
Pantau - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan atau manufaktur menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 dengan kontribusi 1,20 poin persentase dari total pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan sektor manufaktur menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dari sisi lapangan usaha, didukung permintaan pasar domestik dan internasional.
“Jadi, dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen, sebanyak 1,20 poin persentase berasal dari industri pengolahan,” kata Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Selain industri pengolahan, sektor perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, serta informasi dan komunikasi 0,49 poin persentase.
Industri Manufaktur Tumbuh 5,87 Persen
BPS mencatat sektor industri pengolahan tumbuh 5,87 persen secara tahunan pada triwulan III 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen.
Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan permintaan dalam negeri dan ekspor sejumlah produk industri.
Salah satu subsektor yang menopang kinerja manufaktur adalah industri makanan dan minuman dengan pertumbuhan sebesar 7,09 persen.
Peningkatan tersebut didorong ekspor minyak inti sawit mentah atau Crude Palm Kernel Oil (CPKO) dan produk turunan minyak sawit mentah (CPO).
Pemanfaatan minyak sawit untuk produksi biodiesel di dalam negeri juga turut mendukung pertumbuhan industri makanan dan minuman.
Sementara itu, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mencatat pertumbuhan sebesar 8,10 persen.
Kinerja sektor tersebut didorong peningkatan produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) serta pupuk menjelang musim tanam.
Industri Logam Dasar Tumbuh 9,94 Persen
Industri logam dasar mencatat pertumbuhan sebesar 9,94 persen pada triwulan III 2026.
Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan ekspor produk logam dasar bukan besi dan baja.
Beberapa komoditas yang mendukung kinerja industri logam dasar meliputi katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium.
Peningkatan ekspor produk tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional.
Perdagangan dan Konstruksi Catat Pertumbuhan Tinggi
Selain manufaktur, sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh sebesar 7,14 persen pada triwulan III 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,46 persen pada triwulan III 2025 dan 4,85 persen pada periode yang sama tahun 2024.
BPS menyebut peningkatan aktivitas perdagangan didukung penjualan kendaraan bermotor, terutama kendaraan niaga dan kendaraan listrik.
Peningkatan pasokan barang domestik, khususnya produk industri pengolahan, serta barang impor juga turut mendorong pertumbuhan sektor perdagangan.
Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh sebesar 6,42 persen, meningkat dibandingkan capaian 4,21 persen pada triwulan III 2025.
Pertumbuhan konstruksi didukung pembangunan proyek infrastruktur pemerintah dan swasta.
Sejumlah program prioritas pemerintah turut mendorong aktivitas konstruksi, termasuk pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, perumahan rakyat, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan revitalisasi sekolah.
Sektor Informasi dan Komunikasi Tumbuh 7,13 Persen
BPS juga mencatat sektor informasi dan komunikasi mengalami pertumbuhan sebesar 7,13 persen pada triwulan III 2026.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas telekomunikasi dan penggunaan layanan digital.
Peningkatan lalu lintas data, pemanfaatan pusat data, serta transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) menjadi faktor yang mendukung kinerja sektor tersebut.
Dengan kontribusi 1,20 poin persentase, industri pengolahan tetap menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi lapangan usaha dalam perekonomian Indonesia pada triwulan III 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan




