HOME  ⁄  Nasional

Kemenekraf Tetapkan Bantul dan Padang sebagai Kandidat Kota Kreatif UNESCO 2027, Unggulkan Kriya dan Gastronomi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kemenekraf Tetapkan Bantul dan Padang sebagai Kandidat Kota Kreatif UNESCO 2027, Unggulkan Kriya dan Gastronomi
Foto: Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat konferensi pers usai audiensi dengan Panitia Seleksi Nasional terkait pengusulan dua kabupaten dan kota menjadi anggota UNESCO Creative City Network (UCCN) 2027 di Jakarta, Rabu 4/11/2026 (sumber: ANTARA/Fitra Ashari)

Pantau - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) resmi menetapkan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kota Padang, Sumatera Barat, sebagai dua perwakilan Indonesia untuk mengikuti seleksi keanggotaan UNESCO Creative City Network (UCCN) pada 2027.

Kabupaten Bantul terpilih dalam bidang Kriya dan Kesenian Rakyat (Craft and Folk Art), sedangkan Kota Padang diusulkan dalam bidang Gastronomi berdasarkan keunggulan ekonomi kreatif masing-masing daerah.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengumumkan penetapan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/11/2026), setelah kedua daerah melewati serangkaian seleksi dan penilaian nasional.

Proses seleksi berlangsung sejak Agustus hingga September 2026 melalui Panitia Seleksi Nasional (Pansel Nas) yang dibentuk dalam mekanisme koordinasi Kemenekraf sebagai penghubung nasional UCCN dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).

“Setelah melalui proses panjang dan menerima hasil penilaian dari Pansel Nas hari ini kami mengumumkan dua kota sebagai perwakilan resmi Indonesia untuk mengikuti proses seleksi UNESCO Creative City Network 2027 yang pertama Kabupaten Bantul dengan bidang Craft and Folk Art, yang kedua Kota Padang dengan bidang Gastronomi,” kata Riefky.

Pengajuan calon anggota UCCN dilakukan UNESCO setiap dua tahun sekali dengan ketentuan setiap negara hanya dapat mengusulkan maksimal dua kabupaten atau kota dari dua bidang kreativitas berbeda.

Bantul Unggulkan Industri Kriya yang Menembus Pasar Ekspor

Kabupaten Bantul dipilih karena memiliki kekuatan ekonomi kreatif berbasis kriya dan kesenian rakyat, khususnya kerajinan berbahan serat alam, batu, dan kulit yang telah menjangkau pasar internasional.

Pengembangan ekonomi kreatif Bantul juga dinilai mampu menggabungkan warisan budaya Kesultanan Mataram dengan penerapan ekonomi sirkular dan upaya restorasi ekologis.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan bahwa industri kreatif di daerahnya telah membangun jaringan perdagangan ekspor ke lebih dari 30 negara.

Kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bantul tercatat mencapai 14,77 persen, menunjukkan peran penting industri kreatif dalam menopang perekonomian daerah.

Selain memberikan kontribusi ekonomi, sektor tersebut turut mendorong pemberdayaan masyarakat dengan sekitar 45 persen perajin merupakan perempuan.

Ekosistem industri kreatif Bantul juga membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas serta meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam pengembangan kerajinan dan kesenian rakyat.

Produk unggulan Bantul antara lain kerajinan berbahan bambu, eceng gondok, pelepah pisang, pandan, pandan laut, serta kombinasi berbagai serat alam.

“Bantul secara khusus adalah serat alam terdiri dari bambu, eceng gondok pelepah pisang, pandan termasuk pandan laut dan multiserat, telah menghasilkan satu kinerja ekspor sebesar 6,71 dolar AS ke 38 negara, jadi kami yakin bahwa Craft and folk art Kabupaten Bantul ini kedepan bisa semakin kuat,” kata Abdul Halim.

Pemerintah Kabupaten Bantul optimistis pencalonan dalam UCCN 2027 dapat memperkuat posisi industri kriya lokal di pasar global sekaligus memperluas pengakuan internasional terhadap warisan budaya daerah.

Padang Andalkan Gastronomi dan Ekonomi Kuliner yang Serap 53 Ribu Tenaga Kerja

Sementara itu, Kota Padang terpilih sebagai kandidat UCCN 2027 bidang Gastronomi karena memiliki tradisi kuliner yang kuat dengan nilai sejarah, budaya, dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun.

Kekayaan gastronomi Padang juga terbentuk melalui sejarah perdagangan dan kehidupan masyarakat multietnis yang turut memengaruhi keberagaman kuliner khas daerah.

Ekosistem ekonomi kreatif dan gastronomi Kota Padang dinilai telah berkembang menjadi sistem ekonomi terintegrasi yang mampu menyerap lebih dari 53.000 tenaga kerja.

Selain memiliki pasar domestik yang kuat, Padang dinilai berpeluang memperluas ekspor produk bumbu dan bahan kuliner khas daerah ke pasar internasional.

Wali Kota Padang Fadly Amran menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan menyiapkan berbagai kegiatan kreatif untuk memperkuat posisi Padang sebagai pusat gastronomi sekaligus mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sektor kuliner menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kreatif Kota Padang, termasuk melalui kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Fadly mengungkapkan bahwa ekosistem ekonomi kreatif Kota Padang menghasilkan PAD sebesar Rp160 miliar, dengan sektor kuliner menyumbang sekitar 53 persen dari jumlah tersebut.

“Dari Rp160 miliar PAD Kota Padang di ekosistem ekonomi kreatif, 53 persennya itu adalah dari kulineri,” kata Fadly.

Pengembangan gastronomi diharapkan dapat meningkatkan daya saing kuliner Padang, memperluas akses pasar UMKM, serta memberikan dampak ekonomi lebih besar bagi masyarakat.

Kemenekraf Siapkan Pendampingan dan Dukungan Internasional

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa pencalonan Bantul dan Padang dalam UCCN 2027 tidak boleh hanya berorientasi pada pengakuan atau status internasional.

Menurutnya, keterlibatan dalam jaringan kota kreatif UNESCO harus menghasilkan manfaat ekonomi nyata, termasuk membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDRB.

Peningkatan aktivitas ekonomi kreatif daerah juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Untuk mendukung pencalonan tersebut, Kemenekraf berkomitmen memberikan pendampingan kepada Pemerintah Kabupaten Bantul dan Pemerintah Kota Padang selama menjalani proses seleksi UNESCO.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah memfasilitasi kedua daerah memperoleh surat rekomendasi dan dukungan dari kota-kota internasional yang telah tergabung dalam jaringan UCCN.

Surat rekomendasi tersebut menjadi salah satu persyaratan dukungan dalam proses pengajuan calon anggota baru UNESCO.

Kemenekraf juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memperluas komunikasi kedua kandidat dengan jaringan kota kreatif internasional melalui perwakilan diplomatik Indonesia.

“Kami akan mendampingi, memfasilitasi Bupati Bantul dan Wali Kota Padang untuk bertemu dengan Kemlu yang juga khusus untuk ekonomi kreatif dan memetakan mana dari 408 anggota UCCN yang bisa dihubungkan ke KBRI atau KJRI kita,” kata Riefky.

Koordinasi tersebut akan melibatkan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk menjalin komunikasi dengan anggota UCCN yang berpotensi memberikan dukungan kepada Bantul dan Padang.

Indonesia Berupaya Tambah Anggota Jaringan Kota Kreatif UNESCO

Sebelumnya, Indonesia telah memiliki tujuh daerah yang tergabung dalam UNESCO Creative City Network dengan berbagai bidang kreativitas.

Ketujuh daerah tersebut meliputi Kota Bandung di bidang Desain, Kota Ambon di bidang Musik, Kota Jakarta di bidang Literasi, serta Kota Malang di bidang Seni Media.

Tiga daerah lainnya adalah Kota Pekalongan, Kota Surakarta, dan Kabupaten Ponorogo yang tergabung dalam bidang Kriya dan Kesenian Rakyat.

Melalui pencalonan Bantul dan Padang, pemerintah berupaya memperluas keterlibatan daerah Indonesia dalam jaringan kota kreatif dunia sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Keikutsertaan dalam jaringan internasional tersebut juga diharapkan dapat memperluas peluang kolaborasi, meningkatkan investasi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.

Meski telah ditetapkan sebagai perwakilan resmi Indonesia, Kabupaten Bantul dan Kota Padang saat ini masih berstatus kandidat dan harus mengikuti proses seleksi UNESCO sebelum dapat ditetapkan sebagai anggota UCCN 2027.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026