
Pantau - Anak-anak berusia mulai dari empat tahun yang tergabung dalam Perkumpulan Pencinta Seni Tari (PPST) Kencana Mas menyuarakan kepedulian terhadap kerusakan hutan dan bencana kabut asap melalui pementasan dramatari "Swara Ibu: Nyanyian dari Hutan" di Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata, Jakarta Pusat, Minggu (8/11/2026).
Pertunjukan tersebut mengangkat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui sudut pandang anak-anak yang merasakan dampak kerusakan lingkungan.
Ketua PPST Kencana Mas sekaligus penulis dan sutradara dramatari, Ryan A. Syakur, mengatakan keterlibatan anak-anak bertujuan menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian hutan sejak usia dini.
"Mereka merasakan kualitas udara yang buruk dari Kalimantan sampai ke sini (Jakarta), dan mereka membaca pula kejadian di Papua serta daerah lainnya, asapnya bahkan bisa menyebabkan sesak," ujar Ryan seusai pementasan.
Ryan menjelaskan gagasan pertunjukan tersebut dikembangkan berdasarkan tanggapan anak-anak ketika diajak berdiskusi mengenai kebakaran hutan dan bencana kabut asap.
Cerita Hutan Diangkat dari Sudut Pandang Anak
Ryan mengatakan konsep dramatari "Swara Ibu: Nyanyian dari Hutan" disusun dengan mempertahankan cara pandang anak-anak terhadap persoalan lingkungan.
Para pelatih mengajak peserta berdiskusi mengenai kondisi hutan serta dampak kebakaran yang dapat dirasakan masyarakat.
Jawaban dan reaksi anak-anak kemudian diolah menjadi naskah pertunjukan dengan gambaran hutan hijau dan hutan gersang.
"Fokus komunikasi dari pementasan seni budaya ini tetap berada pada sudut pandang anak-anak," kata Ryan.
Menurut dia, metode pelatihan dilakukan secara menyenangkan dengan mengutamakan kenyamanan peserta ketika berkumpul dan berlatih menari di sanggar.
Ketertarikan anak-anak terhadap seni tari juga membantu proses latihan dan pemilihan karakter dalam pertunjukan.
Anak-anak Perankan Satwa Penghuni Hutan
Pementasan tersebut menghadirkan berbagai karakter satwa, antara lain kijang, semut, kera, dan kupu-kupu.
Salah satu tokoh yang ditampilkan adalah kupu-kupu biru bernama Lumi yang diperankan oleh Zeynep Zafria Ardi.
Pertunjukan juga menghadirkan karakter Rarimpi yang diperankan Jasmina Budiani.
Sementara itu, tokoh Rarampa atau Cenik dimainkan oleh Gisela Dahayu Locita Jati.
Selain melibatkan pemeran anak-anak, dramatari tersebut turut menghadirkan sejumlah pemeran dewasa untuk mendukung kebutuhan cerita.
Tokoh raksasa Kalagana diperankan oleh I Gusti Ngurah Udi Utawan, sedangkan Diana Listyarini memerankan Dewi Alas.
Perpaduan karakter anak-anak dan dewasa digunakan untuk menggambarkan cerita mengenai kehidupan hutan serta ancaman kerusakan lingkungan.
Dinas Kebudayaan DKI Apresiasi Pementasan
Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Retno Setiowati menyambut positif keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan yang mengangkat pesan pelestarian lingkungan.
Retno menilai pendidikan mengenai pentingnya menjaga hutan perlu diperkenalkan kepada masyarakat sejak usia dini.
"Senang banget karena bisa melihat anak-anak kecil bisa berpartisipasi, karena memang sejujurnya Indonesia ini memang membutuhkan pendidikan dari awal ya. Jadi, memang dari anak-anak kecil harusnya sudah dilatih untuk menyadarkan mereka akan pentingnya hutan," kata Retno.
Melalui pementasan tersebut, PPST Kencana Mas memadukan kegiatan seni budaya dengan pengenalan persoalan lingkungan kepada anak-anak.
Dramatari "Swara Ibu: Nyanyian dari Hutan" menjadi sarana bagi peserta untuk menyampaikan kepedulian terhadap kelestarian hutan melalui gerakan tari dan peran yang mereka tampilkan.
- Penulis :
- Gerry Eka




