
Pantau - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID memperluas program hilirisasi bauksit dengan mengembangkan logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) untuk menciptakan sumber nilai ekonomi baru dari pengolahan mineral di Indonesia.
Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan menyatakan kemampuan memisahkan LTJ dari mineral ikutannya menjadi salah satu kunci agar Indonesia dapat masuk sebagai negara pengolah logam tanah jarang.
“Jika Indonesia mampu memisahkan LTJ dari mineral ikutannya secara ekonomis dan efisien, sesungguhnya Indonesia sudah menjadi negara pengolah LTJ,” kata Dany.
Seiring berkembangnya hilirisasi mineral, MIND ID menilai rantai pasok industri perlu semakin diperkuat melalui optimalisasi potensi yang terdapat pada setiap tahapan proses pengolahan mineral.
Produk Hilirisasi Bauksit Tembus Pasar Global
Dalam pengembangan hilirisasi bauksit, MIND ID telah melepas sebanyak 3.013,5 ton Alumina Hydroxide dan 1.740 ton Alumina Oxide atau Chemical Grade Alumina (CGA).
Produk tersebut diberangkatkan melalui Pelabuhan Dwikora di Pontianak, Kalimantan Barat, untuk dikirim ke sejumlah pasar internasional, yakni Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Tiongkok.
Pengiriman itu menjadi momentum yang menunjukkan produk bernilai tambah hasil hilirisasi bauksit Indonesia telah mampu menjangkau pasar global.
Setelah mengembangkan produk hilirisasi bauksit, MIND ID membidik LTJ karena unsur tersebut berpotensi ditemukan tidak hanya pada mineral alami, tetapi juga pada berbagai sumber non-konvensional.
Sumber non-konvensional yang berpotensi mengandung LTJ antara lain residu pengolahan bauksit, terak nikel, serta produk samping dari proses pengolahan timah.
MIND ID Dorong Kepastian Regulasi LTJ
Meski memiliki potensi ekonomi, pengembangan LTJ masih membutuhkan kepastian regulasi karena sejumlah unsur tersebut dapat hadir hanya sebagai unsur ikutan dengan kadar sangat rendah.
Dany berharap pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dapat menetapkan ambang batas kandungan yang jelas dan proporsional untuk membedakan LTJ sebagai mineral utama dengan LTJ yang hanya menjadi unsur ikutan dalam komoditas ekspor.
“Kepastian tersebut penting karena keberadaan LTJ dalam kadar rendah tidak serta-merta menjadikan suatu komoditas layak diekstraksi sebagai produk LTJ. Unsur seperti serium dan lantanum, misalnya, dapat ditemukan hingga satuan part per million (ppm),” jelas Dany.
Dengan demikian, keberadaan unsur LTJ dalam sebuah komoditas tidak otomatis membuat komoditas tersebut ekonomis atau layak diproses untuk menghasilkan produk logam tanah jarang.
Tingkat kandungan LTJ menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kelayakan ekstraksi unsur tersebut.
Susun Peta Jalan Teknologi Pengolahan LTJ
Untuk membangun kemampuan pengolahan LTJ di dalam negeri, MIND ID bekerja sama dengan Badan Industri Mineral (BIM) serta mendapat dukungan dari BRIN.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyusun peta jalan teknologi pengolahan dan pemurnian LTJ secara nasional.
Peta jalan itu juga mencakup pemetaan berbagai sumber bahan baku LTJ di Indonesia serta identifikasi teknologi yang diperlukan untuk melakukan pengolahan dan pemurniannya.
Pengembangan industri LTJ dipandang strategis karena material tersebut dibutuhkan berbagai sektor industri masa depan dan industri berteknologi tinggi.
Sejumlah sektor yang membutuhkan LTJ antara lain industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik, serta manufaktur berteknologi tinggi.
Dengan mengembangkan kemampuan pengolahan dan pemurnian LTJ, MIND ID berupaya memperluas hilirisasi mineral dari sekadar menghasilkan produk turunan bauksit menuju pemanfaatan unsur bernilai tambah yang terdapat dalam mineral maupun residu pengolahannya.
MIND ID juga menempatkan kolaborasi antarpemangku kepentingan sebagai bagian penting dalam pembangunan ekosistem industri LTJ nasional.
“MIND ID terus membuka ruang kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kemandirian industri nasional sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia,” kata Dany.
- Penulis :
- Arian Mesa



