HOME  ⁄  News

Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Ikut Serang Houthi di Yaman Usai Bandara Riyadh Jadi Sasaran Rudal dan Drone

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Ikut Serang Houthi di Yaman Usai Bandara Riyadh Jadi Sasaran Rudal dan Drone
Foto: Arsip foto - Foto selebaran yang diberikan oleh Pusat Media Houthi ini menunjukkan peluncuran misil yang diduga ke arah Mocha di Yaman, Minggu (9/8/2026).

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan Arab Saudi dalam serangan militer terhadap kelompok Houthi di Yaman setelah serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat dalam operasi terhadap Houthi.

“Mungkin. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru mengetahui serangan terbaru ini. Kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat.” kata Trump.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Arab Saudi setelah sejumlah serangan menyasar fasilitas penerbangan sipil dalam beberapa hari terakhir.

Trump Buka Peluang Amerika Serikat Bergabung dalam Serangan terhadap Houthi

Trump belum memastikan apakah Amerika Serikat akan mengambil tindakan militer langsung terhadap kelompok Houthi.

Namun, ia menegaskan pemerintahannya sedang mempertimbangkan langkah yang akan diambil setelah menerima informasi mengenai serangan terbaru di Riyadh.

Kemungkinan keterlibatan Washington muncul setelah kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap bandara di Arab Saudi.

Bandara Internasional King Khalid menjadi salah satu sasaran serangan yang menyebabkan gangguan terhadap aktivitas penerbangan.

Pemerintah Arab Saudi juga telah menghadapi sejumlah serangan terhadap fasilitas bandara dan pesawat komersial dalam beberapa hari terakhir.

Serangan Houthi Ganggu Operasional Bandara Internasional Riyadh

Bandara Internasional King Khalid di Riyadh sempat menghentikan operasionalnya pada Sabtu (10/10/2026) setelah menjadi sasaran serangan.

Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi menyatakan serangan terjadi pada Sabtu sore dan menyebabkan sejumlah orang terluka.

Saat pernyataan awal dikeluarkan, otoritas masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah korban.

Gangguan keamanan tersebut membuat aktivitas penerbangan di bandara internasional ibu kota Arab Saudi sempat dihentikan sementara.

Otoritas penerbangan kemudian menyatakan kegiatan operasional bandara telah dilanjutkan dan lalu lintas udara kembali normal.

Tiga Orang Dilaporkan Tewas dalam Serangan Sebelumnya

Sebelum serangan pada Sabtu, otoritas Arab Saudi telah melaporkan korban jiwa akibat serangan terhadap fasilitas penerbangan di Riyadh.

Pada Jumat (9/10/2026), pemerintah Saudi menyatakan tiga orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya terluka akibat dua serangan yang terjadi pada Kamis (8/10/2026).

Serangan tersebut menargetkan fasilitas di Bandara Internasional King Khalid dan pesawat milik Saudi Arabian Airlines.

Dalam beberapa hari terakhir, kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak terhadap bandara-bandara di Arab Saudi.

Rangkaian serangan tersebut meningkatkan perhatian terhadap keamanan fasilitas penerbangan sipil di negara tersebut.

Kedutaan AS dan Inggris Imbau Warganya Menghindari Bandara Riyadh

Menyusul serangan pada Sabtu, Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Inggris di Arab Saudi mengeluarkan imbauan keamanan kepada warga negara masing-masing.

Kedua perwakilan diplomatik tersebut meminta warganya menghindari Bandara Internasional King Khalid setelah serangan terjadi.

Imbauan dikeluarkan dengan mempertimbangkan risiko keamanan serta kemungkinan gangguan perjalanan akibat situasi di kawasan bandara.

Peringatan tersebut menjadi bagian dari langkah perlindungan warga negara asing di tengah meningkatnya serangan terhadap fasilitas penerbangan Arab Saudi.

Konflik Houthi dan Arab Saudi Berlangsung Sejak 2015

Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi berkaitan dengan konflik berkepanjangan di Yaman.

Kelompok Houthi merebut kendali ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi di Yaman pada September 2014.

Perkembangan tersebut kemudian mendorong koalisi militer pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi pada Maret 2015.

Koalisi tersebut memasuki konflik untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Sejak saat itu, konflik Yaman melibatkan berbagai pihak dan terus memengaruhi keamanan kawasan.

Di tengah kembali meningkatnya serangan terhadap Arab Saudi, keputusan mengenai kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat masih berada dalam tahap pertimbangan pemerintahan Trump.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026