
Pantau - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memperkuat diplomasi internasional setelah Indonesia mengantongi dukungan tertulis dari 28 negara dan indikasi dukungan lisan dari 69 negara untuk pencalonan sebagai anggota Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) Kategori III.
Langkah tersebut dilakukan menjelang Sidang Majelis Luar Biasa ICAO Ke-43 yang dijadwalkan berlangsung pada 19–20 November 2026 di Montreal, Kanada.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah terus meningkatkan koordinasi lintas kementerian untuk memastikan dukungan internasional terhadap pencalonan Indonesia.
"Menjelang Sidang Majelis Luar Biasa ICAO Ke-43 yang akan berlangsung pada 19–20 November 2026 di Montreal, Kanada, Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Luar Negeri memperkuat kolaborasi dan langkah diplomasi," kata Dudy di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Penguatan koordinasi tersebut salah satunya dilakukan melalui rapat yang diselenggarakan di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Indonesia Berpeluang Kembali Duduki Dewan ICAO Setelah Puluhan Tahun
Indonesia sebelumnya pernah menjadi anggota Dewan ICAO selama 12 periode berturut-turut, yakni sejak 1962 hingga 2001.
Peluang Indonesia untuk kembali menjadi anggota Dewan ICAO terbuka setelah jumlah kursi dalam organisasi penerbangan sipil internasional tersebut bertambah dari 36 menjadi 40 negara.
Penambahan kursi itu memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk kembali terlibat dalam pengambilan keputusan strategis terkait kebijakan penerbangan sipil global.
"Pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO merupakan momentum penting bagi Indonesia untuk kembali berperan dalam pengambilan keputusan strategis pada bidang penerbangan sipil internasional," ujar Dudy.
Untuk memperbesar peluang tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai pendekatan diplomatik melalui forum internasional, pertemuan bilateral, serta komunikasi langsung dengan sejumlah negara anggota ICAO.
Dalam rangkaian diplomasi itu, Indonesia menyampaikan empat pesan utama yang menjadi dasar pencalonannya sebagai anggota Dewan ICAO.
Pertama, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus salah satu pasar penerbangan terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Kondisi geografis dan tingginya aktivitas penerbangan nasional dinilai memberikan pengalaman penting bagi Indonesia dalam mendukung pengembangan penerbangan sipil internasional.
Kedua, Indonesia memiliki komitmen dan rekam jejak dalam ICAO melalui berbagai kegiatan teknis, program peningkatan kapasitas, serta partisipasi dalam inisiatif penerbangan regional dan global.
Ketiga, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penghubung antarkawasan, termasuk antara negara maju dan berkembang serta berbagai pemangku kepentingan industri penerbangan.
Keempat, Indonesia menyatakan kesiapan untuk terus berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan prioritas strategis ICAO, khususnya pengembangan penerbangan sipil internasional yang selamat, aman, dan berkelanjutan.
Indonesia Kantongi 28 Dukungan Tertulis dan 69 Dukungan Lisan
Hingga Jumat (6/11/2026), Indonesia telah memperoleh dukungan tertulis dari 28 negara serta indikasi dukungan secara lisan dari 69 negara untuk pencalonannya sebagai anggota Dewan ICAO.
Perolehan tersebut menjadi modal diplomasi pemerintah menjelang pemilihan, meskipun dukungan lisan yang diterima masih perlu dipastikan agar terwujud dalam proses pemungutan suara.
Dudy mengapresiasi perkembangan dukungan internasional tersebut, tetapi mengingatkan bahwa waktu menuju pemilihan semakin terbatas.
"Perkembangan ini tentunya patut kita apresiasi. Namun waktu menuju pemilihan semakin dekat," tutur Dudy.
Menhub meminta seluruh pihak terkait meningkatkan intensitas dan efektivitas diplomasi agar potensi dukungan dari negara-negara anggota ICAO dapat diwujudkan menjadi suara nyata bagi Indonesia.
Upaya tersebut melibatkan sinergi antara Kemenhub, Kemenlu, serta seluruh Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri untuk mengoptimalkan komunikasi dengan negara-negara anggota ICAO.
Kemenhub Optimalkan Dokumen Diplomatik untuk Galang Dukungan
Selain memperkuat komunikasi bilateral, Dudy menekankan pentingnya mengoptimalkan penggunaan Aide Memoire sebagai instrumen diplomasi dalam pencalonan Indonesia.
Aide Memoire merupakan dokumen diplomatik yang memuat informasi dan poin-poin utama mengenai posisi, komitmen, rekam jejak, serta kontribusi Indonesia apabila terpilih menjadi anggota Dewan ICAO.
Dokumen tersebut digunakan sebagai bahan komunikasi kepada negara-negara sahabat untuk memperkuat pemahaman mengenai alasan Indonesia layak memperoleh kursi di Dewan ICAO.
Melalui pendekatan yang lebih intensif dan terkoordinasi, pemerintah berupaya memastikan dukungan yang telah diperoleh dapat dipertahankan hingga proses pemilihan berlangsung.
Pemerintah juga berharap kolaborasi lintas kementerian dan perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri dapat memperbesar peluang Indonesia kembali menduduki kursi Dewan ICAO setelah terakhir menjadi anggota pada 2001.
Keanggotaan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pembahasan dan pengambilan keputusan strategis terkait kebijakan penerbangan sipil internasional.
Selain itu, Indonesia berkomitmen meningkatkan kontribusinya dalam mendukung sistem penerbangan sipil global yang selamat, aman, dan berkelanjutan.
- Penulis :
- Arian Mesa




