HOME  ⁄  News

Kisah Warga Aceh Bangkit Pascabanjir, Sambut Lebaran dengan Sederhana

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kisah Warga Aceh Bangkit Pascabanjir, Sambut Lebaran dengan Sederhana
Foto: (Sumber: Foto udara warga penyintas bencana melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 H di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh. Sabtu (21/3/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nym.)

Pantau - Tim ANTARA melakukan peliputan kondisi pascabencana banjir di Aceh menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026 yang menunjukkan proses pemulihan dan keteguhan masyarakat.

Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Medan, lalu dilanjutkan ke Aceh Tamiang untuk melihat langsung kondisi pascabencana.

Tim mengunjungi RSUD Muda Sedia yang sebelumnya viral saat banjir dan menjadi tempat bertahan pasien serta tenaga medis.

Empat bulan setelah bencana, aktivitas di rumah sakit mulai pulih dan sebagian bangunan telah diperbaiki.

Tim juga mendatangi Desa Sekumur di wilayah pedalaman yang mengalami kerusakan parah akibat banjir.

Untuk mencapai lokasi, tim harus menyeberangi Sungai Tamiang menggunakan rakit sederhana.

Seorang warga, Mukhtar Sulaiman, membuat sampan dari kayu sisa banjir untuk membantu masyarakat.

Ia mengatakan, "Ini saya gunakan sebagai sedekah saya untuk masyarakat ini, karena mereka cukup banyak menolong kami dari luar, mengapa kita tidak bisa?"

Mukhtar juga melantunkan, "Tuhan, dosa apakah yang kami perbuat selama ini, hingga akhirnya Kau menurunkan musibah ini?"

Warga lain, Nursiah, membangun kembali rumahnya bersama suami dengan memanfaatkan kayu sisa banjir.

Ia mengatakan, "Sebelum Lebaran ini maunya, biar kumpul anak cucu. biar gabung di sini. Biarpun makan kayak mana, yang penting ngumpul."

Perjalanan berlanjut ke Dusun Rantau Panjang Rubek di Desa Sijudo, Aceh Timur, tempat 46 kepala keluarga bertahan pascabencana.

Warga menyambut tim dengan hangat dan bersama-sama membuat makanan khas Lebaran, timpan.

Zuraida mengatakan, "Setelah bencana, sering kami kumpul kumpul untuk masak bersama dan kali ini menyambut Lebaran, kami membuat kue bersama sama."

Suasana kebersamaan terlihat saat warga berbuka puasa bersama di ruang terbuka dengan kondisi sederhana.

Malam takbiran dilakukan dengan berjalan keliling desa sambil membawa obor.

Jahidin mengatakan, "Ini pelajaran agar kita lebih bersujud lagi kepada Allah, Pohon pohon pinang itu saja bersujud karena banjir yang merupakan kuasa Allah. Kita sebagai manusia seharusnya lebih dari itu."

Salat Idul Fitri dilaksanakan di tanah lapang dengan fasilitas sederhana.

Meski berada dalam keterbatasan, warga tetap merayakan Lebaran dengan penuh keikhlasan dan harapan untuk bangkit dari bencana.

Penulis :
Gerry Eka