
Pantau - Petenis Filipina Alexandra Eala menciptakan kejutan besar pada babak ketiga Wimbledon 2026 setelah menyingkirkan juara bertahan Iga Swiatek dengan skor 7-6(9), 6-2 di Centre Court untuk memastikan langkah bersejarah ke babak keempat turnamen Grand Slam.
Eala Cetak Sejarah untuk Filipina
Unggulan ke-29 itu memenangi set pertama yang berlangsung sengit selama 84 menit melalui tie-break sebelum mendominasi set kedua dan menutup pertandingan pada match point ketiganya.
Eala mengatakan, "Saya berhasil mencapai pekan kedua Grand Slam dan ini luar biasa bagi saya. Iga adalah pemain yang luar biasa dan pribadi yang sangat baik."
Eala juga mengungkapkan, "Bagi orang yang tumbuh besar di Filipina, yang setiap hari berlatih bersama kakak dan kakeknya dengan kaus kaki berenda, sepatu yang menyala, dan pipi tembam, ini adalah segalanya."
Kemenangan tersebut menjadikan Eala sebagai petenis Filipina pertama yang mencapai babak keempat turnamen Grand Slam.
Sebelum mencatatkan prestasi tersebut, Eala belum pernah menjadi unggulan di turnamen Grand Slam, belum pernah menembus babak ketiga, serta belum pernah mengalahkan petenis peringkat 10 besar dunia di ajang Grand Slam.
Eala mendedikasikan kemenangan bersejarah itu kepada rakyat Filipina, keluarganya, dan generasi muda yang memiliki cita-cita besar.
Eala mengatakan, "Kemenangan ini saya persembahkan untuk mereka, keluarga saya, dan semua anak perempuan kecil yang memiliki mimpi besar."
Meski demikian, Eala menegaskan belum puas dengan pencapaiannya.
Eala menyatakan, "Mari lanjut ke babak berikutnya."
Swiatek Gagal Pertahankan Gelar Wimbledon
Swiatek mengawali pertandingan dengan baik setelah langsung mematahkan servis lawannya, namun Eala mampu bangkit, menyamakan kedudukan, dan memenangi tie-break pada set pertama.
Kepercayaan diri Eala meningkat pada set kedua, sementara Swiatek kesulitan menemukan ritme permainan dan mencatatkan total 44 unforced error.
Kekalahan tersebut membuat Swiatek gagal mempertahankan gelar Wimbledon yang diraihnya pada musim sebelumnya.
Hasil itu juga mengakhiri peluang Swiatek menjadi petenis putri pertama yang mampu mempertahankan gelar Wimbledon sejak Serena Williams pada 2016.
Swiatek mengatakan, "Alexandra bermain lebih berani pada momen-momen penting."
Swiatek menambahkan, "Saya berusaha tetap fokus pada set kedua, tetapi servisnya semakin lambat sehingga semakin sulit untuk saya antisipasi."
- Penulis :
- Gerry Eka





