
Pantau - Menteri Kesehatan Republik Demokratik Kongo Roger Kamba memperingatkan bahwa wabah Ebola baru di Provinsi Ituri melibatkan strain Bundibugyo yang memiliki tingkat kematian tinggi dan risiko penyebaran signifikan.
“Strain Bundibugyo tidak memiliki vaksin maupun pengobatan khusus,” kata Roger Kamba.
Ia menambahkan strain tersebut memiliki tingkat kematian sangat tinggi yang dapat mencapai 50 persen.
Republik Demokratik Kongo pada Jumat 15 Mei 2026 mengumumkan wabah Ebola baru di Ituri yang menjadi wabah ke-17 sejak tahun 1976.
Hingga 15 Mei 2026 tercatat 246 kasus dugaan dan 80 kematian termasuk empat kematian dari kasus terkonfirmasi positif.
Institut Nasional untuk Riset Biomedis mengonfirmasi virus Ebola dalam sampel yang diuji disebabkan strain Bundibugyo.
Tim Kesehatan Dikerahkan ke Wilayah Perbatasan
Tim kesehatan telah dikerahkan untuk melacak kontak kasus terkonfirmasi dan mengendalikan penyebaran penyakit di Ituri, provinsi tetangga, serta wilayah perbatasan.
Uganda pada Jumat juga mengonfirmasi satu kasus impor yang melibatkan warga negara Kongo yang meninggal dunia di Kampala.
“Ini merupakan penyakit yang menular dari manusia ke manusia. Zona kesehatan Mongwalu yang terdampak merupakan kawasan perdagangan dengan mobilitas tinggi, sehingga membuat Kivu Utara, Tshopo, Uganda, dan Sudan Selatan terpapar risiko,” ujar Roger Kamba.
Warga Diminta Waspadai Gejala Ebola
Menurut Kamba, strain Bundibugyo memiliki gejala berbeda dibanding strain Zaire.
Penyakit tersebut biasanya diawali demam sementara tanda-tanda perdarahan muncul kemudian.
Otoritas kesehatan meminta warga segera melaporkan kasus dengan gejala seperti demam, muntah, kelelahan, atau perdarahan.
“Strain Bundibugyo tidak memiliki vaksin maupun pengobatan khusus. Namun, untuk penanganannya, RD Kongo siap dan memiliki kapasitas, keahlian, serta sarana untuk menghadapi wabah tersebut,” kata Roger Kamba.
- Penulis :
- Gerry Eka





