HOME  ⁄  Nasional

Kunjungan Gibran ke Sulbar Dinilai Perkuat Ekonomi Petani Kakao dan Toleransi Antarumat Beragama

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kunjungan Gibran ke Sulbar Dinilai Perkuat Ekonomi Petani Kakao dan Toleransi Antarumat Beragama
Foto: (Sumber :Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (ketiga kiri) berdialog dengan petani kakao saat mengunjungi Sentra Pembibitan Kakao Mamunyu di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (2/11/2026). ANTARA/HO-Setwapres.)

Pantau - Pengamat kebijakan publik M Kafrawy Saenong menilai kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Sulawesi Barat (Sulbar) menjadi langkah penting dalam memperkuat ekonomi petani kakao sekaligus menjaga toleransi antarumat beragama.

Penilaian tersebut disampaikan Kafrawy menyusul rangkaian kegiatan Gibran di Kabupaten Mamuju, Senin (2/11/2026), yang meliputi dialog bersama petani kakao dan kehadiran dalam peringatan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang.

"Dialog Wapres dengan masyarakat petani di Mamuju tentu untuk mendorong ekonomi agar stabil sesuai dengan visi pemerintahannya. Hal ini tentu juga memastikan bahwa kebijakan pertanian tepat sasaran dan tepat guna," kata Kafrawy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Menurut Kafrawy, dialog langsung dengan petani memungkinkan pemerintah mengetahui berbagai persoalan di lapangan sekaligus memastikan kebijakan pertanian berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

Gibran Serap Keluhan Petani Kakao soal Pupuk, Jalan Rusak, dan Harga Anjlok

Saat mengunjungi Sentra Pembibitan Kakao Mamunyu di Kabupaten Mamuju, Gibran berdialog dengan sekitar 300 peserta yang terdiri atas ketua dan anggota kelompok tani.

Dalam pertemuan tersebut, para petani menyampaikan sejumlah persoalan, mulai dari distribusi pupuk bersubsidi, kebutuhan bibit unggul, pengendalian hama, hingga keterbatasan sarana dan prasarana perkebunan.

Petani juga mengeluhkan kerusakan akses jalan menuju kawasan perkebunan yang menghambat pengangkutan hasil panen dan meningkatkan kesulitan pemasaran kakao.

Selain persoalan infrastruktur, anjloknya harga kakao menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap pendapatan petani.

Dalam dialog itu, petani mengungkapkan harga kakao kering saat ini berada di kisaran Rp50.000 per kilogram, jauh menurun dibandingkan harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp180.000 per kilogram.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Gibran menyatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk memastikan kelancaran distribusi pupuk bersubsidi serta pemenuhan kebutuhan peralatan pertanian.

Wapres juga menekankan pentingnya perbaikan akses jalan perkebunan agar peningkatan produktivitas kakao dapat diimbangi dengan kelancaran distribusi hasil panen menuju pasar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat, produksi kakao perkebunan rakyat di provinsi tersebut mencapai 66.100 ton sepanjang 2025.

Besarnya produksi tersebut menunjukkan potensi sektor kakao sebagai salah satu penopang perekonomian masyarakat Sulawesi Barat.

Kafrawy menilai penyelesaian persoalan petani membutuhkan koordinasi antara kementerian terkait dan pemerintah daerah agar kebijakan yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Wapres juga memiliki tugas memastikan kerja-kerja kementerian, khususnya bidang pertanian, untuk menyejahterakan masyarakat," ujar dia.

Kehadiran Gibran dalam Peringatan 100 Tahun Injil Dinilai Perkuat Toleransi

Selain menyoroti sektor pertanian, Kafrawy mengapresiasi kehadiran Gibran dalam peringatan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang yang berlangsung di Tamalea, Desa Bonehau, Kabupaten Mamuju.

Menurutnya, kehadiran pemimpin negara dalam kegiatan keagamaan masyarakat mencerminkan perhatian pemerintah terhadap pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial.

"Peringatan keagamaan 100 tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang adalah bagian dari pembelajaran toleransi bagi masyarakat," ucap dia.

Dalam kegiatan tersebut, Gibran menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga persatuan, perdamaian, dan toleransi sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Gibran juga mengapresiasi masyarakat Kalumpang yang selama ini menjaga kerukunan sekaligus melestarikan warisan budaya dan tradisi secara turun-temurun.

Kafrawy menegaskan pembangunan nasional harus memberikan ruang bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk komunitas adat, kelompok keagamaan, dan penghayat kepercayaan.

Ia menilai penghormatan terhadap keberagaman perlu berjalan seiring dengan kebijakan pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

"Sehingga, pengakuan, penghormatan, serta pembangunan masyarakat harus dilakukan secara inklusif," ujarnya.

Kafrawy berharap kunjungan kerja Gibran ke Sulawesi Barat tidak berhenti pada penyerapan aspirasi, tetapi ditindaklanjuti melalui kebijakan konkret untuk mengatasi persoalan petani dan memperkuat kehidupan sosial masyarakat.

Menurutnya, tindak lanjut pemerintah diperlukan agar penguatan ekonomi daerah dan pembangunan kehidupan masyarakat yang harmonis dapat berjalan secara berkelanjutan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026