang identitasnya belum diketahui.
Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana, mengungkapkan bahwa terdapat 23 tamu yang sedang menginap di kawasan Pelaga EcoPark ketika bencana tanah longsor terjadi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 21 orang berhasil menyelamatkan diri, sedangkan dua orang lainnya belum ditemukan hingga operasi pencarian pada Senin sore.
"Saat kejadian terdapat 23 tamu menginap, 21 berhasil selamat, sementara dua masih dalam pencarian, yaitu satu orang lokal atas nama Bangkit Mubarok dan satu orang asing yang identitasnya belum diketahui," kata Gede Teja di Denpasar, Senin.
Hujan Lebat Picu Longsor dan Rusak Empat Tenda Penginapan
Gede Teja menjelaskan bahwa tanah longsor di kawasan Pelaga EcoPark dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sangat lebat yang mengguyur wilayah Desa Pelaga.
Berdasarkan data BPBD Bali, curah hujan di kawasan tersebut mencapai 121 milimeter per hari sehingga meningkatkan kerawanan terjadinya tanah longsor.
Peristiwa longsor dilaporkan terjadi sekitar pukul 23.00 Waktu Indonesia Tengah (Wita) ketika para tamu sedang berada di kawasan penginapan.
Bencana tersebut mengakibatkan empat unit tenda glamping atau penginapan berkonsep berkemah dengan fasilitas modern mengalami kerusakan.
Dari empat unit tenda yang terdampak, satu unit dilaporkan hanyut terbawa material longsor.
Secara keseluruhan, kawasan wisata Pelaga EcoPark memiliki 25 unit tenda glamping yang berdiri di atas lahan seluas sekitar empat hektare.
Gede Teja mengungkapkan bahwa kawasan penginapan tersebut merupakan lahan milik I Kadek Suardika bersama tiga orang rekannya.
Lokasi wisata itu berada pada kawasan dengan topografi lereng jurang dan berdekatan langsung dengan aliran Sungai Tukad Yeh Kilap.
Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan petugas dalam melakukan pencarian dan evakuasi korban di sekitar lokasi longsor.
Basarnas Kerahkan 127 Personel dan Anjing Pelacak K9
Operasi pencarian terhadap dua korban hilang dipimpin oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Bali dengan melibatkan berbagai instansi terkait.
Sebanyak 127 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan penyisiran, pencarian korban, serta penanganan material longsor di kawasan Pelaga EcoPark.
Untuk mempermudah proses pencarian, petugas melakukan pengaturan aliran air sungai dengan menutup sebagian pintu air bendungan yang berada di bagian hulu.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi debit air yang mengalir menuju lokasi pencarian sehingga petugas dapat melakukan penyisiran dengan lebih aman dan efektif.
Selain mengatur aliran sungai, tim gabungan melakukan penyemprotan air terhadap timbunan tanah di sekitar tenda glamping yang terdampak longsor.
Petugas juga menyusuri aliran sungai hingga kawasan Bendungan Batulantang dengan jarak pencarian mencapai sekitar 500 meter dari lokasi kejadian.
Upaya pencarian diperkuat dengan pengerahan anjing pelacak K9 dari Kepolisian Daerah (Polda) Bali untuk membantu mendeteksi keberadaan korban.
Meski berbagai metode pencarian telah dilakukan, hingga pukul 17.30 Wita pada Senin, kedua korban belum berhasil ditemukan.
"Hingga pukul 17.30 Wita belum dapat menemukan korban dan operasi pencarian akan dilanjutkan besok," ujar Gede Teja.
BPBD Bali memastikan operasi pencarian akan kembali dilanjutkan pada hari berikutnya dengan melibatkan tim gabungan untuk menemukan kedua korban yang masih hilang.
Cuaca Ekstrem Picu 64 Titik Bencana di Sejumlah Wilayah Bali
Selain tanah longsor di Pelaga EcoPark, BPBD Bali mencatat cuaca ekstrem yang melanda Pulau Bali sejak malam sebelumnya telah menyebabkan berbagai kejadian bencana di sejumlah kabupaten.
Berdasarkan hasil pendataan, terdapat 64 titik kejadian bencana yang tersebar di berbagai wilayah Bali.
Jenis bencana yang dilaporkan meliputi tanah longsor, pohon tumbang, hingga kerusakan infrastruktur berupa jalan amblas.
Kabupaten Gianyar menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 15 titik, disusul Kabupaten Karangasem sebanyak 12 titik dan Kabupaten Bangli sebanyak 11 titik.
Sementara itu, Kabupaten Klungkung mencatat 10 titik kejadian bencana, sedangkan Kabupaten Badung mengalami enam titik kejadian.
Adapun Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Tabanan masing-masing mencatat lima titik kejadian akibat cuaca ekstrem.
BPBD Bali menyatakan bahwa penanganan berbagai kejadian bencana di sejumlah wilayah tersebut secara umum telah berjalan dan situasinya relatif terkendali.
Namun, operasi pencarian terhadap dua korban hilang di kawasan wisata Pelaga EcoPark masih menjadi perhatian utama tim gabungan.
"Situasi relatif terkendali, hanya di Pelaga EcoPark yang perlu pencarian korban," ucap Gede Teja.
- Penulis :
- Arian Mesa




