HOME  ⁄  Nasional

UNESCO Akui Naskah Bo' Sangaji Kai sebagai Warisan Ingatan Dunia Asia Pasifik

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

UNESCO Akui Naskah Bo' Sangaji Kai sebagai Warisan Ingatan Dunia Asia Pasifik
Foto: Kepala Museum Samparaja Bima, Dr. Dewi Ratna Muchlisa, memaparkan naskah kuno Bo' Sangaji Kai milik Kesultanan Bima dalam forum Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) UNESCO di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Pantau - Naskah kuno Bo' Sangaji Kai milik Kerajaan dan Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), resmi mendapat pengakuan internasional setelah ditetapkan dalam Memory of the World Register for Asia and the Pacific (MOWCAP) UNESCO pada 5 November 2026.

Pengakuan tersebut menegaskan nilai penting manuskrip Bo' Sangaji Kai sebagai sumber pengetahuan sejarah yang merekam kehidupan masyarakat Bima sejak berabad-abad lalu.

Naskah tersebut memuat berbagai catatan mengenai pemerintahan, hukum, perdagangan, kehidupan sosial, hingga peristiwa letusan Gunung Tambora pada April 1815.

Kepala Museum Samparaja Bima Dr. Dewi Ratna Muchlisa menyambut penetapan tersebut sebagai pencapaian penting dalam upaya menjaga warisan dokumenter masyarakat Bima.

"Alhamdulillah, harapan dan mimpi Bo' Sangaji Kai mendapatkan MoW UNESCO akhirnya terwujud," kata Dewi, Minggu (8/11/2026).

Dewi yang merupakan keturunan Sultan Bima XIV Muhammad Salahuddin menilai pengakuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Bima telah memiliki tradisi pengetahuan dan pemikiran yang berkembang sejak masa lampau.

Bo' Sangaji Kai Rekam Sejarah Kesultanan Bima

Bo' Sangaji Kai berasal dari dua istilah dalam bahasa Bima yang memiliki keterkaitan dengan tradisi pemerintahan kerajaan.

Kata Bo' berarti buku, sedangkan Sangaji Kai merupakan gelar bagi Raja Bima sebelum kerajaan tersebut berubah menjadi kesultanan.

Dengan demikian, Bo' Sangaji Kai dapat dimaknai sebagai kitab catatan kerajaan dan Kesultanan Bima.

Tradisi pencatatan sejarah masyarakat Bima pada awalnya dilakukan menggunakan daun lontar dengan bahasa serta aksara Bima atau Mbojo.

Pada masa pemerintahan Sultan Abil Khair Sirajuddin yang dimulai pada 1645, tradisi penulisan berkembang dengan penggunaan bahasa Melayu dan aksara Arab.

Manuskrip tersebut memuat berbagai peristiwa yang berlangsung sejak abad ke-17 hingga abad ke-19.

Catatan Letusan Tambora Jadi Sumber Sejarah

Salah satu bagian penting dalam Bo' Sangaji Kai adalah dokumentasi mengenai letusan Gunung Tambora pada April 1815.

Letusan tersebut menjadi salah satu peristiwa vulkanik besar dalam sejarah yang dampaknya meluas hingga memengaruhi iklim dan kehidupan masyarakat di berbagai wilayah dunia.

Catatan dalam manuskrip tersebut memberikan perspektif masyarakat lokal yang berada dekat dengan pusat peristiwa.

Melalui Bo' Sangaji Kai, sejarah letusan Tambora tidak hanya dapat dipelajari dari laporan peneliti atau penjelajah asing, tetapi juga melalui dokumentasi masyarakat Bima sendiri.

Keberadaan catatan tersebut memperlihatkan pentingnya tradisi literasi lokal dalam merekam peristiwa bersejarah.

Manuskrip Memuat Hukum hingga Tradisi Maritim

Selain mencatat letusan Tambora, Bo' Sangaji Kai juga menyimpan informasi mengenai sistem hukum dan tata kelola masyarakat Kesultanan Bima.

Dewi menjelaskan manuskrip tersebut memuat hukum bandar Bima, hukum adat pertanahan, serta Undang-Undang Laut Malaka.

Dokumentasi tersebut memperlihatkan hubungan masyarakat Bima dengan aktivitas perdagangan dan perkembangan tata kelola maritim pada masa lampau.

Naskah itu juga merekam kehidupan sosial serta kebudayaan masyarakat, termasuk tradisi Hanta Ua Pua yang masih dikenal hingga sekarang.

Beragam catatan dalam Bo' Sangaji Kai menjadikannya sumber kajian lintas disiplin, mencakup sejarah, politik, ekonomi, agama, pertanian, kehutanan, geografi, hingga perbintangan.

Pengakuan UNESCO melalui MOWCAP memberikan perhatian internasional terhadap nilai dokumenter manuskrip yang diwariskan masyarakat Bima lintas generasi tersebut.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026