HOME  ⁄  News

Fatayat NU Peringati Harlah ke-76 dengan Soroti Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Fatayat NU Peringati Harlah ke-76 dengan Soroti Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Foto: (Sumber: Peringatan Hari Lahir ke-76 Fatayat Nahdlatul Ulama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (17/5/2026). ANTARA/HO-Fatayat PBNU.)

Pantau - Pimpinan Pusat Fatayat NU memperingati Hari Lahir ke-76 organisasi di Masjid Istiqlal, Jakarta, sebagai momentum memperkuat pengabdian perempuan Nahdliyin bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Sekretaris Umum PP Fatayat NU Ela Siti Nuryamah menegaskan Fatayat NU membuktikan peran nyata perempuan melalui pemberdayaan di berbagai bidang.

"Fatayat hadir bukan hanya sekadar membuat klaim, tetapi membuktikan diri melalui langkah konkret pemberdayaan perempuan di berbagai bidang, mulai keagamaan, kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi," ungkap Ela.

Peringatan Harlah ke-76 Fatayat NU juga dirangkai dengan mengenang 40 hari wafatnya Ketua Umum PP Fatayat NU almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah.

Ela menyebut perjalanan Fatayat NU selama 76 tahun dibangun melalui kerja kader di berbagai lini kehidupan masyarakat.

Menurutnya, kader Fatayat NU hadir di tengah masyarakat melalui pendampingan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi perempuan.

Fatayat NU Dinilai Punya Peran Strategis

Ela mengatakan kekuatan utama Fatayat NU terletak pada kader yang terus bergerak di tingkat akar rumput.

Militansi kader dinilai menjadi modal penting menjaga keberlangsungan perjuangan organisasi di tengah perubahan zaman.

"Potensi dan aset Fatayat adalah kader-kader yang tangguh, loyal, dan teruji di lapangan. Hujan panas, siang malam, Fatayat tetap hadir melakukan kaderisasi dan pengabdian di seluruh penjuru tanah air," kata Ela.

Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan KemenPPPA Andi Majdah M. Zain menyoroti tingginya persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, pengasuhan digital, hingga kesehatan mental generasi muda.

Menurut Andi Majdah, Indonesia membutuhkan organisasi perempuan yang mampu menjawab tantangan sosial secara nyata.

"Fatayat NU sejak awal menunjukkan bahwa perempuan muslim dapat menjadi ulama, pendidik, penggerak sosial, pendamping masyarakat, penjaga nilai keislaman, sekaligus pemimpin perubahan," ujarnya.

Kekerasan Perempuan dan Anak Jadi Sorotan

Andi Majdah menyebut tantangan perempuan dan anak saat ini semakin kompleks mulai dari kekerasan, perkawinan usia anak, perdagangan orang, stunting, hingga kesehatan mental dan pengasuhan di ruang digital.

Fatayat NU dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkuat perlindungan sosial berbasis komunitas dan keluarga.

"Indonesia membutuhkan perempuan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berani. Bukan hanya terdidik, tetapi peduli. Bukan hanya aktif di organisasi, tetapi mampu menjadi solusi," ungkap Andi Majdah.

Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Perempuan Tahun 2024, satu dari empat perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya.

Sementara berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Tahun 2024, satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan.

Data tersebut disebut menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus ditangani secara serius dan berkelanjutan.

Penulis :
Gerry Eka