
PANTAU - Tim nasional Qatar mencatat sejarah baru setelah meraih poin pertama mereka di ajang Piala Dunia melalui hasil imbang 1-1 melawan Swiss pada laga Grup B di Stadion San Francisco Bay Area, Amerika Serikat, berkat gol bunuh diri bek Swiss Miro Muheim pada masa tambahan waktu.
Qatar Cetak Sejarah dengan Raihan Poin Perdana
Qatar menyamakan kedudukan pada menit ke-90+4 melalui gol bunuh diri Miro Muheim setelah sebelumnya tertinggal akibat gol penalti Breel Embolo pada menit ke-17.
Hasil tersebut membuat Qatar untuk pertama kalinya memperoleh satu poin sepanjang sejarah partisipasinya di Piala Dunia.
Pencapaian itu disambut meriah oleh para pemain, suporter, dan masyarakat Qatar sebagai tonggak penting bagi perkembangan sepak bola nasional.
Pada penampilan perdana di Piala Dunia 2022 sebagai tuan rumah, Qatar gagal meraih poin setelah selalu kalah di fase grup.
Raihan satu poin di Piala Dunia 2026 dinilai sebagai buah dari pembangunan sepak bola yang telah dilakukan negara tersebut selama lebih dari dua dekade.
Aspire Academy Jadi Fondasi Pembinaan Talenta Muda
Dengan jumlah penduduk sekitar tiga juta jiwa, pemerintah Qatar mengembangkan strategi pembinaan atlet melalui pendirian Academy for Sports Excellence yang kemudian dikenal sebagai Aspire Academy pada 2004.
Lembaga tersebut bertugas mencari, membina, dan mengembangkan bakat muda di berbagai cabang olahraga, termasuk sepak bola, tenis meja, atletik, anggar, dan skuas.
Aspire Academy menyediakan pembinaan dan pendidikan secara gratis bagi atlet muda terpilih yang berstatus student-athletes.
Untuk cabang sepak bola, akademi tidak membuka pendaftaran umum karena seluruh peserta dipilih melalui proses pencarian bakat dan seleksi yang ketat.
Setiap tahun lebih dari 4.000 pesepak bola berbakat berusia delapan hingga 18 tahun masuk dalam radar pemantauan, sementara hanya sekitar 40 orang yang memperoleh pembiayaan penuh hingga usia 18 tahun.
Para pemain muda mendapatkan fasilitas latihan berstandar internasional, pelatih profesional, pembinaan berbasis sains olahraga, dukungan gizi dan kesehatan, pendidikan menengah, serta kesempatan menghadapi tim-tim luar negeri untuk menambah pengalaman bertanding.
Direktur Teknik Aspire Academy Edorta Murua mengatakan, “Tujuan kami adalah merekrut pemain dan membuat mereka menjadi lebih baik. Itu adalah visinya. Akademi ini membawa kami melangkah ke depan serta menjadi penghubung antara klub dan tim nasional. Kami melihat ke masa depan.”
Strategi pembinaan melalui Aspire Academy dinilai menjadi salah satu model pengembangan olahraga yang berkontribusi terhadap kemajuan sepak bola Qatar dan dapat menjadi referensi bagi negara lain.
- Penulis :
- Gerry Eka





