
Pantau - Indonesia untuk pertama kalinya dalam lebih dari enam dekade gagal lolos ke fase gugur Piala Thomas 2026 setelah kalah 1-4 dari Prancis di Forum Horsens, Denmark.
Kekalahan Penentu di Laga Krusial
Kekalahan tersebut menjadi penentu tersingkirnya Indonesia di fase grup setelah menghadapi tekanan tinggi pada laga terakhir Grup D.
Indonesia yang datang sebagai unggulan sempat memimpin klasemen usai meraih kemenangan 5-0 atas Aljazair dan 3-2 atas Thailand.
Situasi berubah ketika Thailand mengalahkan Prancis dengan skor 4-1 sehingga memperketat persaingan klasemen.
Laga melawan Prancis pun menjadi penentuan posisi juara grup, runner-up, hingga risiko gugur bagi Indonesia.
Prancis menunjukkan ambisi besar dengan menurunkan Christo Popov di sektor tunggal dan ganda.
Jonatan Christie kalah dari Christo Popov dengan skor 19-21, 14-21.
Alwi Farhan juga takluk dari Alex Lanier dengan skor 16-21, 19-21.
Anthony Sinisuka Ginting kalah dramatis dari Toma Junior Popov dengan skor 22-20, 15-21, 20-22.
Tiga kekalahan di sektor tunggal membuat posisi Indonesia semakin sulit untuk bangkit.
Pasangan ganda Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani turut kalah dari Eloi Adam dan Leo Rossi dengan skor 19-21, 19-21.
Kekalahan tersebut memastikan Indonesia tidak dapat mengejar ketertinggalan poin dari Prancis.
Satu-satunya kemenangan Indonesia diraih pasangan Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri yang menang atas pasangan Popov bersaudara dengan skor 21-18, 19-21, 21-11.
Rekor Panjang Terhenti dan Evaluasi Besar
Hasil ini menjadi momen bersejarah karena sejak debut tahun 1958 Indonesia selalu lolos ke fase kompetitif Piala Thomas.
Pemain Prancis Eloi Adam menyatakan, "Ini mungkin kemenangan paling penting dalam sejarah kami."
Kemenangan Prancis sekaligus menunjukkan perubahan peta persaingan bulu tangkis dunia dengan munculnya kekuatan baru.
Kegagalan Indonesia dipengaruhi berbagai faktor seperti tekanan pertandingan, performa yang tidak stabil, dan kehilangan momentum.
Indonesia dinilai memiliki pemain berkualitas, namun turnamen beregu membutuhkan kekompakan tim dan mentalitas kolektif yang kuat.
Hasil ini menjadi pengingat bahwa tradisi besar harus dijaga melalui pembinaan, regenerasi, serta adaptasi terhadap perkembangan persaingan global.
- Penulis :
- Shila Glorya





